Cerpen karya Rula Abiyya


"Bendera Hitam"

" Kau pasti bercanda?" Satu kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut kami ketika mendengar sebuah tantangan tak masuk akal itu.
Besok Distrik Bintang akan mengadakan perlombaan untuk memperingati kematian pemimpin mereka yang tewas dalam perang . Perlombaan yang Depan seorang anak berumur 12 tahun juga tidak tahu jelas teknisnya seperti apa. Hanya panitia dan peserta saja yang mengetahuinya. Perlombaan ini dilakukan 2 tahun sekali dan berbeda judul disetiap tahunnya, dan tahun ini perlombaannya diberi nama 'Bendera Hitam'.
" Depan cepat kemari, pak Lay mencari mu dari tadi." Teriak Zen panik.
Depan berhenti dan memilih diam saja di tanah yang ia pijaki, tak berminat sedikitpun kakinya melangkah mendekati Zen . Ya Depan tau kenapa Pak Lay mencarinya maka dari itu sedari tadi Depan bersembunyi dibalik pepohonan. Melihat Zen hanya menatapnya saja Depan dengan gesit berlari lagi menuju tempat persembunyiannya.
" Ya ampun anak itu, hei Depan jangan kesana kau akan dapat masalah!" Yap tepat sekali Depan memang akan dapat masalah, pasalnya saat Depan berlari ia menabrak tubuh seseorang yang tak lain adalah Pak Lay.
" Depan kau memang ceroboh, jangan berusaha lari lagi dariku ingat!"
" Pak kumohon aku tidak ingin mengikuti lomba yang tak jelas itu, bagaimana jika aku mati atau terbunuh apa bapak akan bertanggung jawab?" Depan sangat tidak mau mengikuti perlombaan itu, pasalnya ia belum pernah mendengar ada yang menang dalam perlombaan tak jelas tersebut.
" Kau sudah berulang kali mengatakan itu apa tidak ada alasan lain? Dan percuma saja kamu menolak nama mu sudah terdaftar di perlombaan besok." Pak Lay sangat bahagia melihat ekspreksi kesal dari Depan.
 " Ekspreksimu membuat ku tak sabar menunggu hari esok datang. Semoga berhasil nak buatlah pemimpin distrik mu ini bangga. Oh dan ingat pesanku ini ya 'jangan mudah percaya pada fakta yang belum kau ketahui'. Pesan itu menjadi penutup dari percakapan mereka, keduanya langsung pergi begitu saja dan bersiap menghadapi hari esok.
Sorak pendukung terdengar heboh di luar ruangan peserta dan itu membuat Depan semakin gugup saja. "Apa - apaan ini menjengkelkan sekali." Gumam Depan pada dirinya.
" Ayo semua berkumpul, 15 menit lagi kalian akan keluar dan siap untuk bertanding. Sebelum itu semua peserta akan diberi tahu bagaimana teknisnya jadi pasang telinga kalian baik-baik." Jelas Bu Alis selaku panitia.

" Saya akan membacakan peraturan terlebih dahulu.
Peraturan perlombaan:
1. Peserta tidak diperbolehkan melakukan tindakan curang, kekerasan dan semacamnya.
2. Peserta harus memakai pakaian yang sudah panitia siapkan.
3. Peserta tidak boleh bekerja sama dengan peserta lainnya dalam hal apapun.
Selanjutnya saya akan menjelaskan teknis perlombaan.
Teknis perlombaan sederhana saja kalian hanya diminta untuk mencari 5 bendera yang tersebar di Hutan Bayangan. 5 bendera itu masing masing berwarna putih, kuning, biru, merah dan hitam. Dan waktu kalian hanya diberi satu jam saja untuk menemukan ke 5 bendera tersebut. Mudah sekali kan."
" Apa?! Perlombaan macam apa itu apa ia pikir hutan bayangan itu kebun kecil hah?! Tak masuk akal sekali." Gerutu Depan diakhir penjelasan bu Alis. Tanpa permisi pak Lay menambahkan penjelasan yang sebelumnya sudah disampaikan oleh bu Alis.
 " Tunggu masih ada yang belum kalian ketahui dari perlombaan ini. Kalian bisa dengan mudah menemukan 4 bendera itu tapi tidak dengan bendera satunya yang berwarna hitam. Baiklah saya akan membocorka nya sedikit, bendera hitam itu terletak di tempat yang tidak terpikirkan oleh kalian, saat kalian ingin mengambil bendera hitam itu kalian tak butuh senjata atau apapun cukup keberanian saja yang kalian butuhkan. Karena tempat si hitam ini susah dijangkau. Banyak sekali hewan penghisap darah dan tumbuhan beracun, jika kalian tidak hati-hati kalian tahu sendiri apa akibatnya." Penjelasan pak Lay ini membuat semua peserta diam sejenak, mungkin butuh waktu untuk mencerna perkataan pemimpin distrik gila ini. Tak lama kemudian semua peserta terkekeh secara serentak " Kau pasti bercanda?!" gila ini benar - benar gila dan lagi lagi tak masuk akal.
Pak Lay apa aku boleh mengundurkan diri saja?" Tera mengangkat tangannya pasrah. Dalam benaknya ia tidak ingin mati sekarang. Ibu tolong aku.
" Tentu tidak tera kau tidak bisa lari pada ibumu kali ini."
" Apa kau ingin mengurangi populasi anak anak lucu di distrik bintang ini?" Ucap Leo spontan.
" Apa? Hahaha melihat kalian seperti ini aku semakin tak sabar memulainya. Oke 15 menit sudah berlalu mari kita lihat apakah akan ada pemenang di tahun ini?" Tanpa basa basi Pak Lay mengibarkan bendera hijau tanda perlombaan telah dimulai.
"Putih.... Kuning.... Biru.. Ya ampun ini mudah sekali aku kira pak Lay akan meletakkan bendera satu dengan yang lainnya berjauhan, nyatanya ia meletakkan hanya berjarak 15 meter saja. Jika seperti ini kenapa tahun tahun yang lalu tidak ada yang menang? Entahlah lebih baik aku mencari 2 bendera yang tersisa saja." Ucap Depan dengan semangat, ia pikir ini menyenangkan juga ia salah telah berpikir perlombaan ini tak menarik.
Semakin jauh Depan memasuki Hutan Bayangan ini namun belum menemukan 2 bendera yang tersisa itu.
"Hey itu dia bendera merahnya, cukup jauh juga si merah ini diletakkan." Depan langsung mengambil bendera merah itu. Tapi tak disangka ia sudah memasuki daerah pesisir pantai yang lumayan jauh dari distriknya. Tanpa ancang-ancang depan melangkah keluar dari hutan menuju sisi pantai karena ia dapat melihat bendera hitam itu terlerak di batu besar. Peserta lain pun ternyata sudah menunggu di sisi pantai mereka hanya diam karena takut mengambil si hitam yang notabenenya terletak hampir di tengah pantai.
"Benar aku tak terpikir bendera itu akan diletakan di air." Ucap Zen takjub.
 "Kenapa kau tidak mengambilnya Zen? Dengan begitu kau akan menang." Ucap depan pada Zen.
 "Apa kau lupa pesan dari pak Lay? ia bilang tempat menuju bendera itu berbahaya banyak hewan penghisap dan tumbuhan beracun! Bagaimana saat aku berenang kesana aku mati Pan?" mendengar kata pesan, Depan jadi ingat pesan lain dari pak Lay 'jangan mudah percaya pada fakta yang belum kau ketahui'. Ya benar mungkin saja pak Lay membohongi para peserta, tidak ada yang tahu jika tidak ada yang mencoba. Tanpa ragu depan melepaskan ransel serta sepatunya dan langsung berenang menuju si hitam.
"Depan jangan kesana kau bisa mati, Depan aku tidak mau kehilangan mu hiks.." Tangis Zen pecah.
Setelah kejadian nekat Depan berenang menuju bendera hitam, pak Lay mengumumkan sang pemenang.
" Mari kita sambut pemenang pertama kita Depan." Sorakan penonton terdengar ricuh melihat depan berhasil memegang bendera hitam. Semuanya tidak menyangka Depan akan memenangkan perlombaan ini. Bagaimana bisa?
" Depan kau hebat apakah kau bertarung dengan hewan penghisap darah itu?" Kata Tera penasaran.
" Tidak ada apa-apa disana semuanya aman."
" Ya benar tidak ada apa-apa didalam sana." Ucap pak Lay memotong pembicaraan Depan dan Tera.
 " Selama ini aku membohongi para peserta dengan iming-iming itu. Aku menguji kalian apakah kalian percaya begitu saja pada ucapan ku yang belum kalian ketahui faktanya, aku juga menguji keberanian para peserta sudah sejauh mana." Jelas pak Lay.
" Benar juga aku jadi menyesal mempercayai mu pak Lay, kenapa tidak bilang dari awal saja?" Protes Leo.
 " Justru itu tantangan nya leo. Bapak hanya berpesan jangan mudah percaya dengan perkataan orang lain. Intinya kalian harus berani mencoba karena jika kalian hanya percaya tanpa mencoba itu sangat sia-sia nak."
Ya dengan penjelasan dari Pak Lay para peserta baru mengerti tujuan dari perlombaan ini. Ayo cobalah jangan takut.
Tamat



" Buku untuk Ibu "



Tanpa permisi langit biru digantikan begitu saja oleh sang senja. Jika senja sudah datang begini Syifa, anak semata wayangnya itu sudah duduk santai menoton televisi ditemani teh hangat kesukaannya. Tapi tidak untuk hari ini, tak biasanya Syifa pulang telat seperti ini, Syifa selalu mengabarinya terlebih dahulu jika ada sesuatu, tapi hari ini ia tidak dikabari anaknya sama sekali.

Ting tong... Ting tong... Bunyi bel rumah terdengar nyaring. Di benak Bu Selena pasti itu Syifa. Ya insting seorang ibu memang tak salah saat pintu di buka nampak lah anak satu satunya itu dengan ekspreksi senang, tak biasanya.

" Assalamualaikum ibu." Ucap Syifa sembari mencium tangan ibunya.

" Kenapa kamu baru pulang nak? Dan kenapa tidak mengabari ibu jika akan pulang telat seperti ini? Ibu benar-benar khawatir."

" Maafkan Syifa telah membuat ibu khawatir seperti ini, hp Syifa tadi mati jadi tidak bisa mengabari ibu." tutur Syifa merasa bersalah kepada sang ibu.

" Yasudah tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya. Sekarang ganti bajumu, ibu akan menunggu di meja makan." Titah ibu pada Syifa. Makan malam sudah siap, tinggal menunggu Syifa keluar dari kamarnya.

" Ibu perhatikan sepertinya kamu lagi senang apa terjadi sesuatu?" Ibu sangat penasaran makanya ia bertanya. Aneh saja melihat anaknya dari tadi senyum-senyum sendiri.

" Ibu tahu tidak, tadi Nana bilang jika tulisan ku sudah diterima oleh penerbit, belum ada kabar sih tapi aku tak menyangka tulisan ku bisa diterima." Percikan kebahagian Syifa sepertinya tidak berhasil mengenai ibu, karena saat mendengar itu ibu benar-benar menahan amarahnya. Ibu mencoba bersikap santai menanggapi Syifa, tak sopan jika ibu mengamuk di depan makanan, itu bukan contoh yang bagus.

" Jadi kamu pulang telat gara-gara itu? Ibu curiga kau tidak mengabari ibu karena terlalu sibuk dengan tulisan apalah itu ibu tidak tahu tak jelas." Tenang sekali ibu membalas pernyataan Syifa tapi entah kenapa perkataan nya tetap tajam.

" Bukan seperti itu bu hp ku memang mati, jika ibu belum menerima maaf Syifa tak seharusnya ibu menyebut tulisan ku tak jelas."

" Apa kamu lupa pesan ibu dari dulu, kamu itu tidak boleh menulis! Jangan buang waktumu hanya untuk tulisan fiktif mu Syifa! Sebentar lagi kau akan lulus SMA fokus kan dirimu untuk mendaftar kedokteran. Hidup seorang penulis itu tak jelas, jika buku yang dibuat buat tak laku dipasaran mau makan apa? Kertas? Itu tidak cukup!" Emosi ibu tidak bisa ditahan lagi, bagaimana tidak ibu selalu mengingatkan anak itu jangan menulis lagi tapi ia tak pernah mendengarkannya. Perkataan ibu seperti angin yang tidak dipedulikan sama sekali.

" Ibu kumohon jangan paksa aku. Aku tidak ingin jadi dokter itu bukan keahlian ku! Aku ingin menjadi seorang penulis bu aku tau yang terbaik untuk diriku sendiri kedepannya."
" Ibu bilang tidak ya tidak kamu sudah berani melawan ibu mu hah?! Ibu selalu tau mana yang terbaik untuk anaknya. Paham?! Sekali lagi ibu mendengar kau ingin jadi penulis tak segan ibu membawa mu tinggal bersama paman." Tak mau membentak ibunya, Syifa berlari menuju kamar sambil tak kuasa menahan air matanya yang sudah berceceran.

" Ya ampun tak seharusnya aku membentak Syifa sperti itu. Tapi nak ini yang terbaik untukmu ibu tahu."

Akibat kejadian malam itu, sudah beberapa hari ini ibu dan Syifa tak saling menyapa. Keduanya hanya berbicara jika ada perlunya saja. Suasana dirumah ini benar-benar kaku karena keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Sudah lebih dari 3 hari ibu dan Syifa tak saling menyapa, dan mau tak mau akhirnya ibu mengalah. Ia sangat rindu suara anaknya itu, ia juga rindu candaan mereka saat senja.

"Tok.. Tok.. Tok.. Syifa ayo kita makan ibu sudah membuat makanan kesukaan mu." ketukan ibu belum juga dibalas dengan pintu terbuka. Ini aneh suara didalam kamar Syifa hening sekali seperti tidak ada penghuninya. Sekali dua kali berkali kali ibu mengetuk pintu kamar Syifa tapi nihil tetap tak ada jawaban dari anak itu. Terpaksa ibu membuka kamarnya menggunakan kunci cadangan.
 " Syifa kenapa kam.." Belum sempat melanjutkan perkataan nya ibu sudah dikejutkan dengan kamar Syifa yang rapih dan tak berpenghuni.
" Kemana anak itu sepertinya dari kemarin ia berada dikamar terus. Dua hari yang lalu aku masih melihatnya mengambil makan.Ya ampun apa jangan-jangan anak itu.." Dugaan ibu terhenti sejenak ketika melihat secarik kertas coklat diatas kasur Syifa.

