Cerpen karya Rula Abiyya
"Bendera Hitam"
"
Kau pasti bercanda?" Satu
kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut kami ketika mendengar sebuah
tantangan tak masuk akal itu.
Besok Distrik Bintang
akan mengadakan perlombaan untuk memperingati kematian pemimpin mereka yang tewas
dalam perang . Perlombaan yang Depan seorang anak berumur 12 tahun juga tidak
tahu jelas teknisnya seperti apa. Hanya panitia dan peserta saja yang
mengetahuinya. Perlombaan ini dilakukan 2 tahun sekali dan berbeda judul disetiap
tahunnya,
dan tahun ini perlombaannya diberi nama 'Bendera Hitam'.
" Depan cepat
kemari, pak Lay mencari mu dari tadi." Teriak Zen panik.
Depan berhenti dan memilih
diam saja di tanah yang ia pijaki, tak berminat sedikitpun kakinya melangkah mendekati Zen . Ya
Depan tau kenapa Pak Lay mencarinya maka dari itu sedari tadi Depan bersembunyi dibalik
pepohonan. Melihat Zen hanya menatapnya saja Depan dengan gesit berlari lagi menuju
tempat persembunyiannya.
" Ya ampun anak
itu, hei Depan jangan kesana kau akan dapat masalah!" Yap tepat sekali
Depan memang akan dapat masalah, pasalnya saat Depan berlari ia menabrak tubuh
seseorang yang tak lain adalah Pak Lay.
" Depan kau
memang ceroboh, jangan berusaha lari lagi dariku ingat!"
" Pak kumohon aku
tidak ingin mengikuti lomba yang tak jelas itu, bagaimana jika aku mati atau
terbunuh apa bapak akan bertanggung jawab?" Depan sangat tidak mau
mengikuti perlombaan itu, pasalnya ia belum pernah mendengar ada yang menang
dalam perlombaan tak jelas tersebut.
" Kau sudah
berulang kali mengatakan itu apa tidak ada alasan lain? Dan percuma saja kamu menolak nama mu
sudah terdaftar di perlombaan besok." Pak Lay sangat bahagia melihat
ekspreksi kesal dari Depan.
" Ekspreksimu membuat ku tak sabar
menunggu hari esok datang. Semoga
berhasil nak buatlah pemimpin distrik mu ini bangga. Oh dan ingat pesanku ini
ya 'jangan mudah percaya pada fakta yang
belum kau ketahui'. Pesan itu menjadi penutup dari percakapan mereka,
keduanya langsung pergi begitu saja dan bersiap menghadapi hari esok.
Sorak pendukung
terdengar heboh di luar ruangan peserta dan itu membuat Depan semakin gugup
saja. "Apa - apaan
ini menjengkelkan sekali." Gumam Depan pada dirinya.
" Ayo semua
berkumpul, 15 menit lagi kalian akan keluar dan siap untuk bertanding. Sebelum
itu semua peserta akan diberi tahu bagaimana teknisnya jadi pasang telinga kalian
baik-baik." Jelas Bu Alis selaku panitia.
" Saya akan
membacakan peraturan terlebih dahulu.
Peraturan perlombaan:
1. Peserta tidak
diperbolehkan melakukan tindakan curang, kekerasan dan semacamnya.
2. Peserta harus
memakai pakaian yang sudah panitia siapkan.
3. Peserta tidak boleh
bekerja sama dengan peserta lainnya dalam hal apapun.
Selanjutnya saya akan
menjelaskan teknis perlombaan.
Teknis perlombaan
sederhana saja kalian hanya diminta untuk mencari 5 bendera yang tersebar di
Hutan Bayangan. 5 bendera itu masing masing berwarna putih, kuning, biru, merah
dan hitam. Dan waktu kalian hanya diberi satu jam saja untuk menemukan ke 5
bendera tersebut. Mudah sekali kan."
" Apa?!
Perlombaan macam apa itu apa ia pikir hutan bayangan itu kebun kecil hah?! Tak masuk
akal sekali." Gerutu Depan diakhir penjelasan bu Alis. Tanpa permisi pak Lay menambahkan
penjelasan yang sebelumnya sudah disampaikan oleh bu Alis.
" Tunggu masih ada yang belum kalian
ketahui dari perlombaan ini. Kalian bisa dengan mudah menemukan 4 bendera itu
tapi tidak dengan bendera satunya yang berwarna hitam. Baiklah saya akan
membocorka nya sedikit, bendera hitam itu terletak di tempat yang tidak
terpikirkan oleh kalian, saat kalian ingin mengambil bendera hitam itu kalian tak butuh
senjata atau apapun cukup keberanian saja yang kalian butuhkan. Karena tempat si hitam
ini susah dijangkau.
Banyak sekali hewan penghisap darah dan tumbuhan beracun, jika kalian tidak
hati-hati kalian tahu sendiri apa akibatnya." Penjelasan pak Lay ini membuat
semua peserta diam sejenak, mungkin butuh waktu untuk mencerna perkataan
pemimpin distrik gila ini. Tak lama kemudian semua peserta terkekeh secara
serentak " Kau pasti bercanda?!" gila ini benar - benar gila dan lagi – lagi tak masuk akal.
“Pak Lay apa aku boleh
mengundurkan diri saja?" Tera mengangkat tangannya pasrah. Dalam benaknya
ia tidak ingin mati sekarang. Ibu tolong aku.
" Tentu tidak
tera kau tidak bisa lari pada ibumu kali ini."
" Apa kau ingin
mengurangi populasi anak –
anak lucu
di distrik bintang ini?" Ucap Leo spontan.
" Apa? Hahaha
melihat kalian seperti ini aku semakin tak sabar memulainya. Oke 15 menit sudah
berlalu mari kita lihat apakah akan ada pemenang di tahun ini?" Tanpa basa
basi Pak Lay mengibarkan bendera hijau tanda perlombaan telah dimulai.
"Putih....
Kuning.... Biru.. Ya ampun ini mudah sekali aku kira pak Lay akan meletakkan bendera satu dengan
yang lainnya berjauhan, nyatanya ia meletakkan hanya berjarak 15 meter saja. Jika
seperti ini kenapa tahun – tahun
yang lalu tidak ada yang menang? Entahlah lebih baik aku mencari 2 bendera yang
tersisa saja." Ucap Depan dengan semangat, ia pikir ini menyenangkan juga
ia salah telah berpikir perlombaan ini tak menarik.
Semakin jauh Depan
memasuki Hutan Bayangan ini namun belum menemukan 2 bendera yang tersisa itu.
"Hey itu dia
bendera merahnya, cukup jauh juga si merah ini diletakkan." Depan langsung
mengambil bendera merah itu. Tapi tak disangka ia sudah memasuki daerah pesisir
pantai yang lumayan jauh dari distriknya. Tanpa ancang-ancang depan melangkah
keluar dari hutan menuju sisi pantai karena ia dapat melihat bendera hitam itu
terlerak di batu besar. Peserta lain pun ternyata sudah menunggu di sisi pantai
mereka hanya diam karena takut mengambil si hitam yang notabenenya terletak
hampir di tengah pantai.
"Benar aku tak
terpikir bendera itu akan diletakan di air." Ucap Zen takjub.