' Bu maafkan syifa beberapa hari ini tidak menyapa ibu sama sekali, itu karena aku kecewa dengan ibu. Aku tidak meminta uang, hp baru, baju dan lainnya yang aku ingin kan hanya satu bu dukungan ibu itulah keinginan terbesar ku selama ini. Aku ingin sekali ibu mendukung ku menjadi seorang penulis tapi sepertinya sulit bagi ibu melakukan itu. Entah berapa lama aku akan meninggalkan rumah, aku benar-benar minta maaf bu. Aku tahu sifat ku ini masih kekanakan tapi ada alasan tertentu aku melakukan ini semua. Ku harap untuk kali ini saja ibu mengerti. Jangan khawatirkan aku bu aku akan baik-baik saja dan kelak saat aku tiba di rumah aku janji ibu pasti akan bangga kepada anak mu ini.
Salam Syifa.'

Lagi - lagi insting seorang ibu taakan meleset, benar saja syifa kabur dari rumah. Diantara sedih dan kecewa yang ibu rasakan saat ini, kenapa Syifa nekat melakukan hal ini? Jika ayahnya tahu pasti Syifa akan dapat masalah. Nasi telah menjadi bubur ibu tak bisa melakukan apa-apa kecuali menunggu dan ikut dalam permainan yang anaknya buat.

Berminggu minggu telah berlalu begitu cepat. Dan ibu belum mendapat kabar sama sekali dari anak gadis nya itu. Jujur saja ibu sangat merindukan Syifa ia benar benar penasaran sedang apa anaknya sekarang sudah makan atau belum, dan sebenarnya apa yang gadis itu rencanakan. Disela sela lamunan, ibu mendengar suara khas dari lonceng sepeda siapa lagi jika bukan pak Wandi pengantar koran di komplek ini. Karena bosan ibu pun membaca koran. Biasanya ibu sama sekali tidak tertarik membaca koran, jika disuruh memilih ibu lebih suka menonton berita di tv daripada membaca koran yang tak berwarna. Membosankan.

" Penulis muda berbakat." ibu membaca judul yang ada dihalaman pertama koran tersebut. Entah kenapa seperti ada bisikan bahwa ibu harus membacanya. Di sana tertulis penulis muda ini membuat cerita tentang sang ibu, ceritanya menarik dengan bahasa yang mudah dimengerti, menyentuh sekali, rencananya buku ini akan resmi diterbitkan Sabtu ini dan penulis akan ikut serta mempromosikannya. Dan juga tertulis dimana sang penulis akan mempromosikan buku ini. Jangan sampai ketinggalan.
" Keren sekali anak muda ini, aku jadi penasaran apa isi bukunya. Karena banyak yang bilang bagus Sabtu ini aku akan kesana dan membelinya." Sekejap ibu melupakan soal Syifa yang ingin jadi seorang penulis.

Sesuai yang tertera di koran lalu, hari ini ibu akan pergi ke penerbitan buku 'Sahabat hidup' ya ternyata itu judul buku tersebut. Kebetulan sekali ketika ibu baru sampai sang penulis pun baru memulai promosinya. Dari jauh ibu seperti tak asing melihat gadis muda berbakat itu.

" Tak salah lagi aku seperti mengenal sekali gadis itu, tapi kenapa buram ya apa ada masalah dengan lampu disini." Beberapa menit ibu menalaah gadis itu tapi tetap saja buram. Satu detik, dua detik, beberapa detik akhirnya pikiran ibu mulai menemui titik terang.

" Ya ampun aku baru sadar tidak memakai kacamata. Pasti ada di tas." Setelah ibu memakai kacamata betapa terkejutnya ibu melihat Syifa anaknya berada di sana. Ya ternyata penulis muda berbakat itu adalah anaknya yang sudah sangat ia rindukan. Bangga, terharu, bingung bersatu padu di benak ibu. Syifa menceritakan sedikit mengenai buku yang ia tulis. Katanya buku ini diambil dari kisah ibu dengan dirinya, bagaimana sang ibu bisa memainkan beberapa peran dalam drama hidupnya. Bisa menjadi seorang ibu, kakak, teman, sahabat, musuh. Mendengar cerita singkat itu Bu Selena tak kuasa menahan air matanya ternyata selama ini Syifa selalu mengingatnya. Tanpa Ibu sadar seseorang memanggil nya.

" Ibu yang di pojok sana Ibu Selena. Ia adalah ibuku." Tutur Syifa di akhir penjelasan mengenai bukunya. Syifa sudah menyadari sejak awal ibu nya berada disana ia hanya pura-pura tidak tahu. Syifa berharap dengan ini ibunya bisa menerima jika ia akhirnya memilih menjadi seorang penulis bukan seorang dokter sesuai keinginan sang ibu.

Ibu benar-benar tak menyangka anak gadisnya itu akan melakukan hal tersebut. Tangisan pun tak bisa ditahan lagi air sudah dengan sempurna membasahi pipinya.

' Ya benar syifa selama ini benar. Ia tahu mana yang terbaik untuk masa depannya, menjadi penulis adalah pilihan yang terbaik. Mungkin selama ini aku selalu berpikir, aku seorang ibu selalu tahu mana yang terbaik untuk anaknya. Tapi nyatanya tidak semua harus berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Di detik ini juga aku tak boleh bersikap egois, aku tak bisa mengatur syifa dengan keinginan ku semata. Setiap mimpinya, keinginan nya akan selalu aku dukung. Aku tak berhak mencampuri mimpinya lagi, aku sebagai seorang ibu tak mau menghambat kesuksesan dan pilihan Syifa. Karena semua ini yang menjalaninya Syifa bukan dirinya. Tugas ku sekarang menjadi suporter sejati dari anak ku dan mendukung semua mimpi dan cita-cita nya.'


Tamat

 





" Surat Terakhir "


Suka pada seseorang. Hal itu sudah lumrah dikalangan anak muda pada masa ini, bahkan anak SD dan SMP pun sudah merasakannya. Begitu pula dengan Risa, suka kepada seseorang sering ia rasakan tapi tidak dengan pacaran. Ya seumur hidupnya hingga sekarang ia sudah duduk di bangku SMA Risa belum pernah pacaran. Terkadang ia merasa miris dengan anak - anak jaman sekarang, yang badannya saja masih kecil tapi sudah mengerti apa itu pacaran. Terlepas dari itu Risa merasa bangga bisa masuk kalangan minoritas di antara remaja. Yang tak lain dan tak bukan adalah tak pernah 'Pacaran'.
" Alhamdulillah aku masih polos." Kalimat itu sering dilontarkan Risa jika ada yang mengatainya. Tapi gara - gara kepolosan itu Risa juga sering disakiti oleh orang yang ia sukai. Belum berpengalaman. Seperti saat itu ketika, Ana sahabatnya mengenalkan ia dengan Aris.
" Sa aku sudah menemukan penyemangat sekolah untukmu. Namanya Aris dia anak Alam 5, tak hanya tampan ia juga aktif di banyak eskul seperti PMR, Paskibra dan PKS. Kamu pasti suka." Tutur Ana panjang lebar.
" Yang mana sih orangnya? Aku hanya pernah mendengar namanya saja, tapi orang nya aku tidak tahu."
" Nanti aku tunjukkan jika orangnya ada." Risa hanya iya iya saja dengan pilihan Ana. Toh memang benar ia sedang mencari penyemangat sekolah.
Tak ada guru menjadi surga dunia bagi kelas Risa Alam 1. Ia bisa bebas melakukan apa saja seperti saat ini, Risa memilih mengobrol bersama Ana, Ina, Endi dan Ijal. Disela sela lawakan Ina, Ana dengan tak sopannya membahas Aris yang istilahnya akan di jodohkan oleh Risa. Karena kebetulan Endi adalah teman akrab Aris.
" Kalian tahu tidak sekarang Risa lagi menyukai Aris." Ucap Ana seenaknya. Mau tak mau serbuan kata 'Cie' masuk kedalam telinga Risa.
" Sa aku punya kontak mamah nya Aris, mau chattan ga? Mamahnya Aris orangnya asik kok." Kata Endi disertai kekehannya.
" Tidak, tidak untuk apa? Aku saja belum mengenal Aris." Protes Risa. Tanpa sepengetahuan Risa dengan teganya Ina mengetik pesan kepada mamah Aris di hp Endi. Sadis nya lagi Ina mengetik " Mamah Aris ini Risa. Risa suka sama Aris." Nekat memang sahabatnya ini kompak mengerjai Risa. " Sebelum deketin anaknya, deketin dulu mamahnya." Ina benar - benar sudah gila. " Eh mamahnya sudah membalas katanya, Tidak apa-apa jika kalian dekat asalkan saling memotivasi." Kata Ijal antusias. Mereka semua memang keterlaluan.
Berlalu lah kejadian itu. Dari kemarin Risa belum juga mengetahui yang namanya Aris. Pernah pada saat itu Ana menunjukkan Aris tapi ia tidak melihatnya terlalu jelas. Sampai akhirnya saat Risa menemani Ana ke toilet secara tak sengaja, ia berpapasan dengan Aris. Ya dan disitulah Risa mulai menyukai Aris.
Hari demi hari Aris selalu mengunjungi kelas Alam 1, katanya ingin bertemu dengan Endi. Kunjungan rutin Aris ke kelasnya membuat Risa salah tingkah, jantungnya selalu berdetak tak normal jika Melihat Aris. Dan itu pertanda rasa suka Risa semakin bertambah.
" Risa sini ada Aris lohh" Kata Endi mengompori. Sudah tau jika di ejek begitu Risa semakin malu dan tak bisa mengontrol perubahan warna pipinya yang menjadi merah semu.
" Jika kamu malu terus, kapan bisa dekat dengan Aris? Payah sekali. Hmm kalau begitu aku tantang kamu, jika kami berhasil aku akan traktir. Bagaimana?" Risa pun tertarik dengan tantangan Ina. Lumayan perutnya bisa kenyang tanpa mengeluarkan uang.
" Baik aku terima tantangan mu, jika aku berhasil kamu harus menepati janji yang kau ucapkan tadi ya!"
" Siapa takut, buktikan dulu!"
Tantangan yang lumayan berat memang tapi apa boleh buat Risa telah menerimanya, mau tak mau harus dilakukan. Ide pun muncul di benak Risa, sepertinya akan bagus jika ia membuatkan roti saja untuk Aris. " Ya kurasa roti ide bagus." Rasa percaya diri nya sudah tingkat dewa sekali. Ia yakin pemberiannya ini akan diterima. Namun rasa percaya diri itu tak bertahan lama. Esoknya nyali Risa tiba - tiba menghilang begitu saja entah kemana seperti, tulisan yang terhapus. Benar-benar hilang.
" Ya ampun ini bukan ide bagus. Aku harus bagaimana? Kenapa tiba-tiba aku jadi tak percaya diri begini? Padahal semalam aku yakin bisa melakukannya! Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau melakukannya!" keluhan demi keluhan di senandungkan pada dirinya sendiri. Ia jadi menyesal kenapa pula waktu itu dia menerima tantangan dari si licik Ina. Dasar Ina menyebalkan. " Risa cepat diluar ada Aris kau harus memberikan roti itu sekarang!" Ana menarik narik tangan Risa agar ia segera memberikan roti itu. " Iya iya tapi jangan di tarik seperti ini aku jadi semakin gugup."
" Oke aku lepaskan. Cepat kami melihatmu dari sini, semoga berhasil." kata Ana sembari melepaskan tarikan nya pada tangan Risa.
Oke aku bisa. " Eh ada Aris." Ucap Risa berbasa basi.
" Eh ada Risa juga." Balas Aris.
Ya ampun aku harus bertanya apa lagi? Sial seribu sial. Ia terus memyumpahi dirinya sendiri yang kelewat bodoh. Tapi Aris benar-benar sang penyelamat, tanpa aba-aba Aris dengan sendirinya bertanya pada Risa. " Risa kamu bawa apa?"
Tanpa berpikir panjang dengan polosnya Risa memberi kantong kecil berisikan roti itu pada Aris. " Ah ini untukmu cepat ambil."
" Apa? Ini apaan? Kenapa tiba-tiba memberikan ini? Jadi merepotkan."
" Buka saja nanti juga tahu." Entah polos atau kelewat polos Aris membuka isinya begitu saja saat itu juga. Ya Tuhan kenapa ia membukanya sekarang, ingin rasanya Risa kabur tapi ia tahu itu bukan ide bagus.
" Oh roti, aduh aku jadi tidak enak. Ini sangat merepotkan." Ucap Aris tak enak. " Tidak merepotkan sama sekali kok. Silahkan dimakan."
" Tapi aku tidak mau makan sendiri. Kau juga ikut makan oke?" Apa apaan itu? Perkataanya membuat Risa seperti dihujani permen kapas. Benar-benar manis. " Ah baiklah." Keren. Bukan-bukan, tapi sangat keren. Risa dapat melakukan tantangan dari Ana.
Setelah kejadian roti itu Aris semakin bersikap baik kepada Risa. Bahkan beberapa kali Aris bersama Endi menemani Risa sampai Ayah Risa menjemputnya. Respon baik Aris padanya membuat Risa nyaman. Tak pernah ia merasakan suka terhadap seseorang sampai begini. Aris memang berbeda.
Tapi semua itu lagi-lagi tak bertahan lama. Disaat Risa sudah sangat menyayangi Aris, bahkan para sahabatnya pun bilang jika Aris juga tertarik dengan Risa. Pernyataan itu hanya sebuah kebohongan. Ternyata oh ternyata Aris bersikap baik dan merespon baik pula kepada Risa, itu semua hanya karena Aris tidak enak dengan Risa yang juga baik padanya. Aris bingung harus berbuat apa pada Risa. Jadi mau tidak mau ia melakukan itu. Bahkan Risa pun dibuat terkejut dengan ucapan sahabat lain Aris yaitu Nazir.
" Ya jadi Aris sudah lebih dulu dekat dengan Lili sebelum Aris dekat dengan mu Risa. Aku sudah bilang pada Aris untuk memilih salah satu diantara kalian tapi waktu itu ia masih saja bingung. Sampai akhirnya Aris pun memutuskan lebih memilih Lili bukan karena apa-apa, tapi memang Aris sudah lebih mengenal Lili dibandingkan dengan mu. Risa aku benar - benar minta maaf telah mengatakan ini. Tapi disisi lain aku juga harus mengatakan kebenarannya, aku tidak mau jika nantinya melihat mu tersakiti oleh Aris. Jadi aku mengatakannya sekarang agar kamu bisa melupakan dia dengan mudah." Penuturan Nazir sudah sangat jelas di telinga Risa. Ia pun sudah jelas harus melalukan apa, yup merelakan Aris bersama yang lain.
" Ahh jadi begitu lucu sekali. Terimakasih berkat mu aku jadi tau kebenarannya, dengan begitu aku jadi tak usah berharap lagi dengan Aris. Sekali lagi terima kasih." Ucap Risa menahan sakit di hatinya. Ya hati Risa seperti ditusuk oleh ribuan anak panah benar-benar sakit.
Keseokan harinya Risa memutuskan menulis surat untuk Aris.
 Assalamualaikum Aris.
Maaf jika selama ini aku merepotkan mu dan membuat mu tak nyaman dengan segala tingkah ku yang begini. Maaf jika aku selalu membuat Aris merasa bingung, tapi itu tidak akan Aris rasakan lagi. Kamu pasti tahukan kalau aku menyukai mu, tapi aku mohon jika kamu awalnya sudah dekat dengan orang lain tak seharusnya kamu merespon baik semua perlakuan ku. Itu sama saja kamu seperti memberi harapan kosong. Terima kasih sebelumnya telah berbuat baik kepadaku. Dan sekali lagi Risa benar - benar minta maaf.
Ya itu menjadi sura terakhirnya untuk Aris. Ia tak mau lagi berhubungan dengannya. Jujur saja Risa adalah tipe orang yang tak mau lagi berurusan dengan orang yang pernah menyakitinya seperti ini. Teman ya aku bisa menjadikannya teman. Tapi hanya sebatas teman saling mengenal saja tak lebih.

Dengan kejadian itu Risa jadi banyak belajar, ia tak boleh terlalu berharap dengan manusia yang entah bisa mengabulkan harapannya atau tidak. Tuhan, hanya kepada-Nya kami berharap, tak ada yang lain selain Dia. Dan kejadian itu juga membuat Risa sekarang ingin sekali menjaga hatinya agar tak mudah menyukai orang lain. Risa merasa kesal dengan perbuatannya dulu, ia baru sadar ternyata dulu ia mudah sekali di bodohi dengan orang-orang. Menyesal? Tidak, tak perlu disesali apa yang telah terjadi, toh kejadian itu juga nyatanya membawa sebuah pelajaran agar kita tak mengulanginya lagi dan bisa berhati-hati. Bahkan Risa merasa senang jika ia melakukan kesalahan. Karena kesalahan dapat membuat nya bisa menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Sekarang tujuan Risa adalah membahagiakan orang - orang yang dia sayangi, melanjutkan cita-cita nya menjadi seorang Dokter, bukan melanjutkan cinta cinta yang tak jelas. Toh Risa pun masih SMA perjalanan nya masih panjang, untuk apa memikirkan hal-hal yang hanya membuang waktu berharganya. Biarkan jodoh datang dengan izin Tuhan. Karena Tuhan tak akan memberi kita jodoh yang salah.

Tamat





Anna dan Dunianya

Timepin itu pun berhasil di rebut oleh Roger dari pedang perak milik Oamus...
Peluru demi peluru di tembakan kearah para pemberontak yang menentang percobaan 'humans'......
Sumur tanpa ujung itu akhirnya membawa sang gadis ke tempat yang asing nan indah. Sejenak ia berpikir apa ia masih berada di dunia nyata?....
Yups itulah kebiasaan ku jika sedang bosan dan merasa sendiri. Berkhayal. Peri, kerajaan, kehancuran dunia, percobaan aneh, dunia paralel, menjadi topik yang selalu terlintas di kepala ku. Aku merasa seperti hidup di dua dunia 'Real life'  dan 'fiction life'. Nyata? Tentu itu semua hanya dongeng semata tapi, tidak denganku aku merasa mereka nyata dan hanya beberapa orang saja yang tahu bagaimana rasanya. Tapi entah secara perlahan aku mulai tenggelam dalam dunia fiksi ini dan mulai di cap sebagai anak aneh. Kenalkan namaku Anna si gadis 'tak waras'. Katanya.
Kringg.....kringg....
Tepat pukul 10.00 am bel waktunya istirahat berbunyi. Para murid berhamburan keluar dari sarangnya berlomba menduduki bangku kantin. Begitu juga dengan ku dan kedua sahabat ku Moana dan Joana. Mereka tahu betul kebiasaan ku itu dan syukur nya mereka dapat menerima aku apa adanya, tak peduli dengan cemoohan orang - orang yang menganggap mereka berdua berteman dengan orang tak waras.
"Anna apa telinga mu tidak lelah mendengar terus cemoohan dari mereka? Aku saja yang mendengarnya risih." Ucap Moana tak tahan mendengar bisikan bangku tetangga sebelah.
"Tidak. Aku tidak peduli dengan mereka, terserah saja mereka mau menilaiku seperti apa karena ini memang diriku. Lumayan juga kan aku jadi terkenal disini, ahh aku berasa artis yang sedang di gossip kan oleh paparazzi." Balas Anna dengan santai agar kedua sahabat nya ini tak perlu khawatir akan dirinya.
"Apa perlu aku tumpahkan jus ku ke wajah mereka untukmu?" Joanna tidak main - main dengan ucapannya.
"Tidak perlu, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan cara seperti itu kan. Sayang juga jus mu lebih baik kau minum." Tutur Anna disertai kekehan melihat tingkah sahabatnya yang satu ini. Polos namun berani. Disela obrolan kami tiba-tiba saja Popi teman sekelas kami yang super jutek ini berceletus ria.
"Ya ampun si gadis tak waras hari ini terlihat berbeda ya. Dia terlihat lebih normal jika sedang bersama kedua sahabat normalnya ini." Pedas dan tegas sekali ucapan perempuan satu ini. Tidak perna kapok mengatai ku.
"Kau! Jaga ucapanmu! Kau ini berpendidikan tapi mulut mu masih saja belum disekolahkan. Kasihan sekali." Lawan Moana tak terima.
"Ya ampun kau ini lucu sekali, oh ayolah sadar aku sedang berbicara fakta disini. Jika Anna bersama kalian memang akan terlihat normal, tapi ketika Anna sedang sendiri ia seperti anak idiot yang asyik dengan dunia nya sendiri. Kalian sebagai sahabatnya sejak lama pasti tak akan mengelak jika dia memang seperti itu kan!!" Bentak Popi kesal.
Moana terdiam mendengar ucapan sarkastis Popi. Jujur yang dikatakan Popi itu memang benar. Moana melirik Joana yang ternyata sedang meliriknya juga. Dan Anna hanya diam berusaha untuk tak terbawa emosi.
"Sini kau biar ku ajari tatakrama." Balas Moanna disertai serangan nya pada Popi. Ia menarik rambut perempuan itu dengan kasar. Terjadi lah adegan tarik menarik rambut ditengah suasana kantin yang ramai. Bangku yang kami tempati seketika menjadi pusat perhatian. Aku benci menjadi pusat perhatian.
"BERHENTIIIIII...." Teriak Anna menahan emosi. Seketika Moana dan Popi berhenti dari acara tarik menarik rambut indah mereka. "Hentikan sudah puas acaranya?! Moana sudah kubilang kan biarkan mereka menilai diriku sesukanya, tak usah pedulikan ucapan mereka, tak ada gunanya. Dan kau Popi jika mengejek ku membuat mu senang, bahagia, lakukan saja. Aku dengan senang hati menerima ucapan mu. Tapi sebagai manusia normal dan pintar tentunya tak akan repot-repot mengurusi urusan orang lain. Urus saja dirimu sendiri. Satu hal lagi terimakasih selalu mengurusi hidup ku!" Tegas Anna pada dua orang ini. Heningg... Semua diam mendengar penuturan Anna yang wow itu. Anna langsung menarik lengan kedua sahabatnya pergi menjauh menuju kelas.
"Apa yang kalian lihat!" Teriak Popi kesal.
Seketika keadaan kantin kembali seperti semula. Seolah tak pernah terjadi apapun beberapa menit yang lalu.
Kesal seribu kesal. Sudah tiga hari ini Moana selalu membentak ku begitupun dengan Joana padahal ia tak pernah sekali pun membentak ku, tapi kali ini? Aku bingung dengan mereka semenjak kejadian di kantin itu Moana terlihat lebih sensitif. Katanya ia merasa direndahkan oleh Popi. Begitupun dengan Joana dia lebih sering menampakan keberanian nya akhir-akhir ini.
"Anna kau kau tidak bisa diam saja selalu direndahkan oleh Popi! Jika kau diam terus dia malah menjadi jadi." Moana lagi-lagi memperingatkan. "Kau juga ayolah berusaha untuk menghilangkan khayalan aneh mu itu, itu semua tidak nyata kau tahu!"
"Benar yang dikatan Moana. An kau ini hidup di dunia nyata, dunia fiksimu itu tidak ada di hidup ini, itu hanya ada dipikranmu saja. Lagi dan sudah tiga hari ini kau sibuk dengan buku mu, pikiranmu, dunia mu. Sejujurnya aku tak suka dengan sifat mu ini kau seperti orang tak waras. Benar yang dikatakan Popi." Ucap Joana begitu polosnya. Ya ini yang kutakutkan sebenarnya ucapan Joana. Kata-kata polosnya ini lah yang sebenarnya aku takutkan dibanding kata-kata hinaan Popi padaku. Karena sejujurnya ucapan orang polos itu adalah yang paling jujur.
"Oke aku memang aneh dan gila. Kalian puas!!" Tegas ku.
"Ya benar kau sangat aneh. Aku tak tahan lagi menghadapi sikapmu ini." Moana mulai terbawa suasana.
"Aku. Aku yang seharusnya marah pada kalian, kalian selama ini selalu membela ku tapi itu semua malah membuat aku semakin di cemooh oleh teman-teman. Kalian hanya memikirkan amarah, emosi, semuanya kalian lakukan dengan cara bermain fisik, dan yang kena siapa lagi? Aku kan. Terimakasih kalian akhirnya jujur juga padaku selama ini kalian sama menganggap ku gila. Kalian tidak tahu rasanya menjadi aku kan? Selalu sendiri Dimanapun. Kalian tahu kan jika aku ini Broken home selalu sendiri kedua orang tuaku sibuk berkutat dengan file-file nya, sejujurnya aku juga merasa sendiri jika sedang bersama kalian. Pembiacaraan yang hanya kalian saja yang mengerti, aku mencoba untuk mengerti tapi. Tidak bisa. Aku tahu kalian pernah membicarakan ku dibelakang tapi lagi-lagi aku bersandiwara seolah aku tidak mendengar apapun. Tak ada yang mengerti diriku, kedua sahabatku pun tidak." Aku mulai terisak, ya selama ini aku pendam semuanya. "Inilah kesenangan ku disaat aku sendiri, kalian tidak tahu rasanya tak dicintai dengan orang yang kita cintai. Seolah olah bertepuk sebelah tangan."
"Sudahlah aku sudah muak dengan semua ini. Aku benci padamu dan pikiranmu. Kekanak-kanakan! Ayo Joana kita pergi saja." Balas Moana tak peduli. Dan pergi berlalu tanpa pamit.
Kesendirian. Sepertinya itu sudah menjadi teman hidupku. Lucu sekali.
Setelah peristiwa itu akhirnya aku juga tahu bahwa Moana dan Joana tak tulus berteman denganku. Mereka hanya menuruti perintah kedua orang tua ku saja. Jika mereka ingin berteman denganku ayah akan memberikan mereka apa saja. Jahat, satu kata yang terlintas. Selama ini aku dimanfaatkan. Dunia memang kejam.
Hari buruk demi hari buruk kulewati. teman-teman sekelas dengan kompak nya mengerjaiku tanpa henti. Oh dan ternyata mantan kedua sahabat ku juga ikut andil dalam hal ini. Mulai dari cara fisik, perkataan, tulisan-tulisan tak pantas aku dapatkan. Berat sekali hidup ini. Sudah kuduga suatu saat sang Real life akan memberontak sang fiction life.
"Bagaimana apa tadi malam ada peri gigi datang menemuimu?" Ejek Popi lagi dan lagi. Selalu ku hiraukan perkataan sarkastis mereka. Ingin sekali aku mengabaikan nya tapi suatu bisikan lembut terdengar ke telinga ku.
Jangan pergi, katakan pada mereka aku bisa membuktikan bahwa dunia fiksi ku ini bukan bualan. Tapi benar-benar nyata. Itu yang kudengar. Suara siapa itu? Apa mungkin hanya halusinasiku saja? Tapi entah kenapa setelah mendengar bisikan lembut itu aku berhenti dan mengatakan persis apa yang kudengar. Dan ya respon nya sudah bisa ditebak kan?
"Mana mungkin. Bangun dari mimpi mu nak ini sudah siang. Jika kau bisa menunjukan itu nyata aku rela keluar dari sekolah ini dan mengaku pada kedua orang tua ku bahwa aku selama ini melakukan kekerasan disekolah." Ucap Popi menantang. Disertai anggukan yang lainnya tanda setuju.
"Aku pengang perkataan mu Popi!" Tutur ku dan pergi.
Sesampainya dirumah aku merutuki perkataan ku. Bagaimana mungkin aku bisa membuktikan semuanya nyata? Itu kan hanya khayalan saja tak mungkin nyata. Bodoh aku terbawa suasana sampai mengataan yang tidak-tidak. Ku baringkan tubuh ini diatas kasur mencoba menjernihkan pikiran. Beberapa menit aku memejamkan mata ini sampai terdengar bisikan lembut itu lagi di telinga kananku.
Hei bangun kau harus mengerjakan pr kan.
Setelah berganti baju aku langsung membuka buku pr ku. Hah ini melelahkan. Waktu berjalan dan beberapa soal sudah kujawab dengan mudah.
"Satu soal lagi dan selesai. Eh aduh kenapa aku mengisi 5 hasilnya kan -8. Oke hapus." Sialnya penghapus itu tiba-tiba terjatuh tepat dibawah tempat tidurku. Aku benci sekali pasti sangat berdebu. Tapi mau tak mau aku harus mengambilnya.
"Ah itu dia." Aku mencoba meraih penghapus itu dan tanpa aba-aba debu masuk begitu saja kemataku membuat kegiatan ku berhenti sejenak. Setelah selesai mengucek mata, aku berinisiatif langsung mengambil karet padat itu. Dan mengilang. Penghapus yang jelas-jelas tadi di tempatnya mengilang entah kemana. Mungkin saja masuk lebih dalam, dan mau tak mau aku juga masuk kedalam kolong tempat tidurku.
Set.... Seketika lantai kolong tempat tidurku tergeser sehingga terbuka seperti pintu. Dan bruk... Aku terjatuh begitu saja. Perlahan aku membuka kedua bola mataku. Dan apa yang kulihat ini menabjubkan, apa aku mimpi? Ini sangat indah. Tempat yang tak ada di bumi. Aneh.
"Ya Tuhan apa mungkin? Ini sang fiction life?. Teman-teman bersiaplah angkat kaki dari sekolah!"

Tamat
 












Kau yakin?