"Kenapa kau tidak mengambilnya Zen?
Dengan begitu kau akan menang." Ucap depan pada Zen.
"Apa kau lupa pesan dari
pak Lay? ia bilang tempat menuju bendera itu berbahaya banyak hewan penghisap
dan tumbuhan beracun! Bagaimana saat aku berenang kesana aku mati Pan?"
mendengar kata pesan, Depan jadi ingat pesan lain dari pak Lay 'jangan
mudah percaya pada fakta yang belum kau ketahui'. Ya benar mungkin saja pak Lay
membohongi para peserta, tidak ada yang tahu jika tidak ada yang mencoba. Tanpa ragu
depan melepaskan ransel serta sepatunya dan langsung berenang menuju si hitam.
"Depan jangan
kesana kau bisa mati, Depan aku tidak mau kehilangan mu hiks.." Tangis Zen
pecah.
Setelah kejadian nekat Depan
berenang menuju bendera hitam, pak Lay mengumumkan sang pemenang.
" Mari kita
sambut pemenang pertama kita Depan." Sorakan penonton terdengar ricuh melihat
depan berhasil memegang bendera hitam. Semuanya tidak menyangka Depan akan
memenangkan perlombaan ini. Bagaimana bisa?
" Depan kau hebat
apakah kau bertarung dengan hewan penghisap darah itu?" Kata Tera
penasaran.
" Tidak ada
apa-apa disana semuanya aman."
" Ya benar tidak
ada apa-apa didalam sana." Ucap pak Lay memotong pembicaraan Depan dan
Tera.
" Selama ini aku membohongi para peserta
dengan iming-iming itu. Aku menguji kalian apakah kalian percaya begitu saja
pada ucapan ku yang belum kalian ketahui faktanya, aku juga menguji
keberanian para peserta sudah sejauh
mana." Jelas pak Lay.
" Benar juga aku
jadi menyesal mempercayai mu pak Lay, kenapa tidak bilang dari awal saja?"
Protes Leo.
" Justru itu tantangan nya leo. Bapak
hanya berpesan jangan mudah percaya dengan perkataan orang lain. Intinya kalian
harus berani mencoba karena jika kalian hanya percaya tanpa mencoba itu sangat
sia-sia nak."
Ya dengan penjelasan
dari Pak Lay para peserta baru mengerti tujuan dari perlombaan ini. Ayo cobalah
jangan takut.
Tamat
"
Buku untuk Ibu "
Tanpa permisi langit
biru digantikan begitu saja oleh sang senja. Jika senja sudah datang begini
Syifa, anak semata wayangnya itu sudah duduk santai menoton televisi ditemani teh hangat
kesukaannya. Tapi tidak untuk hari ini, tak biasanya Syifa pulang telat seperti
ini, Syifa selalu mengabarinya terlebih dahulu jika ada sesuatu, tapi hari ini
ia tidak dikabari anaknya sama sekali.
Ting tong... Ting tong... Bunyi
bel rumah terdengar nyaring. Di benak Bu Selena pasti itu Syifa. Ya insting
seorang ibu memang tak salah saat pintu di buka nampak lah anak satu satunya
itu dengan ekspreksi senang, tak biasanya.
" Assalamualaikum ibu."
Ucap Syifa sembari mencium tangan ibunya.
" Kenapa kamu baru pulang
nak? Dan kenapa tidak mengabari ibu jika akan pulang telat seperti ini? Ibu
benar-benar khawatir."
" Maafkan Syifa telah
membuat ibu khawatir seperti ini, hp Syifa tadi mati jadi tidak bisa mengabari
ibu." tutur Syifa merasa bersalah kepada sang ibu.
" Yasudah tapi lain kali
jangan seperti ini lagi ya. Sekarang ganti bajumu, ibu akan menunggu di meja
makan." Titah ibu pada Syifa. Makan malam sudah siap, tinggal menunggu
Syifa keluar dari kamarnya.
" Ibu perhatikan sepertinya
kamu lagi senang apa terjadi sesuatu?" Ibu sangat penasaran makanya ia
bertanya. Aneh saja melihat anaknya dari tadi senyum-senyum sendiri.
" Ibu tahu tidak, tadi Nana
bilang jika tulisan ku sudah diterima oleh penerbit, belum ada kabar sih tapi
aku tak menyangka tulisan ku bisa diterima." Percikan kebahagian Syifa sepertinya
tidak berhasil mengenai ibu, karena saat mendengar itu ibu benar-benar menahan
amarahnya. Ibu mencoba bersikap santai menanggapi Syifa, tak sopan jika ibu
mengamuk di depan makanan, itu bukan contoh yang bagus.
" Jadi kamu pulang telat
gara-gara itu? Ibu curiga kau tidak mengabari ibu karena terlalu sibuk dengan
tulisan apalah itu ibu tidak tahu tak jelas." Tenang sekali ibu membalas
pernyataan Syifa tapi entah kenapa perkataan nya tetap tajam.
" Bukan seperti itu bu hp ku
memang mati, jika ibu belum menerima maaf Syifa tak seharusnya ibu menyebut
tulisan ku tak jelas."
" Apa kamu lupa pesan ibu
dari dulu, kamu itu tidak boleh menulis! Jangan buang waktumu hanya untuk
tulisan fiktif mu Syifa! Sebentar lagi kau akan lulus SMA fokus kan dirimu
untuk mendaftar kedokteran. Hidup seorang penulis itu tak jelas, jika buku yang
dibuat buat tak laku dipasaran mau makan apa? Kertas? Itu tidak cukup!" Emosi
ibu tidak bisa ditahan lagi, bagaimana tidak ibu selalu mengingatkan anak itu
jangan menulis lagi tapi ia tak pernah mendengarkannya. Perkataan ibu seperti
angin yang tidak dipedulikan sama sekali.
" Ibu kumohon jangan paksa
aku. Aku tidak ingin jadi dokter itu bukan keahlian ku! Aku ingin menjadi
seorang penulis bu aku tau yang terbaik untuk diriku sendiri kedepannya."
" Ibu bilang tidak ya tidak
kamu sudah berani melawan ibu mu hah?! Ibu selalu tau mana yang terbaik untuk
anaknya. Paham?! Sekali lagi ibu mendengar kau ingin jadi penulis tak segan ibu
membawa mu tinggal bersama paman." Tak mau membentak ibunya, Syifa berlari menuju
kamar sambil tak kuasa menahan air matanya yang sudah berceceran.
" Ya ampun tak seharusnya
aku membentak Syifa sperti itu. Tapi nak ini yang terbaik untukmu ibu
tahu."
Akibat kejadian malam
itu, sudah beberapa hari ini ibu dan Syifa tak saling menyapa. Keduanya hanya
berbicara jika ada perlunya saja. Suasana dirumah ini benar-benar kaku karena
keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Sudah lebih dari 3 hari ibu dan
Syifa tak saling menyapa, dan mau tak mau akhirnya ibu mengalah. Ia sangat
rindu suara anaknya itu,
ia juga rindu candaan mereka saat senja.