Terik matahari begitu menyengat siang ini. Haus, lapar, lemas semakin merasuki tubuhnya. Sudah seminggu ini Lilo terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Bagaimana bisa ia terdampar? Ya saat itu Lilo sedang mencari ikan dan tanpa permisi ombak besar datang begitu saja menyerang perahu kecil miliknya. Ketika kelopak mata terbuka Lilo sudah berada di pulau ini.
"Apa aku akan mati disini? Padahal impian ku ingin sekali mati saat berlayar menunggangi kapal besar, orang-orang pasti akan mengingat ku sang legenda ombak. Ah itu keren sekali." Kata Lilo mengingat impiannya. Tak elit sekali jika aku harus mati kelaparan, setidaknya aku ingin jasad ku ditemukan nantinya.
"Semoga saja keajaiban datang pada ku. Amin." Tutur Lilo pasrah menerima keadaannya saat ini.
Disela lamunan akan kematiannya. Lilo merasa pasir putih dibawah kakinya bergerak-gerak, namun tak ada apapun disana. Lilo mengabaikannya tak peduli, mungkin itu hanya makhluk kecil bercangkang. Kedua kalinya lelaki ini masih tetap tak peduli, dan sampai yang ketiga kalinya Lilo mulai terusik.
"Ishh menganggu sekali para hewan bercangkang itu." Omel Lilo dan langsung menggali pasir putih itu untuk menyingkirkan sang pengganggu. Srukk... Srukk.. Pasir itu mulai menampakkan sesuatu, namun bukan hewan yang ia cari tapi sebuah teko ajaib emas yang ditemukan. Diambil lah teko ajaib itu dan seketika asap putih mulai keluar.
" Hohoho hormat tuanku." Penghuni dalam teko keluar. Kalian tahu itu pasti apa kan?
" Yaampun keajaiban sudah datang. Terimakasih.. Terimakasih.." Lilo bersujud syukur bisa mendapat keajaiban tak terduga ini.
Beberapa menit Lilo tak berkutik masih tak percaya dengan semua nya. Ia juga masih menunggu sampai Jin itu bertanya padanya. Sunyi... Hanya suara air laut yang terdengar. Merasa aneh dengan Jin ini Lilo mulai bertanya.
"Kenapa kau malah memperhatikan aku saja sedari tadi? Biasanya Jin sepertimu punya penawaran sakral 'aku beri tiga permintaan'." Tanya Lilo pada Jin itu.
"Ah benar dari tadi aku mencoba mengingat apa yang harus aku katakan. Oke aku beri satu permintaan." Tutur Jin itu pada tuan sementaranya, Lilo.
"Apa? Tidak kau salah bukan satu permintaan tapi tiga permintaan." Balas Lilo tak terima. Jin ini berusaha korupsi ternyata.
" Itu dulu, sekarang hanya satu permintaan saja. Boss kami sudah merubah peraturannya." Jin itu memberi tahu.
" Boss mu siapa? Aku ini kan tuanmu." Tegas Lilo sekali lagi.
"Kau ini tuanku bukan boss ku! Jadi bagaimana kau mau atau tidak? Sudah syukur kau dapat menemuiku, masih menawar saja. Dasar manusia." Jawab Jin itu.
"Ishh baiklah. Aku mau 3 permintaan ku dikabulkan." Harap Lilo teguh pada pendiriannya.
"Kau curang, tak bisa!"
"Kau yang curang Jin, itu kan hanya satu permintaan." Ucap Lilo
"Tidak tidak tidak, selain itu! Jika kau masih menawar aku akan membuat permohonan pada diriku, aku berharap kau akan disini selamanya." Ancam Jin itu pada Lilo.
"Hah memang nya bisa?" Jawab Lilo penasaran.
"BISA! Bagaimana apa permintaan mu? Oke akan aku ulangi penawaran ku. Tuanku, aku beri satu permintaan." Tanya Jin itu kesal dengan tingkah Lilo yang menyebalkan.
" Baiklah aku mauuu...." Lilo berpikir keras apa yang ia mau ya? Satu permintaan saja tidak cukup. Ia harus meminta agar semua yang diinginkan nya bisa tercapai. Tapi bagaimana ya... Ahh iya aku butuh itu.
" Benar sekali. Aku mau satu miliar Jin." Kata Lilo senang.
" Kau yakin?" Balas Jin itu. Didalam hati sang jin merutuki tuannya, kenapa ia malah memilih satu miliar? Apa ia tidak sadar keadaanya saat ini bagaimana? Ia hanya berdiri di pulau kecil yang dikelilingi lautan besar. Seperti pulau Bikini Bottom yang ada di kartun. Jadi Jin itu bertanya sekali lagi pada tuannya. "Kau yakin?"
"Hmmmm tunggu sebentar." Balas Lilo masih memikirkan apa yang harus ia minta.
Jin itu merasa lega ketika Lilo memikirkannya ulang. Ternyata tuannya tak sebodoh yang ia kira.
"Oke Jin aku mengganti pilihanku." Tutur Lilo dengan cepat dan sumringah. Ia sudah yakin akan pilihannya.
" Baik tuan apa itu?" Jawab Jin dengan penasaran.
" Aku mau satu triliun saja, itu lebih banyak dari satu miliar kan?"
Dan kalian tau apa yang terjadi.

Tamat






“ Perlindungan Sahabat Alam

Semilir angin berhembus tenang menyentuh ratusan daun membuat suara gemersik khas yang menenangkan pikiran juga jiwa. Udara yang masih asri, air sebening kaca mengalir begitu deras namun tetap tenang, membuat siapa saja menyukainya termasuk aku Demitri yang sering dijuluki 'Sahabat alam' oleh para teman ku. Bukan hanya julukan semata namun itu memang julukan yang pantas untuk ku, sahabat alam adalah arti dari nama ku yang diambil dari bahasa Yunani yaitu Demitri. Sebulan sekali aku rutin mengunjungi hutan untuk penelitian atau sekedar ingin berpetualang saja. Tak sendiri tentunya, aku selalu ditemani para sahabat setia ku yang disebut Saa, itu nama komunitas kami yang artinya Dewa alam.
Petualangan kali ini, kami memilih hutan Kalimantan surga nya para orang utan. Kami sengaja kesini karena prihatin mendengar banyak nya berita tentang perburuan orang utan tak berdosa dan lagi penebangan liar yang mulai dilakukan oleh para perusak juga sering dilakukan membuat habitat asli hewan ini terganggu. Untuk itu kami merencanakan Reboisasi secara perlahan di kawasan ini.
" Kita harus membuat efek jera bagi para perusak itu. Jika terus dibiarkan bisa - bisa hutan ini akan habis dan orang utan juga hewan lainnya akan punah." Komentar Zamzam mengingat berita mengerikan itu.
" Tentu saja, mereka harus diberi hukuman yang berat karena berani merusak alam serta berburu secara Ilegal. Orang-orang dangkal memang." Sambung Gita antusias.
" Lebih baik sih hukumannya mereka disuruh mereboisasi kembali hutan yang telah mereka habiskan. Dengan begitu pasti masalah hutan gundul perlahan bisa teratasi. Dia yang melakukan dia yang bertanggung jawab bukan?" Sambungku menanggapi pernyataan Zamzam dan Gita.
" Genius." Balas Zamzam dan Gita serentak. Kami terkekeh, sambil terus berjalan menyusuri hutan indah ini. Para makhluk bersayap pun seakan menyanyi menyambut kedatangan kami. Aku sangat menyukainya. Satu jam berjalan kami memutuskan untuk rehat sejenak, karena daerah yang gundul itu masih cukup jauh. Butuh 2 jam lagi untuk sampai disana.
" Ahh ingin rasanya membangun satu rumah disini. Sangat damai." Ucap Tian asal.
" Dasar kau ini ada-ada saja." Balas Gita.
" Hei jika hari ini adalah hari terakhirmu di dunia bagaimana?" Tanya Brahma asal. Kami semua terkekeh atas penuturan Brahma. Kenapa ia tiba-tiba bertanya seperti itu?
" Aku tak akan mati sebelum melakukan proyek perbaikan alam ini." Jawab Tian.
" Aku juga tak akan mati sebelum membalas para perusak itu." Sambung Zamzam sambil tertawa jahat.
" Kalian ini yang ditanyakan apa dijawab apa! Aku bilang kan jika mati hari ini." Kesal Brahma yang tak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
" Jika nyawaku di ambil sekarang.. Aku merasa sangat beruntung. Karena aku bisa mati di tempat para makhluk hidup lainnya mati." Sela ku sambil terus memandang keatas menikmati sinar matahari yang terturup pepohonan.
" Hei kenapa suasananya jadi aneh begini? Tak akan ada yang mati hari ini oke. Tenang saja." Kekeh Tavon mengentikan suasana yang kurang enak. Serentak semua menatap Tavon dan tertawa bersama.
" Ah iya aku ingin berjalan-jalan kesana ya, ada yang mau bergabung denganku?" Tawar ku pada yang lain.
" Aku ikut Dem." Brahma mengangkat satu tangannya.
Sebelum pergi menyusuri sekitaran hutan, entah kenapa aku berinisiatif membawa dua pisau yang kuletakkan di ikat pinggang dan di sepatu ku yang kebetulan memang ada tempat bagi benda tajam tersebut. Aku dan Brahma segera pergi menjelajah hutan ini.
Sepuluh menit kami berjalan santai sambil berbincang, samar-samar kami mendengar suara tembakan. Aku dan Brahma saling pandang penuh tanya siapa yang melakukan itu?  Dengan cepat kami menuju asal suara tembakan. Perlahan semakin jelas suara peluru yang terlepas dan semakin keras, merasa sudah dekat dengan sumber suara, kami memilih bersembunyi dibalik semak-semak mencoba mengintai siapa yang menembak dan untuk apa ia menembak?
" Sutt kita lihat apa yang orang ini lakukan." Bisik Brahma. Kami melihat seorang lelaki sekitar 35 tahun memakai topi ala koboi sedang mengisi pistol nya dengan peluru.
" Brahma sebenarnya dia menembak apa?" Bisik ku pada Brahma khawatir.
BRUK.... Tepat dibelakang kami seekor orang utan meloncat dari pohon. Ia memandangi kami. Entah apa yang dilakukan Brahma ia menyimpan telunjuknya di depan bibir tanda jangan berisik kepada orang utan itu. Seakan mengerti hewan itu langsung diam dan memandangi kami terus menerus, namun perlahan orang utan itu mendekat kearah kami. Aku mulai takut.
"Brahma apa ia akan menyerang kita?" Ucap ku pelan. Belum sempat Brahma menjawab pertanyaan ku, orang utan di hadapan kami langsung mendekat dan lari kepelukan Brahma.
" Tidak Demitri ia ketakutan. Sangat. Dia ingin kita melindunginya." Balas Brahma pelan sambil mengelus punggung hewan berbulu coklat ini. Sangat menggemaskan.
BRUK... Satu lagi orang utan meloncat, tapi kali ini ia langsung berlari kearahku dan sama ia pun memeluk ku. Yaampun apa yang sebenarnya terjadi kenapa mereka ketakutan seperti ini? Aku meniru apa yang dilakukan Brahma mengelus punggung makhluk menggemaskan ini.
DORR... Suara tembakan mulai terdengar lagi. Sepertinya ia sudah selesai mengisi pistol besarnya.
" Demitri orang bertopi itu berusaha menembak mereka." Tutur Brahma kesal. " Kita tidak boleh diam saja Dem, kita harus menghentikan aksi si pembunuh itu."
" Tentu aku juga tak rela teman-teman ku mati begitu saja." Ambisi ku untuk menghancurkan sang pria bertopi sangat kuat.
Sebelum kami menghampiri si pembunuh kami memperingatkan kedua orang utan ini untuk tetap bersembunyi dibalik semak menggunakan gerak tubuh dan gerak bibir kami. Dirasa sudah siap aku dan Brahma langsung menghampiri lelaki itu dengan berani.
"Woo Pak apa yang sedang anda lakukan?" Tanya Brahma sopan, padahal hatinya berteriak.
" Ah anak muda sedang apa kau disini?" Jawabnya ketus.
" Kami kebetulan sedang menyusuri hutan ini namun dari jauh kami mendengar suara tembakan, dan.. Jadi kami kemari." Ucap ku basa basi.
DORR..
BRUK.. Satu tembakan itu menjatuhkan seekor orang utan. Tepat di depan mata, kami melihat bagaimana makhluk berbulu ini bersimbah darah tak berdaya. Ia mati.
" Itu yang sedang aku lakukan anak muda. Mau bergabung?" Ungkap pria bertopi ini sambil menyeringai.
Sudah tak bisa menahan amarah, Brahma berteriak kepada sang pembunuh dan menyerangnya. Brahma berusaha mengambil senjata nya agar pria ini tak bisa menembak lagi.
" HENTIKANNN kau pembunuh." Awalnya Brahma hanya ingin menjatuhkan pistol itu saja, tapi lelaki ini bermain kasar dan memukul perut Brahma menggunakan pistol berburunya. Brahma pun mulai memukul lelaki itu bertubi tubi.
Bughh.. Lelaki ini menendang kaki Brahma sehingga ia terjatuh. Kesakitan yang dirasakan Brahma. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menodongkan mulut pistol nya kearah Brahma yang tak berdaya. Yaampun ini berbahaya Brahma bisa mati. Dengan gesit aku mengambil pisau yang ada di pinggang ku dan langsung menancapkan pisau ke tangannya. Lelaki itu meringis kesakitan. Brahma bangun. Kami mau tak mau harus melawan nya. Si pembunuh ini benar-benar keras kepala.
Lelah dan sakit kami sudah tak tahan lagi melawannya. Darah dan memar sudah nampak di wajah dan tangan kami, begitu juga dengan lelaki penembak itu. Disela pertarungan, kedua orang utan yang bersembunyi tadi muncul ingin menyerang lelaki itu juga. Namun dengan sigap nya pria ini menekan pelatuknya kearah salah satu orang utan.
Brukkk.... Terkulai lemah orang utan yang tadi berada di pelukan ku. Warna merah pekat mulai keluar dari tubuh mungilnya. Menangis aku menangis melihat makhluk tak berdosa itu tertembak begitu saja. Aku benci ini. Aku benci pria ini. Kemudian ia mencoba menodongkan lagi pistolnya kearah orang utan satunya, namun sebelum pelatuk ditarik aku berlari menghalangi makhluk itu supaya tak tertembak.
DORR.... Namun naas peluru itu tepat mengenai perutku. Aku diam sejenak merasakan rasa sakit. Tak apa yang penting makhluk menggemaskan itu tak mati.
" Demitriiiiii...." Teriak Brahma tak percaya. Ia menghampiri tubuhku yang sudah terkulai di tanah. " Jangan tutup matamu oke. Kau harus menahannya sebentar aku akan membawa mu ke tempat peristirahatan. Tetap buka matamu Demitri!!" Isak Brahma tak tega melihat keadaan sahabat kesayangan nya lemah tak berdaya.
" Tidak Brahma kau juga kesakitan, jangan memaksakan dirimu. Sudah kubilang kan jika aku mati hari ini aku akan merasa beruntung." Ucapku lemah tak kuat dengan rasa sakit yang sedari tadi kucoba tahan.
" Seharusnya aku tak pernah menanyakan pertanyaan itu." Sesal Brahma.
Sakit aku tak tahan lagi menahan rasa sakit ini. Sebelum mataku tertutup untuk selamanya, orang utan itu menghampiriku ia memeluk dan menaruh kepalanya di kepalaku. Yang bisa kulakukan hanya menangis sambil tersenyum. Aku tak menyesal karena sudah melindungi mu teman. Aku senang bisa mati karena melindungi makhluk hidup lainnya. Lagi sebelum mataku benar-benar tertutup para sahabat yang kusayangi datang, mereka menangis semuanya memelukku begitu erat.
" Kawan tolong jaga makhluk berbulu coklat ini ia temanku. Aku juga sayang pada kalian jangan pernah lupakan aku ya. Selamat tinggal kawan. Brahma, Gita, Zamzam, Tavon, Tian. Kalian akan selalu menjadi sahabatku sampai kapanpun."
Perlahan aku menutup mataku. Cahaya putih mulai terlihat, hingga nafas kehidupan ku benar-benar hilang. Sampai akhirnya aku tiada.

Tamat












Melodi Hati

Gesekan demi gesekan busur. Petikan demi petikan yang dibuat oleh jarinya seketika membuat penonton terpukau. Alat dawai dimainkan begitu indah oleh remaja satu ini. Arion. Violinis muda yang saat ini sedang berdiri di panggung megah dengan jutaan pasang mata menyaksikan permainan biola nya.
Prokk.. Prokk.. Prokk..
Tepukan para penonton menyerbu pendengaran Arion ketika permainan biola nya sudah berada di nada terakhir. Suara tepukan riuh sudah menjadi makanan sehari-hari bagi remaja lelaki ini. Inilah dunia nya, tanpa musik dan biola, mungkin ia akan rapuh. Begitu pikir Arion.
" Permainan bagus Rion, kau semakin hebat seperti Antonio Vivaldi." Puji sang kakak Carlos disertai tepukan pelan dipunggung sang adik.
" Aku tahu.. Lihat aku kan penerus Antonio Vivaldi, apa abang mau minta tanda tangan ku?" Tawar Arion berlagak hebat.
" Dasar adik menyebalkan." Balas Carlos mengacak rambut Arion. Tawa pun lepas dari keduanya. Disela candaan kedua kakak beradik ini, datang Pak Badi yang tak lain adalah pelatihnya.
" Rion selamat ya dan jangan lupa untuk pertunjukan besok. Pukul 7 saya tunggu di bundaran jangan sampai telat." Pak Badi mengingatkan.
Keesokan harinya sesuai jam yang telah di janjikan, Rion dan rombongan mulai pergi menuju tempat manggung nya malam ini. Mereka sengaja berangkat pagi hari, supaya dapat berlatih terlebih dahulu.
Mobil yang mengangkut Arion mula nya aman mengarungi jalananan sesak, senda gurau pun masih merebak di dalam mobil ini. Sampai sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Truk semen dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi lalu mulai menerobos kendaraan yang tepat berada di depannya. Tak hanya itu truk besar ini juga mulai masuk ke jalur sebaliknya. Jalur yang saat ini kami lewati. Belum sempat banting setir, raksasa itu menabrak mobil kami dengan sangat kecang. Tabrakan beruntun pun tak terelakkan. Mobil mereka terbalik akibat dentuman keras dari truk semen itu. Supir dan kakak Arion, Carlos sayangnya tak dapat terselamatkan. Pak Badi masih ditangani oleh para ahli medis sedangkan Arion sendiri terluka parah dan harus segera menjalani rangkaian operasi.
Carlos segera di kebumikan di pemakaman keluarga. Arion masih belum sadar dari tidur panjang nya. Hingga.. Seminggu kemudian Arion tersadar.
" Rion kamu sudah sadar nak? Alhamdulillah terimakasih Ya Tuhan." Isak sang ibu mencium kening Arion. Perlahan isakan tangis beliau semakin kencang mengingat apa yang dikatakan dokter mengenai kondisi anak lelaki nya. Benturan keras di kepala Arion membuat kondisi nya cukup parah, sehingga membuat saraf pendengarannya terganggu. Dengan begitu Arion saat ini tak bisa mendengar suara dengan baik dan lagi keadaan ini bersifat permanen.
" Ibu bicara apa? Kenapa tak jelas begini? Ibu kenapa telinga ku berdengung terus menerus? Apa yang terjadi? Dimana bang Carlos? Apa dia baik-baik saja?" Tutur Arion panik. Mendapat pertanyaan beruntun dari sang anak, ibu Arion mencoba menenangkan. Ia mengelus lengan lalu kepala Arion lembut. Tak tega melihat kondisi lemah anaknya saat ini. Ibu membiarkan Arion menangis mengeluarkan segala kesedihan nya. Mungkin itu akan membuat Arion tak banyak bertanya dan juga tenang.
Sebulan kemudian keadaan fisik Arion membaik, ia dapat beraktivitas seperti biasa. Fisik sudah baik tapi mental yang sakit. Arion tau keadaannya saat ini bagaimana. Rapuh dan frustasi dirasakan remaja 17 tahun ini. Alunan melodi, irama musik, gesekan biola yang ia mainkan tak dapat ia dengar dengan baik, suara nya berubah seperti kaset rusak. Rapuh, hilang sudah dunianya.
" Hiks.. Hikss.. Kenapa suaranya jelek begini!?" Teriak Arion membanting biolanya. Tangisan keras keluar dari mulutnya. " Hancur sudah duniaku! Masa depanku semuanya hancur!".
" Yaampun nak apa yang kamu lakukan? Lihat biola mu jadi rusak begini, nanti kamu tak akan bisa ber..." Belum sempat ibu menyelesaikan,  ucapan nya disela begitu saja.
" Memang bu aku tak akan bisa bermain biola lagi. Mana ada bu pemain biola tak bisa mendengar permainannya sendiri. Aku sudah tak punya masa depan. Hilang!" Isakan Arion membuat sang ibu juga ingin menangis melihat keadaan anak nya begitu menderita. Perlahan beliau mulai memberi pencerahan kepada Arion.
" Ada nak, ada Violinis yang tak bisa mendengar." Ucap sang ibu.
" Siapa bu? Siapa!? Tidak akan ada." Balas Arion.
" Tentu saja dirimu." Jawab ibu menepuk dada anak nya pelan. " Selama ini ibu kira kau hebat, tapi nyatanya tidak. Violinis hebat tak akan peduli bagaimana pun kondisinya. Tak bisa mendengar, tak bisa melihat, tak punya tangan dan kekurangan lainnya. Itu bukan menjadi penghalang untuk mereka, karena apa? Karena musik bukan di dengarkan oleh telinga itu hanya pelengkap saja. Musik sebenarnya di dengar oleh hati. Hati adalah kuncinya nak, semua yang diawali dari hati pasti akan sempurna. Cukup dengarkan kata hati mu Rion. Irama, melodi, alunan semuanya akan menuntun mu." Penuturan ibu membuat Arion terdiam. " Jika kau masih ragu, coba kau mainkan biolanya. Ibu akan menjadi pelengkap mu." Tawar ibu.
" Tak bisa bu, biola ku sudah rusak tidak bisa dimainkan lagi." Sesal Arion. Ibu keluar dari kamar Arion sejenak hendak mengambil sesuatu.
" Ini... Ibu sudah siapkan biola terbagus untuk Violinis muda kebanggan ibu." Ibu memberi biola yang selama ini Arion inginkan. Beliau sengaja menyiapkan ini agar anaknya tak patah semangat walaupun kondisinya tak baik. " Ayo mainkan."
Arion mulai menggesekan busur nya mencoba menghayati. Satu dua kali ia masih ragu, hingga yang ketiga kali ia mulai terbawa alunan merdu alat ini. Arion mengerti sekarang bagaimana memainkan nya dengan hati. Ia mulai bangkit. Masa depan masih menunggu nya.
Prokk.. Prokk.. Prokk..
Tepuk tangan penonton terdengar bising di dalam aula megah ini. Namun Arion tak dapat mendengar nya, ia hanya dapat melihat tangan para penonton bertepuk tandanya ia tampil memukau. Pada kesempatan ini Arion membawakan lagu Song from secret garden yang mampu membuat jutaan pasang mata berlinangan air mata. Berhasil penampilan perdana nya berhasil. 
Violinis sempurna bagaikan matahari terik, ia bersinar di terangnya langit. Namun Arion berbeda ia bagaikan bulan dan para pendengar itu bagaikan bintang kecil yang mengitari nya. Semakin indah dan bersinar di gelapnya malam.

Tamat






Burung Gagak dan Sebuah Kendi

Disuatu hari yang cerah tepat nya di sebuah hutan, hiduplah seekor burung gagak hitam bernama Dex. Dia dikenal sebagai gagak yang dungu oleh para penghuni hutan, sehingga ia sering dianggap remeh, terutama oleh sosok merpati bernama Faur.
Matahari siang ini terasa begitu panas, membuat kerongkongan para hewan terasa kering. Berbondong-bondong penghuni hutan menuju sungai untuk sekedar minum. Mereka semua berkumpul disana, tapi tidak dengan Dex. Dex harus menahan rasa haus nya, karena ia tidak boleh minum di sungai bersama hewan lainnya karena ia dinilai dungu tak pantas bersanding dengan mereka. Itu perintah Faur burung yang dinilai paling hebat di hutan belantara ini. Tak bisa diganggu gugat perintahnya, Dex hanya dapat melihat para hewan lain minum dengan begitu nikmatnya.
" Heii lihat Dex, kurasa kerongkongan nya sangat kering. Dia mati-matian menahan haus sepertinya, hahaha." Kata Faur mengejek Dex yang sedari tadi diam di ranting melihat mereka minum. Cuaca hari ini sudah cukup panas, ditambah lagi Faur terus menerus memanas manasi Dex. Udara semakin panas saja, begitu pikir gagak ini. " Hewan dungu tak boleh minum di sungai ini. Tak pantas kau tau Dex." Teriak Faur.
Tak mempedulikan ucapan Faur, Dex memilih pergi mencari mata air lain disekitaran sini yang dapat dengan bebas ia minum.
" Dimana aku bisa mendapatkan air? Sungai itu kan satu-satunya mata air yang ada di sekitaran sini. Sungai lain ada di hutan seberang, tapi itu terlalu jauh, bisa-bisa sebelum tiba disana aku sudah pingsan duluan." Begitu pikirnya.
Sudah sekitar 5 menit ia terbang, namun mata nya belum menemukan tanda-tanda kehadiran mata air. Sett.. Pandangannya tiba-tiba terfokus pada satu benda di bawah sana. Dex melihat sebuah kendi berisi air. Tak perlu berlama-lama ia langsung mengepakkan sayap nya menuju ke arah kendi itu.
" Akhirnya aku dapat menemukan air." Kata Dex antusias. Paruh nya dengan cepat mendekat ke mulut kendi itu untuk menyeruput air di dalamnya. Namun sangat disayangkan air di dalam kendi itu terlalu rendah, paruhnya tak bisa mencapai air itu, belum lagi leher kendi yang sempit semakin mempersulit Dex untuk meminum air tersebut.
" Airnya hanya setengah, paruh pendek ku tak bisa mencapainya. Aku harus mencari cara, akan aku buktikan pada yang lain terutama Faur bahwa aku tak sebodoh yang ia pikirkan." Kata Dex optimis, dan mulai memikirkan cara untuk mendapatkan air itu.
Ditengah kegiatan memikir Dex, ternyata Faur dan Ole si tupai memperhatikan Dex dari atas, mereka bertengger di ranting pohon.
" Hahaha si gagak itu pasti tidak akan bisa meminum air yang ada di dalam kendi.  Mana mungkin hewan dungu seperti dia bisa mencari caranya." Kata Faur meremehkan.
" Kita lihat saja, jika Dex bisa penilaian mu terhadapnya selama ini salah." Ucap Ole pada Faur. " Apa yang akan kau lakukan pada Dex jika dia dapat melakukannya?" Tantang Ole.
" Oke jika dia berhasil akan ku cabut kata-kata ku, ia boleh minum di sungai sepuasnya bersama kita, dan aku akan melayani dia selama sebulan. Pegang ucapanku ini kau saksinya Ole." Balas Faur.
" Oke aku ambil ucapanmu." Kata Ole. Mereka berdua kembali mengamati Dex dari atas.
Sudah hampir tiga menit Dex mencoba mencari cara dan akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukannya. Tepat disebelah kendi itu ada sebuah batu kerikil, Dex pun mengambil dan memasukannya kedalam kendi. Tepat sekali jika ia memasukkan lebih banyak batu kerikil otomatis air yang ada di dalam kendi itu akan terdorong keatas, sehingga Dex dapat dengan bebas meminumnya.
" Tepat sekali. Ahh aku harus mencari lebih banyak lagi batu. Air aku datang." Tutur Dex semangat dan langsung meluncur mencari batu lainnya.
Batu kerikil pun mulai terkumpul. Dirasa sudah cukup Dex langsung memasukkan batu berulang-ulang hingga air nya bisa ia raih. Trik yang gagak hitam ini pakai berhasil air mulai naik dan dengan cepat paruhnya menyeruput air segar itu dengan rakus. Dex akhirnya bisa minum tanpa ada gangguan.
Melihat keberhasilan Dex, Faur gelagapan ia tak percaya gagak yang di cap dungu ini berhasil dengan mudah nya. Dex ternyata tak sebodoh yang Faur kira, dia begitu cerdik. Malu satu kata yang terlintas dipikiran Faur saat ini.
" Lihat Faur dia berhasil, selama ini kau salah telah menganggap Dex bodoh. Dan.. Jangan lupa janji mu tadi apa ya." Kata Ole mengingatkan perjanjian yang dibuat mereka beberapa menit lalu.
" Iya.. Iya.. Aku tidak lupa." Balas Faur kesal. Tak bisa menerima kenyataan bahwa sebulan kedepan ia harus melayani Dex.
Kenyang. Itu yang dirasakan Dex setelah meminum air segar sepuasnya. Dia pun akhirnya pergi menuju rumahnya dengan senang. Tak lama Dex telah tiba di rumahnya yang saat ini ramai dikunjungi para hewan sekitar, termasuk Faur. Tumben sekali Faur mau mengunjungi Dex.
"  Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Apa aku berbuat kesalahan?" Tanya Dex kebingungan. Tak biasanya mereka seperti ini. Aneh.
" Jadi begini tadi Aku dan Faur tak sengaja melihat bagaimana caranya kamu bisa minum air yang ada di dalam kendi itu. Ternyata kau ini tidak sepenuhnya bodoh Dex, kau ini ternyata cerdik." Kata Ole merasa kagum. " Dan kenapa kami berkumpul karena Faur akan menepati janjinya terhadapmu." Tambah Ole.
" Janji apa? Aku rasa tidak pernah membuat janji apapun dengan Faur." Kata Dex kebingungan.
" Iya tadi Aku dan Ole membuat kesepakatan, jika kau berhasil mencari cara agar bisa meminum air dalam kendi itu aku akan tarik semua ucapan terhadapmu. Kau boleh sepuasnya minum di sungai bersama kami, dan aku juga berjanji akan melayani mu selama sebulan kedepan." Kata Faur kepada Dex.
" Yeyy akhirnya aku tak perlu susah lagi mencari air." Kata Dex senang.
" Aku juga minta maaf atas semua perkataan dan perlakuan ku selama ini kepada mu Dex. Seharusnya aku tak menganggap remeh dirimu, lagi kau juga tak sepenuhnya bodoh. Aku baru sadar selama ini kau gagak yang cerdik. Untuk menebus kesalahan ku aku siap melayani mu sebulan kedepan, jika kau perlu sesuatu kau bisa hubungi aku Dex." Perminta maafan Faur diterima dengan baik oleh Dex.
" Aku terima maaf mu Faur, tapi aku tak butuh layanan mu. Aku mau kau menebus kesalahan mu dengan cara mengubah pandangan mu kepada siapa pun. Kau tidak bisa menilai orang sesuka hati mu saja, jika kau terus seperti itu akan banyak hewan lain yang diam-diam tak enak hati kepadamu. Lagi dan jangan menganggap remeh hewan lain. Siapa tau yang kau anggap remeh itu lebih baik dan hebat daripada dirimu kan." Kata Dex mecoba menasehati Faur sebisanya.
" Iya Dex aku sadar apa yang sudah aku perbuat selama ini. Terimakasih Dex sudah mengingatkan ku, tak hanya cerdik kau juga baik. Sekali lagi terimakasih. Mulai saat ini kita resmi berteman baik." Sayap kanan Faur terbuka ingin mengajak Dex bersalaman. Tanpa sungkan Dex menerima nya. Akhirnya sayap putih Faur dan sayap hitam milik Dex bersatu, dan mereka mulai berteman baik.