"Tok.. Tok.. Tok.. Syifa ayo
kita makan ibu sudah membuat makanan kesukaan mu." ketukan ibu belum juga
dibalas dengan pintu terbuka. Ini aneh suara didalam kamar Syifa hening sekali
seperti tidak ada penghuninya. Sekali dua kali berkali kali ibu mengetuk pintu
kamar Syifa tapi nihil tetap tak ada jawaban dari anak itu. Terpaksa ibu
membuka kamarnya menggunakan kunci cadangan.
" Syifa kenapa kam.." Belum sempat
melanjutkan perkataan nya ibu sudah dikejutkan dengan kamar Syifa yang rapih
dan tak berpenghuni.
" Kemana anak itu sepertinya
dari kemarin ia berada dikamar terus. Dua hari yang lalu aku masih melihatnya
mengambil makan.Ya ampun apa jangan-jangan anak itu.." Dugaan ibu terhenti
sejenak ketika melihat secarik kertas coklat diatas kasur Syifa.
' Bu
maafkan syifa beberapa hari ini tidak menyapa ibu sama sekali, itu karena aku
kecewa dengan ibu. Aku tidak meminta uang, hp baru, baju dan lainnya yang aku
ingin kan hanya satu bu dukungan ibu itulah keinginan terbesar ku selama ini.
Aku ingin sekali ibu mendukung ku menjadi seorang penulis tapi sepertinya sulit
bagi ibu melakukan itu. Entah berapa lama aku akan meninggalkan rumah, aku
benar-benar minta maaf bu. Aku tahu sifat ku ini masih kekanakan tapi ada
alasan tertentu aku melakukan ini semua. Ku harap untuk kali ini saja ibu
mengerti. Jangan khawatirkan aku bu aku akan baik-baik saja dan kelak saat aku
tiba di rumah aku janji ibu pasti akan bangga kepada anak mu ini.
Salam
Syifa.'
Lagi - lagi insting seorang ibu
taakan meleset, benar saja syifa kabur dari rumah. Diantara sedih dan kecewa
yang ibu rasakan saat ini, kenapa Syifa nekat melakukan hal ini? Jika ayahnya
tahu pasti Syifa akan dapat masalah. Nasi telah menjadi bubur ibu tak bisa
melakukan apa-apa kecuali menunggu dan ikut dalam permainan yang anaknya buat.
Berminggu minggu telah
berlalu begitu cepat. Dan ibu belum mendapat kabar sama sekali dari anak gadis
nya itu. Jujur saja ibu sangat merindukan Syifa ia benar benar penasaran sedang
apa anaknya sekarang sudah makan atau belum, dan sebenarnya apa yang gadis itu
rencanakan. Disela sela lamunan, ibu mendengar suara khas dari lonceng sepeda
siapa lagi jika bukan pak Wandi pengantar koran di komplek ini. Karena bosan
ibu pun membaca koran. Biasanya ibu sama sekali tidak tertarik membaca koran,
jika disuruh memilih ibu lebih suka menonton berita di tv daripada membaca
koran yang tak berwarna. Membosankan.
" Penulis muda
berbakat." ibu membaca judul yang ada dihalaman pertama koran tersebut.
Entah kenapa seperti ada bisikan bahwa ibu harus membacanya. Di sana tertulis penulis muda ini membuat cerita tentang
sang ibu, ceritanya menarik dengan bahasa yang mudah dimengerti, menyentuh sekali,
rencananya buku ini akan resmi diterbitkan Sabtu ini dan penulis akan ikut
serta mempromosikannya. Dan juga tertulis dimana sang penulis akan
mempromosikan buku ini. Jangan sampai ketinggalan.
" Keren sekali anak muda
ini, aku jadi penasaran apa isi bukunya. Karena banyak yang bilang bagus Sabtu
ini aku akan kesana dan membelinya." Sekejap ibu melupakan soal Syifa yang
ingin jadi seorang penulis.
Sesuai yang tertera di koran
lalu, hari ini ibu akan pergi ke penerbitan buku 'Sahabat hidup' ya ternyata itu judul buku tersebut. Kebetulan
sekali ketika ibu baru sampai sang penulis pun baru memulai promosinya. Dari
jauh ibu seperti tak asing melihat gadis muda berbakat itu.
" Tak salah lagi aku seperti
mengenal sekali gadis itu, tapi kenapa buram ya apa ada masalah dengan lampu
disini." Beberapa menit ibu menalaah gadis itu tapi tetap saja buram. Satu
detik, dua detik, beberapa detik akhirnya pikiran ibu mulai menemui titik
terang.
" Ya ampun aku baru sadar
tidak memakai kacamata. Pasti ada di tas." Setelah ibu memakai kacamata
betapa terkejutnya ibu melihat Syifa anaknya berada di sana. Ya ternyata
penulis muda berbakat itu adalah anaknya yang sudah sangat ia rindukan. Bangga,
terharu, bingung bersatu padu di benak ibu. Syifa menceritakan sedikit mengenai
buku yang ia tulis. Katanya buku ini diambil dari kisah ibu dengan dirinya,
bagaimana sang ibu bisa memainkan beberapa peran dalam drama hidupnya. Bisa
menjadi seorang ibu, kakak, teman, sahabat, musuh. Mendengar cerita singkat itu
Bu Selena tak kuasa menahan air matanya ternyata selama ini Syifa selalu
mengingatnya. Tanpa Ibu sadar seseorang memanggil nya.
" Ibu yang di pojok sana Ibu
Selena. Ia adalah ibuku." Tutur Syifa di akhir penjelasan mengenai
bukunya. Syifa sudah menyadari sejak awal ibu nya berada disana ia hanya
pura-pura tidak tahu. Syifa berharap dengan ini ibunya bisa menerima jika ia
akhirnya memilih menjadi seorang penulis bukan seorang dokter sesuai keinginan
sang ibu.
Ibu benar-benar tak menyangka
anak gadisnya itu akan melakukan hal tersebut. Tangisan pun tak bisa ditahan
lagi air sudah dengan sempurna membasahi pipinya.
' Ya
benar syifa selama ini benar. Ia tahu mana yang terbaik untuk masa depannya,
menjadi penulis adalah pilihan yang terbaik. Mungkin selama ini aku selalu
berpikir, aku seorang ibu selalu tahu mana yang terbaik untuk anaknya. Tapi
nyatanya tidak semua harus berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Di
detik ini juga aku tak boleh bersikap egois, aku tak bisa mengatur syifa dengan
keinginan ku semata. Setiap mimpinya, keinginan nya akan selalu aku dukung. Aku
tak berhak mencampuri mimpinya lagi, aku sebagai seorang ibu tak mau menghambat
kesuksesan dan pilihan Syifa. Karena semua ini yang menjalaninya Syifa bukan
dirinya. Tugas ku sekarang menjadi suporter sejati dari anak ku dan mendukung
semua mimpi dan cita-cita nya.'
Tamat
" Surat Terakhir "
Suka
pada seseorang. Hal itu sudah lumrah dikalangan anak muda pada masa ini, bahkan
anak SD dan SMP pun sudah merasakannya. Begitu pula dengan Risa, suka kepada
seseorang sering ia rasakan tapi tidak dengan pacaran. Ya seumur hidupnya
hingga sekarang ia sudah duduk di bangku SMA Risa belum pernah pacaran.
Terkadang ia merasa miris dengan anak - anak jaman sekarang, yang badannya saja
masih kecil tapi sudah mengerti apa itu pacaran. Terlepas dari itu Risa merasa
bangga bisa masuk kalangan minoritas di antara remaja. Yang tak lain dan tak
bukan adalah tak pernah 'Pacaran'.
" Alhamdulillah
aku masih polos." Kalimat itu sering dilontarkan Risa jika ada yang
mengatainya. Tapi gara - gara kepolosan itu Risa juga sering disakiti oleh
orang yang ia sukai. Belum berpengalaman. Seperti saat itu ketika, Ana
sahabatnya mengenalkan ia dengan Aris.
" Sa aku sudah
menemukan penyemangat sekolah untukmu. Namanya Aris dia anak Alam 5, tak hanya
tampan ia juga aktif di banyak eskul seperti PMR, Paskibra dan PKS. Kamu pasti
suka." Tutur Ana panjang lebar.
" Yang mana sih
orangnya? Aku hanya pernah mendengar namanya saja, tapi orang nya aku tidak
tahu."
" Nanti aku
tunjukkan jika orangnya ada." Risa hanya iya iya saja dengan pilihan Ana.
Toh memang benar ia sedang mencari penyemangat sekolah.
Tak ada guru menjadi
surga dunia bagi kelas Risa Alam 1. Ia bisa bebas melakukan apa saja seperti
saat ini, Risa memilih mengobrol bersama Ana, Ina, Endi dan Ijal. Disela sela
lawakan Ina, Ana dengan tak sopannya membahas Aris yang istilahnya akan di
jodohkan oleh Risa. Karena kebetulan Endi adalah teman akrab Aris.
" Kalian tahu
tidak sekarang Risa lagi menyukai Aris." Ucap Ana seenaknya. Mau tak mau
serbuan kata 'Cie' masuk kedalam telinga Risa.
" Sa aku punya
kontak mamah nya Aris, mau chattan ga? Mamahnya Aris
orangnya asik kok." Kata Endi disertai kekehannya.
" Tidak, tidak untuk apa? Aku
saja belum mengenal Aris." Protes Risa. Tanpa sepengetahuan Risa dengan
teganya Ina mengetik pesan kepada mamah Aris di hp Endi. Sadis nya lagi Ina
mengetik " Mamah Aris ini Risa. Risa suka sama Aris." Nekat memang
sahabatnya ini kompak mengerjai Risa. " Sebelum deketin anaknya, deketin
dulu mamahnya."
Ina benar - benar sudah gila. " Eh mamahnya sudah membalas katanya, Tidak
apa-apa jika kalian dekat asalkan saling memotivasi." Kata Ijal antusias.
Mereka semua memang keterlaluan.
Berlalu lah kejadian
itu. Dari kemarin Risa belum juga mengetahui yang namanya Aris. Pernah pada
saat itu Ana menunjukkan Aris tapi ia tidak melihatnya terlalu jelas. Sampai
akhirnya saat Risa menemani Ana ke toilet secara tak sengaja, ia berpapasan
dengan Aris. Ya dan disitulah Risa mulai menyukai Aris.
Hari demi hari Aris selalu
mengunjungi kelas Alam 1, katanya ingin bertemu dengan Endi. Kunjungan rutin
Aris ke kelasnya membuat Risa salah tingkah, jantungnya selalu berdetak tak
normal jika Melihat Aris. Dan itu pertanda rasa suka Risa semakin bertambah.
" Risa sini ada
Aris lohh" Kata Endi mengompori. Sudah tau jika di ejek begitu Risa
semakin malu dan tak bisa mengontrol perubahan warna pipinya yang menjadi merah
semu.
" Jika kamu malu
terus, kapan bisa dekat dengan Aris? Payah sekali. Hmm kalau begitu aku tantang
kamu, jika kami berhasil aku akan traktir. Bagaimana?" Risa pun tertarik
dengan tantangan Ina. Lumayan perutnya bisa kenyang tanpa mengeluarkan uang.
" Baik aku terima
tantangan mu, jika aku berhasil kamu harus menepati janji yang kau ucapkan tadi
ya!"
" Siapa takut,
buktikan dulu!"
Tantangan yang lumayan
berat memang tapi apa boleh buat Risa telah menerimanya, mau tak mau harus
dilakukan. Ide pun muncul di benak Risa, sepertinya akan bagus jika ia
membuatkan roti saja untuk Aris. " Ya kurasa roti ide bagus." Rasa
percaya diri nya sudah tingkat dewa sekali. Ia yakin pemberiannya ini akan
diterima. Namun rasa percaya diri itu tak bertahan lama. Esoknya nyali Risa
tiba - tiba menghilang begitu saja entah kemana seperti, tulisan yang terhapus.
Benar-benar hilang.
" Ya ampun ini
bukan ide bagus. Aku harus bagaimana? Kenapa tiba-tiba aku jadi tak percaya
diri begini? Padahal semalam aku yakin bisa melakukannya! Tidak, tidak, tidak!
Aku tidak mau melakukannya!" keluhan demi keluhan di senandungkan pada
dirinya sendiri. Ia jadi menyesal kenapa pula waktu itu dia menerima tantangan
dari si licik Ina. Dasar Ina menyebalkan. " Risa cepat diluar ada Aris kau
harus memberikan roti itu sekarang!" Ana menarik narik tangan Risa agar ia
segera memberikan roti itu. " Iya iya tapi jangan di tarik seperti ini aku
jadi semakin gugup."
" Oke aku
lepaskan. Cepat kami melihatmu dari sini, semoga berhasil." kata Ana
sembari melepaskan tarikan nya pada tangan Risa.
Oke aku bisa. "
Eh ada Aris." Ucap Risa berbasa basi.
" Eh ada Risa
juga." Balas Aris.
Ya ampun aku harus
bertanya apa lagi? Sial seribu sial. Ia terus memyumpahi dirinya sendiri yang
kelewat bodoh. Tapi Aris benar-benar sang penyelamat, tanpa aba-aba Aris dengan
sendirinya bertanya pada Risa. " Risa kamu bawa apa?"
Tanpa berpikir panjang
dengan polosnya Risa memberi kantong kecil berisikan roti itu pada Aris. "
Ah ini untukmu cepat ambil."
" Apa? Ini apaan?
Kenapa tiba-tiba memberikan ini? Jadi merepotkan."
" Buka saja nanti
juga tahu." Entah polos atau kelewat polos Aris membuka isinya begitu saja
saat itu juga. Ya Tuhan kenapa ia membukanya sekarang, ingin rasanya Risa kabur
tapi ia tahu itu bukan ide bagus.
" Oh roti, aduh
aku jadi tidak enak. Ini sangat merepotkan." Ucap Aris tak enak. "
Tidak merepotkan sama sekali kok.
Silahkan dimakan."
" Tapi aku tidak
mau makan sendiri. Kau juga ikut makan oke?" Apa apaan itu? Perkataanya
membuat Risa seperti dihujani permen kapas. Benar-benar manis. " Ah
baiklah." Keren. Bukan-bukan, tapi
sangat keren. Risa dapat melakukan tantangan dari Ana.