Tamat
 










Si Kucing Jalanan.

            Pagi ini tak seperti pagi biasanya. Sudah seminggu ini setiap pagi hujan turun membasahi aspal. Cuaca buruk tak hanya berdampak bagi manusia saja namun juga berdampak bagi hewan sekitar. Seperti yang dialami Koko kucing jalanan yang sulit mendapat makanan seminggu ini. Namun pagi ini langit begitu cerah, matahari menampakkan sinarnya membuat semangat Koko bangkit.
" Akhirnya hari ini aku bisa berjalan-jalan sembari mencari makan, berat badan ku mungkin turun drastis seminggu berpuasa." Kata Kucing berbulu abu ini.
Koko sang kucing jalanan ini mulai menyusuri komplek yang biasa ia dan kucing jalanan lainnya berkumpul untuk mencari makan. Ia mulai mengecek satu persatu tempat sampah yang ada, biasanya makanan enak dapat ditemukan dengan mudah di sekitar sini, makanan yang belum habis, dibuang begitu saja oleh para manusia itu. Mubazir sekali. Namun 10 menit berkeliling Koko tak menemukan makan sedikit pun, tak biasanya.
" Kemana pergi nya semua makanan itu? Ohh atau mungkin efek musim hujan kemarin? Katanya manusia akan merasa lapar terus menerus jika cuaca dingin." Pikir Koko. " Sebaiknya para manusia itu harus diberi cuaca dingin terus agar makanan yang mereka beli habis di makan dan tak dibuang percuma. Eh tapi kalau begitu populasi kucing jalanan seperti ku yang akan punah tak mendapat sisa makanan mereka." Ucap Koko asal. Disela pemikirannya tentang manusia, datanglah Nemo anjing rumahan di komplek ini. Biasa anjing seperti dia pagi begini suka berolahraga dengan pemiliknya.
" Pagi Koko, sudah seminggu ini aku tak melihat mu, kemana saja? Wooo kau terlihat kurusan lagi." Sapa Nemo senang melihat teman jalanannya kembali.
" Ya kau tahu kan hujan membuat ku tak bisa mencari makan, jadi kenapa badan ku kurus karena seminggu kemarin aku berpuasa." Balas Koko. " Ngomong-ngomong nama mu masih si ikan oren itu?" Tanya Koko menahan tawa.
" Dasar kau menyebalkan, nama ini permanen sampai aku tua nanti. Andai saja majikan ku tahu aku tak menyukai nama itu. Aku ini kan anjing gagah kenapa pula diberi nama imut seperti ini. Aku kan lebih pantas diberi nama Steve Rogers yang gagah itu." Balas Nemo tak terima.
" Terima saja kau kan jadi lebih lucu dengan nama itu haha. Sudah tak usah dipikirkan sebaiknya sekarang bantu aku mencari makan saja. Dari tadi aku tidak menemukan makanan sisa sedikit pun." Ajak Koko pada Nemo.
" Ayo kebetulan pemilik ku sedang sibuk berolahraga." Balas Nemo. Akhirnya mereka berdua berjalan bersama menyusuri jalanan aspal ini. Deretan rumah satu persatu terlewati. Hingga Nemo anjing sejenis serigala itu melihat seekor burung keluar dari sarangnya. Itukan bisa Koko makan.
" Koko.. Koko liat itu ada burung ukurannya juga lumayan, kau makan saja dia, cepatt sebelum dia terbang." Teriak Nemo mengagetkan Koko.
" Tidak, aku tidak biasa makan makhluk hidup seperti itu." Tolak Koko atas penawaran anjing bernama imut ini.
" Daripada kamu cari terus menerus makanan yang belum tentu ada, ambil saja peluang yang sudah ada. Cepat kali-kali kau harus mencobanya. Aku akan mendukung mu dari sini ayoo." Paksa Nemo sekali lagi. Benar juga yang dikatakan Nemo, buat apa menunggu yang belum pasti jika didepan mata sudah ada yang menunggu nya. Dengan sigap Koko mulai berlari kearah burung itu. Meloncat dengan indah nya sembari mengaung. Oke Koko terlihat seperti kakek dari kakek buyutnya yang besar itu saat ini, harimau. Burung itu baru menyadari ketika Koko sudah berhasil meraih sayapnya. Tak mau nyawanya diambil kucing jalanan burung itu melakukan perlawanan, ia mengepakkan kedua sayapnya agar Koko terusik dengan kibasan burung itu. Berhasil burung itu hampir saja terlepas dari genggaman Koko. Si burung menguasai pertandingan ini, kaki kecilnya ia letakkan di wajah bringas Koko, menghentakkan nya berkali-kali. Melihat keadaan temannya terjepit Nemo menggonggong.
" Gunakan cakar mu Koko, ayo kau pasti menang jangan memalukan aku dan para penonton disini." Ucap Nemo dibantu sorak sorai kucing jalanan dan anjing rumahan lainnya.
'Dasar Aku jadi bahan tontonan gratis mereka, bukannya membantu ku menangkap makhluk bersayap ini.' Batin Koko kesal. Cring.. Koko mengikuti instruksi yang di berikan Nemo, benar juga kenapa ia tak menggunakan cakar nya dari tadi. Buang-buang waktu saja. Berhasil burung itu sudah berada dalam cengkraman Koko. Kucing jalanan menang telak.
Belum juga 1 menit mencengkram burung ini, manusia berjenis kelamin pria keluar membawa sapu dengan angkuh. Oh tidak ini buruk. Pukulan demi pukulan dari rambut sapu itu menghantam wajah Koko. Oke manusia ini mungkin akan menyelamatkan makhluk bersayapnya pikir Koko.
" Lepaskan kucing nakal. Lepaskan.. Lepaskan.." Kata manusia itu berusaha melepaskan burung tak berdosa ini. Oke Koko angkat tangan jika berlawanan dengan manusia, jika tidak, bisa-bisa ia yang akan babak belur. Andai manusia ini tau bahwa kucing malang ini begitu lapar.
" Dasar tak punya hati." Teriak Koko sebelum pergi pada manusia yang sudah membawa burung tersebut ke pelukkannya. Namun yang di dengar manusia itu sudah pasti hanya meongan saja.
" Ternyata benar kau memang tak sehebat kakek dari kakek buyutmu. Jika bertemu kakek dari kakek buyutmu manusia pasti akan lari terbirit birit, berbanding terbalik dengan mu yang malah lari jika ada manusia ganas seperti itu." Ejek Nemo.
" Itu sudah hukum alam anjing Nemo." Ejek Koko tak mau kalah.
" Jangan panggil aku seperti itu menyebalkan." Balas Nemo kesal sebelum majikannya datang menjemput Nemo. Koko beristirahat di sekitaran situ. Tertidur sejenak.
Satu jam terlewati, Koko bangun dari tidurnya karena mencium bau lezat tak jauh dari sana. Koko mulai mengikuti aroma itu, perlahan bau nya semakin kuat dan lezat membangkitkan selera makan Koko. Tiba di depan pintu rumah tersebut, Koko melihat manusia yang memukul nya tadi membawa sepiring makanan lezat. Bau nya seperti ayam goreng atau... Tunggu dulu apa itu burung yang tadi hampir ia makan? Ingin memastikan Koko melihat kandang burung tersebut. Benar sekali, kandang nya kosong tak berpenghuni, samar-samar ia juga mendengar percakapan manusia itu.
" Ini dia ayam goreng spesial." Kata manusia itu.
" Dari mana itu? Kita kan tidak ada persediaan daging ayam di kulkas." Tanya manusia lainnya.
" Sebenarnya ini burung di kandang depan, aku sudah niat akan memasaknya, daripada kita kelaparan kan lebih baik manfaatkan saja yang ada. Tapi tadi hampir saja burung ini dimakan kucing jalanan itu, namun aku berhasil merebutnya. Sudahlah ayo dimakan." Kata manusia itu menjelaskan.
" Yaampun dengan hewan kecil seperti ku saja tak mau mengalah dan berbagi. Dasar manusia terkadang serakah." Ucap Koko menggelengkan kepalanya heran.

Tamat






Kiki si Owen

Langit panas sudah berganti menjadi sejuk, yang berarti rombongan anak sekolah sudah selesai dari kegiatan menimba ilmu mereka. Begitupun dengan Kiki anak lelaki yang berumur 14 ini dan juga grupya, yang sudah bersiap untuk pulang. Mereka mulai menyusuri jalanan sambil menikmati eloknya langit senja ditambah obrolan ringan mereka semakin menambah kehangatan sore ini.
" Heii Ki jika disuruh memilih kau mau jadi tokoh siapa di film?" Kata Pio membuka percakapan dengan bertanya kepada Kiki.
" Emm sudah pasti aku ingin jadi Owen yang ada di film Jurassic World itu atau mungkin Spiderman." Jawab Kiki sambil menirukan gaya menembak jaring ala pahlawan laba-laba itu.
" Kalau aku sih ingin jadi Holmes sang detektif keren itu di film Sherlock Holmes."  Tambah Leo.
" Aku ingin jadi Black widow saja dia gaya bertarungnya sangat keren dan rambut cepaknya itu loh mantap." Ucap Dardo polos. Kiki, Pio dan Leo hanya bisa menepuk dahi mendengar ucapan Dardo.
" Dardo kan sudah ku bilang Black widow itu rambut nya tidak cepak, dia itu perempuan bukan laki-laki." Ucap Leo frustasi. Pasalnya Dardo masih saja menganggap pahlawan itu laki-laki. Mendengar penuturan Leo, Dardo hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli.
" Ahh... Aku ingin sekali bisa masuk ke dunia film kesukaan ku, sepertinya akan keren sekali apalagi saat aku berlarian dikejar para dinosaurus itu mantapp." Tutur Kiki membayangkan bagaimana jika ia berada disana."
" Kau yakin? Jika di film sih memang terlihat keren tapi jika kita benar-benar ada disana pasti sangat mengerikan. Ihhh aku tak bisa bayangkan. Aku yakin kau akan menyesal." Balas Leo.
" Tidak akan aku pasti bisa menghadapinya aku kan hebat." Sombong Kiki. Di tengah obrolan, tak terasa sudah waktunya mereka harus berpisah di persimpangan jalan. Mereka pun pulang ke rumah nya masing-masing.
Sesampainya di rumah Kiki langsung berganti pakaian dan mulai mengerjakan pr. Sejam sudah terlewati, pr pun sudah selesai dikerjakan, dan sudah waktunya Kiki pergi ke alam bawah sadar.
Kringggggg..... Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Yang artinya Kiki harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mandi sudah. Sarapan juga sudah, yaps waktunya berangkat. Cekrek.. Engsel pintu dibuka, namun betapa terkejutnya Kiki melihat pemandangan sekitarnya saat ini. Pohon-pohon besar, aliran sungai, dan tanaman aneh masuk indra penglihatannya. Kemana perginya rumah yang lain? Pikir Kiki.
" Apa yang terjadi? Kenapa semuanya berubah? Wow tapi ini keren sih seperti lagi dimana gitu." Kata Kiki kagum melihat keadaan nya berubah drastis. Penasaran Kiki mulai menyusuri hutan itu, mungkin saja ada sesuatu yang ia temukan mengenai semua yang terjadi.
Sudah cukup jauh Kiki mengitari tempat asing ini, namun belum menemukan apapun. Ia hanya melihat tumbuhan aneh sejak tadi. Pegal yang dirasakan Kiki, lalu ia memilih istirahat sejenak menetralkan pergelangan kakinya. Disela pejaman mata Kiki, ia merasa tanah yang dipijaki bergetar. Kiki mulai panik.
Bertubuh besar, pijakan yang kokoh, gigi-gigi tajam dimiliki hewan purba yang saat ini berada tak jauh dari Kiki. Jantungnya berdegup kencang tak percaya apa yang dilihat. Tanpa aba-aba Kiki mulai lari menjauh dari T-rex itu jika tidak bisa-bisa ia jadi santapannya seketika.
" Yaampun aku tak percaya ini." Kata Kiki di tengah lariannya. Sangat disayangkan gerakan kaki Kiki tak secepat dari sang T-rex. Melihat pergerakan kecil Kiki makhluk bergigi tajam itu mengejar, berusaha menyantap tubuh mungil lelaki berusia 14 tahun ini. Ketakutan yang dirasakan Kiki. Ini buruk.
" Buruk.. Buruk.. Buruk.." Ucap Kiki mulai menangis dirinya takut setengah mati. Tak jauh ia melihat batang kayu besar yang cocok menjadi tempat persembunyian. Ia masuk kedalamya. Helaan napas kasar keluar dari hidung dan mulut Kiki, berusaha menetralkan napasnya yang sudah tak beraturan. Belum juga netral guncangan terjadi pada batang ini. Diangkatnya keatas. Kiki terjatuh rasa sakit seketika menjalari tubuh kecilnya. T-rex itu mendekat berlari kearah Kiki yang pasrah.
" Semoga ada keajaiban, keajaiban datanglah pada anak malang ini." Begitu permohonan Kiki melihat gigi-gigi tajam T-rex dari jauh.
Doa Kiki dengan cepat terkabul, T-rex itu berhenti karena serangan tiba-tiba dari tiga raptor ke tubuh besar makhluk itu. Pertarungan sengit pun terjadi diantara para pemangsa. Tiga raptor itu terus menerus menggigit tubuh besar sang T-rex, tak mau kalah makhluk itu juga berusaha mengalahkan ketiga raptor. Menggigitnya lalu melempar ke sembarang arah. Kiki pun sedari tadi menonton pertarungan mereka bukannya melarikan diri.
" Wow.. Ayo Blue, Charlie, Echo hajar terus T-rex itu." Sorak sorai Kiki disela pertarungan sengit. Kiki merasa melihat raptor itu seperti tiga raptor yang ada di Jurassic world. "Mereka sudah menolongku, apa aku terlihat seperti Owen saat ini? Makanya raptor itu menyelamatkan ku, wahh hebat sekali. Sayangnya disini tidak ada cermin jadi tak bisa melihat betapa kerennya diriku saat ini." Pikiran Kiki mulai tak tentu arah, bisa-bisanya dia memikirkan hal semacam itu disituasi genting.
Pertarungan selesai. Sang T-rex kalah dari para raptor. Keren-kerenan Kiki hilang saat raptor itu mendekat. Rasa takut dan panik kembali menghingggapi tubuh Kiki. Teringat Owen, kiki bangkit mulai menirukan gaya pawang raptor itu. Kedua tangan Kiki bergerak menenangkan para raptor persis yang dilakukan Owen.
" Charlie diam." Kata Kiki.
" Echo tetap disitu." Lagi kata Kiki.
" Blue kau juga teman tetap tenang." Kiki berlagak. Ketiga raptor juga seakan menuruti perintah Kiki, diam mengawasi. Tangan Kiki mulai turun dan saat itu juga para raptor ingin menyerang. Kiki langsung lari terbirit-birit. Yang penting ia sudah tau rasanya jadi Owen bagaimana, begitu benak Kiki.
Lebih berbahaya dari T-rex, raptor ini larinya lebih cepat dua kali lipat. Hewan ini mampu berlari sekitar 64 km/jam. Dengan cepat para raptor mendekat kearah Kiki, ia meloncat begitu lincah menerjang tubuhnya, hampir saja. Beruntung raptor itu mengenai tas ransel yang di gendongnya, dengan cepat Kiki melepaskan tasnya. Keringat dingin mengalir deras. Kiki tak bisa lari lagi, ia berada diujung tebing yang dibawahnya sebuah laut mungkin tingginya sekitar 100 meter. Buntu.
" Benar kata Leo ini mengerikan, aku tak mau disini aku mau pulang. Mamah tolong Kiki." Tangis Kiki pecah, ia benar-benar ketakutan tak tahu harus berbuat apa. Mati dalam usia muda sangat mengerikan.
Ketiga raptor muncul lagi dan mendekat siap menyantap bocah malang ini. Kiki harus memilih, meloncat ke laut dalam atau pasrah saja menjadi makanan raptor. Namun dengan cepat Kiki memilih meloncat dari atas tebing menuju laut.
Byur.... Sangat dalam dan gelap. Ayunan kaki dan tangan terus menerus dilakukan untuk mencapai permukaan. Kiki berpikir pasti disini ada hewan yang lebih menyeramkan dari T-rex dan raptor tadi. Benar saja, seketika dasar laut semakin gelap. Kiki melihat makhluk yang luar biasa besar, lebih besar dari paus.
Megaldon, hiu raksasa yang panjangnya sekitar 18 meter, makhluk ini menjadi predator terbesar dan terkuat pada masanya. Oke ini super buruk, ia tak akan bisa mengindar dengan cepat jika di dalam air begini, bernapas saja sulit. Kiki tetap berusaha berenang dengan jantungnya yang berdegup tak karuan. Megaldon itu berenang dengan cepat memangsa makhluk lain dibelakang sana. Giginya setajam mesin pemotong, sangat ganas. Situasinya berbeda Kiki sedang tidak di daratan, ia tak bisa berlari. Kiki menoleh memastikan jaraknya dengan Megaldon itu, namun betapa terkejutnya hiu besar ini sudah siap menerkam,  mulutnya terbuka lebar menampakkan gigi nya yg tajam ditambah gerakan cepatnya.
"Tidak......" Batin Kiki berteriak, gelembung keluar dari mulutnya. Happ... Kiki termakan, masuk sudah kedalam sana mengenaskan.
" Hahhhhhhh....." Teriak Kiki, keringat dingin menyelimuti tubuhnya. Napas yang tak beraturan terdengar. Jantung berdetak kencang tak berirama. Kiki terbangun.
Dan ternyata itu semua hanya mimpi. Mimpi yang buruk...