Setelah kejadian roti
itu Aris semakin bersikap baik kepada Risa. Bahkan beberapa kali Aris bersama
Endi menemani Risa sampai Ayah Risa menjemputnya. Respon baik Aris padanya
membuat Risa nyaman. Tak pernah ia merasakan suka terhadap seseorang sampai
begini. Aris memang berbeda.
Tapi semua itu
lagi-lagi tak bertahan lama. Disaat Risa sudah sangat menyayangi Aris, bahkan
para sahabatnya pun bilang jika Aris juga tertarik dengan Risa. Pernyataan itu
hanya sebuah kebohongan. Ternyata oh ternyata Aris bersikap baik dan merespon
baik pula kepada Risa, itu semua hanya karena Aris tidak enak dengan Risa yang
juga baik padanya. Aris bingung harus berbuat apa pada Risa. Jadi mau tidak mau
ia melakukan itu. Bahkan Risa pun dibuat terkejut dengan ucapan sahabat lain
Aris yaitu Nazir.
" Ya jadi Aris
sudah lebih dulu dekat dengan Lili sebelum Aris dekat dengan mu Risa. Aku sudah
bilang pada Aris untuk memilih salah satu diantara kalian tapi waktu itu ia
masih saja bingung. Sampai akhirnya Aris pun memutuskan lebih memilih Lili
bukan karena apa-apa, tapi memang Aris sudah lebih mengenal Lili dibandingkan
dengan mu. Risa aku benar - benar minta maaf telah mengatakan ini. Tapi disisi
lain aku juga harus mengatakan kebenarannya, aku tidak mau jika nantinya
melihat mu tersakiti oleh Aris. Jadi aku mengatakannya sekarang agar kamu bisa
melupakan dia dengan mudah." Penuturan Nazir sudah sangat jelas di telinga
Risa. Ia pun sudah jelas harus melalukan apa, yup merelakan Aris bersama yang
lain.
" Ahh jadi begitu
lucu sekali. Terimakasih berkat mu aku jadi tau kebenarannya, dengan begitu aku
jadi tak usah berharap lagi dengan Aris. Sekali lagi terima kasih." Ucap
Risa menahan sakit di hatinya. Ya hati Risa seperti ditusuk oleh ribuan anak
panah benar-benar sakit.
Keseokan harinya Risa
memutuskan menulis surat untuk Aris.
Assalamualaikum Aris.
Maaf
jika selama ini aku merepotkan mu dan membuat mu tak nyaman dengan segala
tingkah ku yang begini. Maaf jika aku selalu membuat Aris merasa bingung, tapi
itu tidak akan Aris rasakan lagi. Kamu pasti tahukan kalau aku menyukai mu,
tapi aku mohon jika kamu awalnya sudah dekat dengan orang lain tak seharusnya
kamu merespon baik semua perlakuan ku. Itu sama saja kamu seperti memberi
harapan kosong. Terima kasih sebelumnya telah berbuat baik kepadaku. Dan sekali
lagi Risa benar - benar minta maaf.
Ya itu menjadi sura
terakhirnya untuk Aris. Ia tak mau lagi berhubungan dengannya. Jujur saja Risa
adalah tipe orang yang tak mau lagi berurusan dengan orang yang pernah
menyakitinya seperti ini. Teman ya aku bisa menjadikannya teman. Tapi hanya
sebatas teman saling mengenal saja tak lebih.
Dengan
kejadian itu Risa jadi banyak belajar, ia tak boleh terlalu berharap dengan
manusia yang entah bisa mengabulkan harapannya atau tidak. Tuhan, hanya kepada-Nya kami
berharap, tak
ada yang lain selain Dia. Dan kejadian itu juga membuat Risa sekarang ingin
sekali menjaga hatinya agar tak mudah menyukai orang lain. Risa merasa kesal
dengan perbuatannya dulu, ia baru sadar ternyata dulu ia mudah sekali di bodohi
dengan orang-orang. Menyesal? Tidak, tak perlu disesali apa yang telah terjadi,
toh kejadian itu juga nyatanya membawa sebuah pelajaran agar kita tak
mengulanginya lagi dan bisa berhati-hati. Bahkan Risa merasa senang jika ia
melakukan kesalahan. Karena kesalahan dapat membuat nya bisa menjadi lebih baik
lagi dan lebih baik lagi. Sekarang tujuan Risa adalah membahagiakan orang -
orang yang dia sayangi, melanjutkan cita-cita nya menjadi seorang Dokter, bukan
melanjutkan cinta cinta yang tak jelas. Toh Risa pun masih SMA perjalanan nya
masih panjang, untuk apa memikirkan hal-hal yang hanya membuang waktu berharganya.
Biarkan jodoh datang dengan izin Tuhan. Karena Tuhan tak akan memberi kita
jodoh yang salah.
Tamat
“Anna
dan Dunianya”
Timepin itu pun
berhasil di rebut oleh Roger dari pedang perak milik Oamus...
Peluru demi peluru di
tembakan kearah para pemberontak yang menentang percobaan 'humans'......
Sumur tanpa ujung itu
akhirnya membawa sang gadis ke tempat yang asing nan indah. Sejenak ia berpikir
apa ia masih berada di dunia nyata?....
Yups itulah kebiasaan
ku jika sedang bosan dan merasa sendiri. Berkhayal. Peri, kerajaan, kehancuran
dunia, percobaan aneh, dunia paralel, menjadi topik yang selalu terlintas di
kepala ku. Aku merasa seperti hidup di dua dunia 'Real life' dan 'fiction life'. Nyata? Tentu
itu semua hanya dongeng semata tapi, tidak denganku aku merasa mereka nyata dan
hanya beberapa orang saja yang tahu bagaimana rasanya. Tapi entah secara
perlahan aku mulai tenggelam dalam dunia fiksi ini dan mulai di cap sebagai
anak aneh. Kenalkan namaku Anna si gadis 'tak waras'. Katanya.
Kringg.....kringg....
Tepat pukul 10.00 am
bel waktunya istirahat berbunyi. Para murid berhamburan keluar dari sarangnya
berlomba menduduki bangku kantin. Begitu juga dengan ku dan kedua sahabat ku
Moana dan Joana. Mereka tahu betul kebiasaan ku itu dan syukur nya mereka dapat
menerima aku apa adanya, tak peduli dengan cemoohan orang - orang yang
menganggap mereka berdua berteman dengan orang tak waras.
"Anna apa telinga
mu tidak lelah mendengar terus cemoohan dari mereka? Aku saja yang mendengarnya
risih." Ucap Moana tak tahan mendengar bisikan bangku tetangga sebelah.
"Tidak. Aku tidak
peduli dengan mereka, terserah saja mereka mau menilaiku seperti apa karena ini
memang diriku. Lumayan juga kan aku jadi terkenal disini, ahh aku berasa artis
yang sedang di gossip kan oleh paparazzi." Balas Anna dengan
santai agar kedua sahabat nya ini tak perlu khawatir akan dirinya.
"Apa perlu aku tumpahkan
jus ku ke wajah mereka untukmu?" Joanna tidak main - main dengan
ucapannya.
"Tidak perlu,
tidak semua masalah harus diselesaikan dengan cara seperti itu kan. Sayang juga
jus mu lebih baik kau minum." Tutur Anna disertai kekehan melihat tingkah
sahabatnya yang satu ini. Polos namun berani. Disela obrolan kami tiba-tiba
saja Popi teman sekelas kami yang super jutek ini berceletus ria.
"Ya ampun si
gadis tak waras hari ini terlihat berbeda ya. Dia terlihat lebih normal jika
sedang bersama kedua sahabat normalnya ini." Pedas dan tegas sekali ucapan
perempuan satu ini. Tidak perna kapok mengatai ku.
"Kau! Jaga
ucapanmu! Kau ini berpendidikan tapi mulut mu masih saja belum disekolahkan.
Kasihan sekali." Lawan Moana tak terima.
"Ya ampun kau ini
lucu sekali, oh ayolah sadar aku sedang berbicara fakta disini. Jika Anna
bersama kalian memang akan terlihat normal, tapi ketika Anna sedang sendiri ia
seperti anak idiot yang asyik dengan dunia nya sendiri. Kalian sebagai
sahabatnya sejak lama pasti tak akan mengelak jika dia memang seperti itu
kan!!" Bentak Popi kesal.
Moana terdiam
mendengar ucapan sarkastis Popi. Jujur yang dikatakan Popi itu memang benar.
Moana melirik Joana yang ternyata sedang meliriknya juga. Dan Anna hanya diam
berusaha untuk tak terbawa emosi.
"Sini kau biar ku
ajari tatakrama." Balas Moanna disertai serangan nya pada Popi. Ia menarik
rambut perempuan itu dengan kasar. Terjadi lah adegan tarik menarik rambut
ditengah suasana kantin yang ramai. Bangku yang kami tempati seketika menjadi pusat
perhatian. Aku benci menjadi pusat perhatian.
"BERHENTIIIIII...."
Teriak Anna menahan emosi. Seketika Moana dan Popi berhenti dari acara tarik
menarik rambut indah mereka. "Hentikan sudah puas acaranya?! Moana sudah
kubilang kan biarkan mereka menilai diriku sesukanya, tak usah pedulikan ucapan
mereka, tak ada gunanya. Dan kau Popi jika mengejek ku membuat mu senang,
bahagia, lakukan saja. Aku dengan senang hati menerima ucapan mu. Tapi sebagai
manusia normal dan pintar tentunya tak akan repot-repot mengurusi urusan orang
lain. Urus saja dirimu sendiri. Satu hal lagi terimakasih selalu mengurusi
hidup ku!" Tegas Anna pada dua orang ini. Heningg... Semua diam mendengar
penuturan Anna yang wow itu. Anna langsung menarik lengan kedua sahabatnya
pergi menjauh menuju kelas.
"Apa yang kalian
lihat!" Teriak Popi kesal.
Seketika keadaan
kantin kembali seperti semula. Seolah tak pernah terjadi apapun beberapa menit
yang lalu.
Kesal seribu kesal.
Sudah tiga hari ini Moana selalu membentak ku begitupun dengan Joana padahal ia
tak pernah sekali pun membentak ku, tapi kali ini? Aku bingung dengan mereka
semenjak kejadian di kantin itu Moana terlihat lebih sensitif. Katanya ia
merasa direndahkan oleh Popi. Begitupun dengan Joana dia lebih sering
menampakan keberanian nya akhir-akhir ini.
"Anna kau kau
tidak bisa diam saja selalu direndahkan oleh Popi! Jika kau diam terus dia
malah menjadi jadi." Moana lagi-lagi memperingatkan. "Kau juga ayolah
berusaha untuk menghilangkan khayalan aneh mu itu, itu semua tidak nyata kau
tahu!"
"Benar yang
dikatan Moana. An kau ini hidup di dunia nyata, dunia fiksimu itu tidak ada di
hidup ini, itu hanya ada dipikranmu saja. Lagi dan sudah tiga hari ini kau
sibuk dengan buku mu, pikiranmu, dunia mu. Sejujurnya aku tak suka dengan sifat
mu ini kau seperti orang tak waras. Benar yang dikatakan Popi." Ucap Joana
begitu polosnya. Ya ini yang kutakutkan sebenarnya ucapan Joana. Kata-kata
polosnya ini lah yang sebenarnya aku takutkan dibanding kata-kata hinaan Popi
padaku. Karena sejujurnya ucapan orang polos itu adalah yang paling jujur.
"Oke aku memang
aneh dan gila. Kalian puas!!" Tegas ku.
"Ya benar kau
sangat aneh. Aku tak tahan lagi menghadapi sikapmu ini." Moana mulai
terbawa suasana.
"Aku. Aku yang
seharusnya marah pada kalian, kalian selama ini selalu membela ku tapi itu
semua malah membuat aku semakin di cemooh oleh teman-teman. Kalian hanya
memikirkan amarah, emosi, semuanya kalian lakukan dengan cara bermain fisik,
dan yang kena siapa lagi? Aku kan. Terimakasih kalian akhirnya jujur juga
padaku selama ini kalian sama menganggap ku gila. Kalian tidak tahu rasanya
menjadi aku kan? Selalu sendiri Dimanapun. Kalian tahu kan jika aku ini Broken
home selalu sendiri kedua orang tuaku sibuk berkutat dengan file-file nya,
sejujurnya aku juga merasa sendiri jika sedang bersama kalian. Pembiacaraan
yang hanya kalian saja yang mengerti, aku mencoba untuk mengerti tapi. Tidak
bisa. Aku tahu kalian pernah membicarakan ku dibelakang tapi lagi-lagi aku
bersandiwara seolah aku tidak mendengar apapun. Tak ada yang mengerti diriku,
kedua sahabatku pun tidak." Aku mulai terisak, ya selama ini aku pendam
semuanya. "Inilah kesenangan ku disaat aku sendiri, kalian tidak tahu
rasanya tak dicintai dengan orang yang kita cintai. Seolah olah bertepuk sebelah
tangan."
"Sudahlah aku
sudah muak dengan semua ini. Aku benci padamu dan pikiranmu. Kekanak-kanakan!
Ayo Joana kita pergi saja." Balas Moana tak peduli. Dan pergi berlalu
tanpa pamit.
Kesendirian.
Sepertinya itu sudah menjadi teman hidupku. Lucu sekali.
Setelah peristiwa itu
akhirnya aku juga tahu bahwa Moana dan Joana tak tulus berteman denganku.
Mereka hanya menuruti perintah kedua orang tua ku saja. Jika mereka ingin
berteman denganku ayah akan memberikan mereka apa saja. Jahat, satu kata yang
terlintas. Selama ini aku dimanfaatkan. Dunia memang kejam.
Hari buruk demi hari
buruk kulewati. teman-teman sekelas
dengan kompak nya mengerjaiku tanpa henti. Oh dan ternyata mantan kedua sahabat
ku juga ikut andil dalam hal ini. Mulai dari cara fisik, perkataan, tulisan-tulisan
tak pantas aku dapatkan. Berat sekali hidup ini. Sudah kuduga suatu saat sang Real
life akan memberontak sang fiction life.
"Bagaimana apa
tadi malam ada peri gigi datang menemuimu?" Ejek Popi lagi dan lagi.