Tamat

 

Uang Bukan Segalanya

Di era modern ini kehidupan sudah banyak berubah. Teknologi maju dengan pesat. Manusia berlomba memborong alat paling canggih yang sedang nge-tren saat itu juga. Entah itu smartphone, komputer, televisi, kendaraan atau mesin cuci. Namun kekuasaan teknologi masih dikalalahkan oleh selembar kertas bernominal, tak lain dan tak bukan adalah uang.
Uang sudah menjadi segalanya bagi manusia. Dengan uang mereka merasa bahagia, bisa membeli dan melakukan apa saja yang mereka mau. Bahkan lucunya kekuasaan, jabatan, dan nilai pun bisa dibeli dengan mudahnya. Cukup dengan uang mungkin kau bisa menguasai dunia.
Toni lelaki remaja ini ingin sekali seperti orang-orang di luar sana, dengan mudahnya membeli kendaraan dan peralatan canggih. Namun apa daya, Toni berbeda dari para jutawan itu. Ia kalangan bawah, untuk makan enak saja susah nya minta ampun. Menyedihkan.
" Kapan aku bisa bersanding dengan para jutawan itu ya? Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Belajar sungguh-sungguh saja sekarang tidak ada gunanya lagi. Huhh teman-temanku yang tak begitu pintar bisa mendapat nilai tinggi hanya dengan uang. Memang dunia sudah berubah menjadi lebih kejam." Toni pasrah dengan keadaannya saat ini. Harapan terakhirnya sudah pergi. Sudah miskin tambah miskin.
" Jika saja ada keajaiban yang datang padaku, tiba-tiba satu milyar jatuh dari langit gitu bisa tidak ya?" Lamunan Toni dibuyarkan begitu saja oleh sahabatnya Efan.
" Ngaco kamu, siapa juga yang mau menjatuhkan uang sebegitu banyak nya."
" Siapa tahu kan, aku hanya berkhayal saja apa salah?"
" Ya.. Ya terserah kau sajalah, aku sudah lelah melihat tingkahmu yang begini." Efan berlalu meninggalkan Toni bersama lamunannya.
Sampai larut malam Toni memikirkan apa yang harus dilakukan agar hidupnya berubah. Dan lamunannya terhenti begitu saja ketika melihat buku sekolah nya bersinar terang. Toni terkejut bukan main melihat bukunya seperti lampu pijar. Dengan hati was-was ia mendekati buku itu untuk melihat lebih jelas apa yang ada didalam bukunya sampai bisa seterang itu?
" Aduhhh.. Bismillah deh semoga bukan alien yang tiba-tiba muncul melewati dimensi buku ku." Perlahan Toni membuka buku tersebut, matanya memicing sambil menjauhkan tubuhnya, karna jika itu alien ia bisa kabur dengan mudah.
Tumpukkan kertas telah terbuka sempurna. Cahaya terangnya redup seketika, kegelapan kembali datang. Toni mengedipkan matanya yang masih berkunang akibat hilangnya cahaya secara tiba-tiba. Dirasa sudah membaik ia mendekat melihat apa yang terjadi, begitu terpananya Toni ketika melihat pena berwarna silver dengan ukiran unik di bagian tengah bukunya. Indah dan kuno.
" Wow pena ini bagus sekali, pasti harganya mahal. Sisinya berkilauan seperti emas putih kerenn." Kekaguman lelaki ini berhenti ketika melihat sebuah tulisan.
Gambarlah tiga hal yang anda inginkan dan keajaiban akan terjadi.
Pikirkan dengan baik pilihanmu jangan sampai menyesal...
Peringatan :
Jika anda sudah menggambar tiga kali otomatis pena ini akan menghilang.
" Pena ajaib ternyata. Hmmm okee apa ya yang aku inginkan?" Toni berpikir sejenak.
" Oh ya tentu saja aku akan menggambar uang. Ehh tapi pena ini hanya punya tiga kesempatan saja, jika aku hanya menggambar selembar uang disetiap kesempatan berarti aku hanya mendapatkan tiga lembar saja dong, itu tidak cukup. Padahal kan ini kesempatan langka, tak boleh disia siakan." Toni berpikir bagaimana agar ia bisa mendapat banyak uang dari tiga kesempatan itu. Beberapa menit kemudian ide pun muncul.
" Ah iya aku harus menggambar tumpukkan uang, dengan begitu aku akan kaya. Ide bagus."
Remaja ini langsung mengeluarkan teknik menggambarnya yang brilliant. Ia menggambar tumpukkan uang yang begitu tinggi. Tak lama lagi Toni si miskin akan berganti nama menjadi Toni si jutawan muda.
Srekk.. Srekk..
Tumpukkan uang keluar dari kertas gambar menyembur tubuh Toni. Limpahan uang seketika memenuhi lantai kamar. Berhamburan kemana-mana.
" Hhuuuu akhirnya aku jadi jutawan.. Akan aku kuasai dunia ini. Hahaha."  Tawa Toni menggema bersama suara uang berserakan.
Hari demi hari Toni lewati menjadi jutawan baru, ia begitu dermawan suka memberi orang-orang miskin makanan dan pakaian gratis. Sahabatnya Efan pun bahagia dan tak menyangka keajaiban memang ada, Efan pun percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
" Aku bangga melihatmu begitu dermawan kepada mereka, aku kira setelah menjadi jutawan kamu akan bersikap sombong." Ucap Efan menepuk bahu sahabatnya.
" Mana mungkin aku sombong, aku kan pernah merasakan apa yang mereka rasakan." Efan tersenyum melihat sahabatnya bersikap seperti ini.
Namun adegan itu hanya sesaat saja, sampai uangnya habis. Toni mulai menggambar tumpukan uang kedua, dengan begitu kesempatannya hanya tersisa satu. Sikap Toni berubah, ia tidak pernah lagi memberi makan orang miskin. Perlakuannya jadi sombong, ia juga mulai berani menyogok guru supaya nilainya bagus, padahal memang tanpa uang juga Toni sudah pintar. Efan bingung dengan sikap Toni, ini bukan Toni, mata, hati dan pikirannya sudah dikotori oleh uang.Toni jadi bersikap seenaknya pada semua orang bahkan pada Efan juga. Namun Efan hanya diam saja, mungkin pikir Efan sikap ini juga hanya sesaat. Semoga.
" Ahhh kenapa uang ku jadi cepat habis begini sih? Aku harus menggambar lagi tumpukkan uang yang lebih banyak dari sebelumnya." Sungut Toni langsung menggambar tumpukkan uang yang lebih banyak.
Benar saja kesempatan terakhir Toni tak ia sia-sia kan, uang nya meningkat 5 kali lipat dari sebelumnya. Toni saat ini sangat kaya raya. Dan tak lupa juga, dirinya semakin sombong.
Sebulan setelah kelulusannya dari sekolah, Toni memikirkan cara apa yang harus ia lakukan agar terus menjadi kaya. Cring.. Ide gila muncul. Toni berencana membeli kekuasaan di pemerintahan kota. Ambisi nya memang ingin menguasai dunia kan?
" Terima kasih pak sudah bekerja sama dengan saya. Akan saya bantu memimpin pemerintahan kota agar selalu sejahtera."
" Tentu saja Toni, saya juga senang bermitra dengan anak muda cerdas sepertimu."  Percakapan pun diakhiri dengan bersalam diantara keduanya.
Melihat tingkah laku sahabatnya itu Efan sudah tak kuat, ia bingung harus berbuat apa. Pikiran dan hati Toni sudah keras, indra di tubuhnya sudah ditutupi sempurna oleh kertas bernominal itu. Tak ingin sahabatnya tersesat lebih jauh, Efan memberanikan diri untuk berbincang dengan Toni.
" Ton bagaimana kabarmu?"
" Oh kau tidak lihat setelan jas mahalku Fan? Tentu saja aku sangat bahagia, hidupku sekarang sempurna." Sombong Toni sambil memegang jas ber-merk nya.
" Aku senang jika kau bahagia Ton. Oiya kenapa kau tidak mendatangi anak-anak di pinggir kota lagi? Mereka merindukan mu tahu."
" Untuk apa aku mendatangi mereka, tak pantas lah jas mahalku ini harus bersanding dengan baju kotor mereka."
" Benar ternyata kau sudah berubah Ton, padahal kau tahu kan mereka sangat menyayangi mu. Uang sudah mengontrol dirimu. Aku kecewa sekali kau bukan sahabat ku yang dulu, aku tidak mengenali dirimu yang sekarang."
" Haha lucu sekali ucapanmu, sudahlah toh aku juga tidak membutuhkan kasih sayang dan cinta kalian sudah pergi saja sana, aku sibuk." Ucap Toni bangkit dari duduknya.
" Tunggu kau ini egois sekali, aku ingatkan kau tak akan bisa bahagia dengan dirimu yang sekarang. Kau seharusnya bersyukur ada yang menyayangimu dengan tulus."
" Ahh aku bisa beli kebahagiaan sebanyak yang aku mau, dan lagi kasih sayang juga bisa kubeli, kamu tidak usah khawatir. Sepertinya kau meremehkan isi kantongku Fan. Ah sudah dah aku pergi." Toni bergegas meninggalkan Efan.
Sekitar 6 bulan Toni putus hubungan dengan Efan dan anak-anak di pinggir jalan itu. Ia punya teman baru sekarang di kantor pemerintahan. Anak muda ini selalu dimanfaatkan oleh orang-orang disana. Bertopeng itulah sifat para petinggi.
Perlahan namun pasti. Keadaan Toni memburuk, uangnya semakin menipis saja di brankas pribadinya. Ia juga terancam di pecat di pemerintahan kota karena kinerja nya yang menurun. Teman-teman petingginya menjauhi Toni, dan beralasan jika Toni ingin meminjam uang padahal teman-temannya itu lah yang dulu lebih suka meminjam uang pada Toni. Ia tidak bisa lagi menggambar tumpukkan uang, penanya sudah menghilang saat ingin mencoba yang keempat kalinya. Ludes, hilang, kosong. Ia sangat merindukan Efan dan para anak di pinggiran kota. Sudah Toni mencari mereka tapi tak pernah terlihat sedikit pun batang hidungnya. Toni kembali ke keadaanya semula, bahkan lebih parah, ia tak punya siapa-siapa saat ini. Sendiri.
Layar besar menyala di tengah kota. Siaran dari berbagai acara ditampilkan di layar itu. Sudah satu tahun setengah hidup Toni luntang-lantung dijalanan mencari sahabatnya yang entah berada dimana. Toni menunduk menyesali perbuatannya dulu.
" Aku sangat bodoh, aku sudah di kontrol oleh kertas ituu." Tunduk Toni menangis di keramaian tengah kota.
Halo sahabat ...
Mata Toni membelalak lebar mendengar suara Efan. Sudut matanya menjelajahi ke sekitar tapi tak menemukan sosok sahabatnya.
Kali ini aku akan menyampaikan hal apa saja yang tidak bisa kita beli dengan uang..
Layar besar itu ternyata menampakkan sosok Efan, ada di iklan.
Ada beberapa hal yang tidak bisa kita membelinya dengan uang.
Satu. Harapan
Dua. Talenta
Tiga. Pengetahuan
Empat. Kenangan
Lima. Kebahagiaan
Enam. Cinta dan yang terakhir
Tujuh. Persahabatan
Jangan lupa akan hal itu, supaya kalian tidak menyesal dikemudian hari..
Salam pagi...
Melihat iklan singkat itu Toni jadi menyadari tak semua bisa dibeli begitu saja dengan uang. 7 hal tersebut hanya bisa kita beli dengan hati kita masing-masing. Uang bukan segalanya. Seketika ia berpikir memang benar uang bisa membuat seseorang bahagia namun tak dapat di pungkiri juga ia bisa merenggut kebahagiaan seseorang secara tiba-tiba.
Karena dengan uang manusia juga bisa saling menyakiti. Uang adalah senjata di era modern ini tanpa kita sadari.