Selalu ku hiraukan perkataan sarkastis mereka. Ingin sekali aku mengabaikan nya
tapi suatu bisikan lembut terdengar ke telinga ku.
Jangan pergi, katakan
pada mereka aku bisa membuktikan bahwa dunia fiksi ku ini bukan bualan. Tapi
benar-benar nyata. Itu
yang kudengar. Suara siapa itu? Apa mungkin hanya halusinasiku saja? Tapi entah
kenapa setelah mendengar bisikan lembut itu aku berhenti dan mengatakan persis
apa yang kudengar. Dan ya respon nya sudah bisa ditebak kan?
"Mana mungkin.
Bangun dari mimpi mu nak ini sudah siang. Jika kau bisa menunjukan itu nyata
aku rela keluar dari sekolah ini dan mengaku pada kedua orang tua ku bahwa aku
selama ini melakukan kekerasan disekolah." Ucap Popi menantang. Disertai
anggukan yang lainnya tanda setuju.
"Aku pengang
perkataan mu Popi!" Tutur ku dan pergi.
Sesampainya dirumah
aku merutuki perkataan ku. Bagaimana mungkin aku bisa membuktikan semuanya
nyata? Itu kan hanya khayalan
saja tak mungkin nyata. Bodoh aku terbawa suasana sampai mengataan yang
tidak-tidak. Ku baringkan tubuh ini diatas kasur mencoba menjernihkan pikiran.
Beberapa menit aku memejamkan mata ini sampai terdengar bisikan lembut itu lagi
di telinga kananku.
Hei bangun kau harus
mengerjakan pr kan.
Setelah berganti baju
aku langsung membuka buku pr ku. Hah ini melelahkan. Waktu berjalan dan
beberapa soal sudah kujawab dengan mudah.
"Satu soal lagi
dan selesai. Eh aduh kenapa aku mengisi 5 hasilnya kan -8. Oke hapus."
Sialnya penghapus itu tiba-tiba terjatuh tepat dibawah tempat tidurku. Aku
benci sekali pasti sangat berdebu. Tapi mau tak mau aku harus mengambilnya.
"Ah itu
dia." Aku mencoba meraih penghapus itu dan tanpa aba-aba debu masuk begitu
saja kemataku membuat kegiatan ku berhenti sejenak. Setelah selesai mengucek
mata, aku berinisiatif langsung mengambil karet padat itu. Dan mengilang.
Penghapus yang jelas-jelas tadi di tempatnya mengilang entah kemana. Mungkin
saja masuk lebih dalam, dan mau tak mau aku juga masuk kedalam kolong tempat
tidurku.
Set.... Seketika
lantai kolong tempat tidurku tergeser sehingga terbuka seperti pintu. Dan
bruk... Aku terjatuh begitu saja. Perlahan aku membuka kedua bola mataku. Dan
apa yang kulihat ini menabjubkan, apa aku mimpi? Ini sangat indah. Tempat yang
tak ada di bumi. Aneh.
"Ya Tuhan apa
mungkin? Ini sang fiction life?. Teman-teman bersiaplah angkat kaki dari
sekolah!"
Tamat
“ Kau
yakin? “
Terik
matahari begitu menyengat siang ini. Haus, lapar, lemas semakin merasuki
tubuhnya. Sudah seminggu ini Lilo terdampar di sebuah pulau kecil tak
berpenghuni. Bagaimana bisa ia terdampar? Ya saat itu Lilo sedang mencari ikan
dan tanpa permisi ombak besar datang begitu saja menyerang perahu kecil miliknya.
Ketika kelopak mata terbuka Lilo sudah berada di pulau ini.
"Apa aku akan
mati disini? Padahal impian ku ingin sekali mati saat berlayar menunggangi
kapal besar, orang-orang pasti akan mengingat ku sang legenda ombak. Ah
itu keren sekali." Kata Lilo mengingat impiannya. Tak elit sekali jika aku
harus mati kelaparan, setidaknya aku ingin jasad ku ditemukan nantinya.
"Semoga saja
keajaiban datang pada ku. Amin." Tutur Lilo pasrah menerima keadaannya
saat ini.
Disela lamunan akan
kematiannya. Lilo merasa pasir putih dibawah kakinya bergerak-gerak, namun tak
ada apapun disana. Lilo mengabaikannya tak peduli, mungkin itu hanya makhluk
kecil bercangkang. Kedua kalinya lelaki ini masih tetap tak peduli, dan sampai
yang ketiga kalinya Lilo mulai terusik.
"Ishh menganggu
sekali para hewan bercangkang itu." Omel Lilo dan langsung menggali pasir
putih itu untuk menyingkirkan sang pengganggu. Srukk... Srukk.. Pasir itu mulai
menampakkan sesuatu, namun bukan hewan yang ia cari tapi sebuah teko ajaib emas
yang ditemukan. Diambil lah teko ajaib itu dan seketika asap putih mulai
keluar.
" Hohoho hormat tuanku."
Penghuni dalam teko keluar. Kalian tahu itu pasti apa kan?
" Yaampun
keajaiban sudah datang. Terimakasih.. Terimakasih.." Lilo bersujud syukur
bisa mendapat keajaiban tak terduga ini.
Beberapa menit Lilo
tak berkutik masih tak percaya dengan semua nya. Ia juga masih menunggu sampai
Jin itu bertanya padanya. Sunyi... Hanya suara air laut yang terdengar. Merasa
aneh dengan Jin ini Lilo mulai bertanya.
"Kenapa kau malah
memperhatikan aku saja sedari tadi? Biasanya Jin sepertimu punya penawaran
sakral 'aku beri tiga permintaan'." Tanya Lilo pada Jin itu.
"Ah benar dari
tadi aku mencoba mengingat apa yang harus aku katakan. Oke aku beri satu
permintaan." Tutur Jin itu pada tuan sementaranya, Lilo.
"Apa? Tidak kau
salah bukan satu permintaan tapi tiga permintaan." Balas Lilo tak terima.
Jin ini berusaha korupsi ternyata.
" Itu dulu,
sekarang hanya satu permintaan saja. Boss kami sudah merubah
peraturannya." Jin itu memberi tahu.
" Boss mu siapa?
Aku ini kan tuanmu." Tegas Lilo sekali lagi.
"Kau ini tuanku
bukan boss ku! Jadi bagaimana kau mau atau tidak? Sudah syukur kau dapat
menemuiku, masih menawar saja. Dasar manusia." Jawab Jin itu.
"Ishh baiklah.
Aku mau 3 permintaan ku dikabulkan." Harap Lilo teguh pada pendiriannya.
"Kau curang, tak
bisa!"
"Kau yang curang
Jin, itu kan hanya satu permintaan." Ucap Lilo
"Tidak tidak
tidak, selain itu! Jika kau masih menawar aku akan membuat permohonan pada
diriku, aku berharap kau akan disini selamanya." Ancam Jin itu pada Lilo.
"Hah memang nya
bisa?" Jawab Lilo penasaran.
"BISA! Bagaimana
apa permintaan mu? Oke akan aku ulangi penawaran ku. Tuanku, aku beri satu
permintaan." Tanya Jin itu kesal dengan tingkah Lilo yang menyebalkan.