Tamat..














Cerpen 12
Balon Kenangan

Taman tengah kota. Tempat penuh kehangatan yang selalu menjadi destinasi kesukaan seorang pria paruh baya dan juga cucunya. Langit senja seakan menjadi saksi bisu bagaimana erat hubungan antara si tua dan si muda ini. Menikmati hamparan danau, duduk di luasnya rumput hijau disertai jilatan es krim coklat menjadi penutup hari itu, dan juga menjadi awal terbukanya kenangan lama bagi Kakek Gori.
" Yeyy Boni habis duluan, kakek kalah huhu." Boni mengangkat kedua tangan tanda es krim sudah lenyap masuk kedalam perut gembul nya.
" Boni curang kakek kan tidak suka es krim coklat, pertarungan ini tidak sah."
" Kakek kan sudah sering menang, sekarang Boni yang ingin menang habisnya dari kemarin kakek terus. Karena kakek kalah maka kakek harus menceritakan sebuah kisah pada Boni. Kakek sudah janji kan?" Ucap Boni.
" Baiklah kakek kalah, sini dengarkan baik-baik cerita ini ya." Sebelum bercerita kakek tak sengaja melihat tukang balon di sudut kursi taman.
" Tapi syaratnya kamu harus beli balon itu untuk mendengar cerita kakek." Kata kakek sambil menunjuk.
" Hah untuk apa kek? Aku tidak suka balon."
" Nanti juga kau akan tahu Bon, hitung-hitung sebagai bayaran untuk cerita kakek."
Boni menuruti perintah sang kakek demi bisa mendengar sebuah cerita, pasalnya Kakek Gori tak pernah sekali pun membagi sebuah kisah pada sang cucu berbeda dengan nenek nya. Tak lama kakek mulai bercerita.
***
 Suatu hari ada seorang bocah lelaki berusia 10 tahun. Ia tidak mempunyai teman karena bocah ini begitu sombong, selalu merasa dirinya paling pintar diantara teman sebayanya. Sendirian bukan masalah besar, ia memang lebih suka di temani buku ilmiahnya dibandingkan bermain atau berbincang dengan para bocah ingusan yang hanya tau bermain saja. Dia bernama Giri, bocah yang dikenal dewasa terlalu cepat. Tapi tenang saja walaupun ia bersikap dewasa, tetap saja ia masih bocah berusia 10 tahun. Giri sangat menyukai balon, entah apa alasannya, ia hanya menyukai bola terbang itu apalagi jika berwarna warni. Menurutnya itu indah.
 Pada tahun ajaran baru, kelasnya dikejutkan dengan adanya murid baru. Para murid saling berbisik saat murid baru itu masuk pertama kali kedalam kelas. Pasalnya murid ini berbeda dari yang lain, bukan seperti Giri yang dewasa terlalu cepat, melainkan wujud fisiknya yang kurang sempurna. Ia hanya memiliki satu kaki, kaki satunya memakai kaki palsu plastik, tak hanya itu mata kanan nya juga tertutup entah kenapa. Dia bernama Pati. Giri yang melihatnya pun ikut prihatin dengan kondisi Pati, namun ia tak peduli.
Akhirnya Pati menjadi teman sebangku Giri. Giri menerimanya terpaksa. Disinilah semuanya ber-awal.
" Hai aku Pati." Pati menyodorkan tangan kanan nya bermaksud berkenalan. Namun Giri tak mempedulikannya.
" Aku tahu!" Ucap Giri acuh menghiraukan salaman Pati.
" Emm kalau boleh tahu siapa namamu?"
" Giri!" Hening sejenak.
" Apa kau tak keberatan jika aku duduk sebangku dengan mu?" Ucap Pati memastikan, jika Giri keberatan Pati akan pindah ke tempat duduk yang lain.
" Kamu ini banyak tanya sekali! Keberatan atau tidak toh kamu akan tetap duduk disini! Diamlah dan perhatikan saja bukumu." Pati yang mendengarnya pun langsung terdiam tak ingin menganggu lagi.
Seminggu berlalu, Giri masih asyik dengan kesendiriannya begitupun dengan Pati, ia juga tak mempunyai teman, padahal ia suka sekali menyapa setiap orang, tersenyum, membuka obrolan, namun nihil para teman-temannya malah menjauhi Pati, ejekan terus masuk indra pendengarnya.
" Kamu tidak usah berteman dengan kami, aku tak mau mempunyai teman yang bisanya menyusahkan saja. Sana pergi!" Ucap Bob pada Pati yang berusaha berteman.
Giri yang mendengar nya hanya diam saja, sudah ia duga pasti Pati tidak diterima oleh teman-teman dengan kondisi fisik yang kurang sempurna. Biasa anak-anak pikirannya masih kalang kabut.
Perlahan Pati mulai mendekati Giri, sering mengajaknya berbincang walaupun tak didengar, selalu tersenyum walaupun tak di balas, selalu membantu walaupun tidak bilang terima kasih. Lagi walaupun begitu Pati tetap berusaha mengambil hati Giri untuk bisa berteman dengan nya. Namun hanya dari satu ajakan dari Pati perlahan hati Giri mulai meleleh, mulai terbuka.
" Giri kau tahu besok di dekat rumah ku ada festival loh, aku ingin sekali kesana tapi kalau aku pergi sendirian pasti membosankan sekali kan... Wahhh pasti akan sangat seru jika ada yang menemaniku iya tidak Gir?"
Giri sudah tau apa maksud ucapan Pati, tentu saja ia berharap Giri mau pergi ke festival dengan nya. " Hmm jadi?" Jawab Giri cuek.
" Emmm mau tidak kamu menemaniku Gir? Mau yaa aku mohon.."
" Aku tidak suka ke festival, buang-buang waktu!"
" Ah tentu saja kamu tidak akan mau, kamu pasti akan merasa malu kan berjalan dengan teman cacat sepertiku. Hmmm padahal itu festival balon yang kutunggu tunggu." Pati hanya pasrah, lagian Giri tidak akan mau kan?
Mendengar festival balon, Giri berubah pikiran. Pasalnya ia belum pernah pergi ke festival dan ingin sekali pergi kesana. Mungkin ini sebuah kesempatan.
" Untuk menghilangkan pikiran jelek tentang diriku, baiklah aku akan menemanimu ke festival itu." Jawab Giri.
" Yeyyyy terima kasih Giri."
Festival itu menjadi pintu gerbang persahabatan Giri dan Pati. Ternyata keduanya begitu menyukai balon. Giri juga bukan Giri yang biasa lagi, ia Mulai terbuka secara perlahan, walau hanya kepada Pati. Tapi hey itu sebuah kemajuan bukan?
Pati selalu di bully para siswa, namun sekarang Giri lah yang melindungi Pati. Pernah sekali Giri melihat Pati sedang di jahili oleh Bob dan para teman nakalnya, wajah Pati saat itu memar, matanya yg tertutup itu bengkak, Si Bob melepaskan kaki palsu Pati lalu menyembunyikan nya di gudang sekolah. Melihat keadaan sahabat barunya tertindas Giri meluncur menghentikan aksi bocah ingusan itu. Belajar dari mana mereka menindas orang, umur masih 10 tahun sudah berani melakukan tindakan hina.
" Pati kenapa kamu diam saja, lawan jika mereka melakukan penindasan kepadamu! Kau buktikan pada mereka fisik seorang yang kurang sempurna juga tak kalah! Jika kamu diam terus mereka tidak akan berhenti!" Giri marah pada Pati karena diam saja saat ditindas Bob. Bukannya sedih Pati malah tersenyum.
" Akhirnya kamu mengkhawatirkan aku."
" Ti..tidak aku hanya tak suka saja orang yang suka menindas." Giri gelagapan, akan malu sekali kalau diam-diam ia mengkhawatirkan Pati. " Ah sudahlah!"
Sudah satu tahun mereka bersama, dan akhirnya Dua bocah lelaki berbeda ini meresmikan persahabatan mereka, balon menjadi saksi dan simbolnya. Giri menyimpan balon biru yang bertuliskan si abnormal dan Pati menyimpan balon biru juga bertuliskan si normal.
Hari ini festival balon akan ada lagi, tahun sekarang menjadi tahun keempat. Kalau diingat tahun kemarin menjadi awal perasahabatan Giri dengan Pati. Tapi kalau sekarang apa ya?
Mereka pergi membawa balon pertemanan menuju festival. Setelah asyik berjalan, keduanya memilih berdiam di rooftop menikmati keindahan balon berwarna warni yang beterbangan.
" Aku tak menyangka bisa punya sahabat sepertimu Pat. Padahal aku ini orangnya individualis sekali." Kata Giri.
" Apalagi aku.. ku kira tidak ada yang mau berteman dengan bocah cacat seperti aku ini. Kamu tahu aku sangat senang saat kau memarahi ku waktu itu, aku bisa melihat dari kemarahanmu itu di dalam nya ada ke khawatiran. Terima kasih sudah melihat ku selama ini sebagai bocah normal. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya, dan terima kasih lagi sudah mau menjadi sahabat ku. Semoga persahabatan ini tak akan berakhir ya." Tak disangka bocah yang sudah berumur 11 tahun ini menangis.
" Hey ayolah lelaki tidak boleh menangis hanya dengan hal ini kan? Sudah hapus ingusmu itu." Giri terlihat tak suka tapi perlahan mulutnya tersapu keatas. Giri tersenyum. " Hey berjanjilah jangan tinggalkan si bocah dewasa ini oke!" Kata Giri.
" Haha tentu saja aku berjanji." Mereka bersalaman dan berpelukkan seperti pria dewasa. Giri yang mengajarinya.
Angin kencang tiba-tiba saja datang membuat balon yang di genggam Giri terlepas. Sial.
" Oh tidakk balonku." Giri berlari mengejar balonnya. Gawat sekali jika balon persahabatannya hilang.
Pergerakkan Giri terhenti saat balon nya tersangkut di tiang yang tak terlalu tinggi memang, tapi mengingat kondisinya sedang berada di rooftop saat ini, sama saja sangat tinggi.
" Biar aku saja yang ambil Gir, ini aku sudah bawa tangga. Kamu tunggu saja disini oke." Tawar Pati.
" Apa tidak itu berbahaya, sudah biarkan saja balon itu toh kita kan bisa membelinya lagi dan menulis namanya lagi kan." Giri punya firasat tak enak.
" Balon itu tidak bisa digantikan Gir, aku harus mengambilnya, kau tenang saja tidak akan terjadi apa-apa kok." Pati mulia menaruh tangga nya, dan bersiap naik.
" Kau nekat Pat jangan lakukan itu." Teriak Giri. Perasaan nya semakin gelisah.
Pati mulai naik satu persatu pijakan, tak lama ia mulai meraih balon itu. Dan dapat.
" Lihat Gir sudah ku bilang kan tak akan apa-apa." Pati berteriak sambil memegangi balon bertuliskan si abnormal .
" Ya sudah cepat turun dari situ, pelan-pelan!" Teriak Giri. Perasaan gelisah nya mulai menghilang ketika Pati mulai turun secara perlahan.
Namun naas perasaan itu hanya bertahan sesaat. Di pijakan ke 6 Pati terpeleset, tangganya bergoyang tak seimbang. Pati tak bisa menahan tangga itu. Perlahan tangga nya mulai jatuh kearah kanan yang langsung menghadap kebawah sana.
" PATI TIDAKK.." Teriak Giri, melihat Pati perlahan jatuh dari atas rooftop ini.
Pati jatuh dari ketinggian 70 meter, balon yang Pati ambil terbang begitu saja. Naas nyawa Pati tak tertolong, ia meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan banyak darah.
Giri tak bisa apa-apa, hatinya sakit dan hancur. Deraian air keluar dari kedua mata Giri. Baru saja ia mendapatkan teman terbaik namun tak bertahan lama sahabatnya meninggalkan Giri begitu saja. Sendiri. Ia masih tak percaya kemarin adalah hari terakhirnya bersama Pati, teman yang sudah merubah dirinya perlahan.
" Pati padahal kau sudah berjanji akan menjaga pertemanan ini kan, kau bohong Pat.. Kau bohong.. Hiks.. Hiks.." Giri tak kuat menahan tangisannya di depan makam Pati. " Aku tak akan pernah melupakan mu Pat, kau dengar ini, Kamu adalah sahabat terbaik ku. Kau sangat sempurna Pat, kebaikan, ketulusan, dan ke ikhlasan hatimu membuat mu lebih sempurna di bandingkan fisik ku Pat."  
Ikhlas itu yang berusaha Giri tanamkan di dalam hatinya. Sebelum pergi ia menaruh balon biru di batu nisan Pati sebagai tanda keabadian persahabatan mereka.
***
" Hiks..hiks..hikss.. Cerita kakek sedih sekali, semoga Pati bisa tenang di alam sana ya kek." Ucap Boni setelah selesai mendengarkan cerita Kakek Gori.
" Apa kau mau menemui Pati, Boni?" Tawar kakek Gori pada cucunya.
" Tentu saja kek aku mau, aku ingin mendoakan Pati, ayo kita kesana sekarang."
Kakek Gori pergi ke makam Pati bersama cucunya Boni. Sesampainya disana Kakek Gori melihat keadaan balon yang iya taruh puluhan tahun lalu, sudah rusak hanya potongan-potongannya saja yang tersisa. Ya yang diceritakan Kakek Gori pada Boni adalah kisahnya, ia tak kuasa mengingat kejadian dulu. Namun sekarang Kakek Gori sudah ikhlas, iya yakin Pati pasti sudah tenang di alam sana. Dan sebelum pergi Kakek Gori dan Boni menaruh dua buah balon berwarna biru di sisi kanan dan kiri batu nisan Pati yang bertuliskan si normal dan si abnormal pada masing-masing balon. Simbol tanda persahabatan mereka.
Bagi kakek Gori balon sangatlah bermakna. Balon menjadi pusat kebahagiaan sekaligus pusat kesedihan bagi kakek Gori. Kisah membahagiakan dan mengharukan ada di dalamnya.
Tamat...








Komentar