" Baiklah aku
mauuu...." Lilo berpikir keras apa yang ia mau ya? Satu permintaan saja
tidak cukup. Ia harus meminta agar semua yang diinginkan nya bisa
tercapai.
Tapi bagaimana ya... Ahh iya aku butuh itu.
" Benar sekali.
Aku mau satu miliar Jin." Kata Lilo senang.
" Kau
yakin?" Balas Jin itu. Didalam hati sang jin merutuki tuannya, kenapa ia
malah memilih satu miliar? Apa ia tidak sadar keadaanya saat ini bagaimana? Ia
hanya berdiri di pulau kecil yang dikelilingi lautan besar. Seperti pulau Bikini
Bottom yang ada di kartun. Jadi Jin itu bertanya sekali lagi pada tuannya.
"Kau yakin?"
"Hmmmm tunggu
sebentar." Balas Lilo masih memikirkan apa yang harus ia minta.
Jin itu merasa lega
ketika Lilo memikirkannya ulang. Ternyata tuannya tak sebodoh yang ia kira.
"Oke Jin aku
mengganti pilihanku." Tutur Lilo dengan cepat dan sumringah. Ia sudah
yakin akan pilihannya.
" Baik tuan apa
itu?" Jawab Jin dengan penasaran.
" Aku mau satu
triliun saja, itu lebih banyak dari satu miliar kan?"
Dan kalian tau apa
yang terjadi.
Tamat
“ Perlindungan Sahabat Alam “
Semilir
angin berhembus tenang menyentuh ratusan daun membuat suara gemersik khas yang
menenangkan pikiran juga jiwa. Udara yang masih asri, air sebening kaca
mengalir begitu deras namun tetap tenang, membuat siapa saja menyukainya
termasuk aku Demitri yang sering dijuluki 'Sahabat alam' oleh para teman
ku. Bukan hanya julukan semata namun itu memang julukan yang pantas untuk ku,
sahabat alam adalah arti dari nama ku yang diambil dari bahasa Yunani yaitu
Demitri. Sebulan sekali aku rutin mengunjungi hutan untuk penelitian atau
sekedar ingin berpetualang saja. Tak sendiri tentunya, aku selalu ditemani para
sahabat setia ku yang disebut Saa, itu nama komunitas kami yang artinya
Dewa alam.
Petualangan kali ini,
kami memilih hutan Kalimantan surga nya para orang utan. Kami sengaja kesini
karena prihatin mendengar banyak nya berita tentang perburuan orang utan tak
berdosa dan lagi penebangan liar yang mulai dilakukan oleh para perusak juga
sering dilakukan membuat habitat asli hewan ini terganggu. Untuk itu kami
merencanakan Reboisasi secara perlahan di kawasan ini.
" Kita harus
membuat efek jera bagi para perusak itu. Jika terus dibiarkan bisa - bisa hutan
ini akan habis dan orang utan juga hewan lainnya akan punah." Komentar
Zamzam mengingat berita mengerikan itu.
" Tentu saja,
mereka harus diberi hukuman yang berat karena berani merusak alam serta berburu
secara Ilegal. Orang-orang dangkal memang." Sambung Gita antusias.
" Lebih baik sih
hukumannya mereka disuruh mereboisasi kembali hutan yang telah mereka habiskan.
Dengan begitu pasti masalah hutan gundul perlahan bisa teratasi. Dia yang
melakukan dia yang bertanggung jawab bukan?" Sambungku menanggapi
pernyataan Zamzam dan Gita.
" Genius."
Balas Zamzam dan Gita serentak. Kami terkekeh, sambil terus berjalan menyusuri
hutan indah ini. Para makhluk bersayap pun seakan menyanyi menyambut kedatangan
kami. Aku sangat menyukainya. Satu jam berjalan kami memutuskan untuk rehat
sejenak, karena daerah yang gundul itu masih cukup jauh. Butuh 2 jam lagi untuk
sampai disana.
" Ahh ingin
rasanya membangun satu rumah disini. Sangat damai." Ucap Tian asal.
" Dasar kau ini
ada-ada saja." Balas Gita.
" Hei jika hari
ini adalah hari terakhirmu di dunia bagaimana?" Tanya Brahma asal. Kami
semua terkekeh atas penuturan Brahma. Kenapa ia tiba-tiba bertanya seperti itu?
" Aku tak akan
mati sebelum melakukan proyek perbaikan alam ini." Jawab Tian.
" Aku juga tak
akan mati sebelum membalas para perusak itu." Sambung Zamzam sambil
tertawa jahat.
" Kalian ini yang
ditanyakan apa dijawab apa! Aku bilang kan jika mati hari ini." Kesal
Brahma yang tak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
" Jika nyawaku di
ambil sekarang.. Aku merasa sangat beruntung. Karena aku bisa mati di tempat
para makhluk hidup lainnya mati." Sela ku sambil terus memandang keatas
menikmati sinar matahari yang terturup pepohonan.
" Hei kenapa
suasananya jadi aneh begini? Tak akan ada yang mati hari ini oke. Tenang
saja." Kekeh Tavon mengentikan suasana yang kurang enak. Serentak semua
menatap Tavon dan tertawa bersama.
" Ah iya aku
ingin berjalan-jalan kesana ya, ada yang mau bergabung denganku?" Tawar ku
pada yang lain.
" Aku ikut
Dem." Brahma mengangkat satu tangannya.
Sebelum pergi
menyusuri sekitaran hutan, entah kenapa aku berinisiatif membawa dua pisau yang
kuletakkan di ikat pinggang dan di sepatu ku yang kebetulan memang ada tempat
bagi benda tajam tersebut. Aku dan Brahma segera pergi menjelajah hutan ini.
Sepuluh menit kami
berjalan santai sambil berbincang, samar-samar kami mendengar suara tembakan.
Aku dan Brahma saling pandang penuh tanya siapa yang melakukan itu? Dengan cepat kami menuju asal suara
tembakan. Perlahan semakin jelas suara peluru yang terlepas dan semakin keras,
merasa sudah dekat dengan sumber suara, kami memilih bersembunyi dibalik
semak-semak mencoba mengintai siapa yang menembak dan untuk apa ia menembak?
" Sutt kita lihat
apa yang orang ini lakukan." Bisik Brahma. Kami melihat seorang lelaki
sekitar 35 tahun memakai topi ala koboi sedang mengisi pistol nya dengan
peluru.
" Brahma
sebenarnya dia menembak apa?" Bisik ku pada Brahma khawatir.
BRUK.... Tepat
dibelakang kami seekor orang utan meloncat dari pohon. Ia memandangi kami.
Entah apa yang dilakukan Brahma ia menyimpan telunjuknya di depan bibir tanda
jangan berisik kepada orang utan itu. Seakan mengerti hewan itu langsung diam
dan memandangi kami terus menerus, namun perlahan orang utan itu mendekat
kearah kami. Aku mulai takut.
"Brahma apa ia
akan menyerang kita?" Ucap ku pelan. Belum sempat Brahma menjawab
pertanyaan ku, orang utan di hadapan kami langsung mendekat dan lari kepelukan
Brahma.
" Tidak Demitri
ia ketakutan. Sangat. Dia ingin kita melindunginya." Balas Brahma pelan
sambil mengelus punggung hewan berbulu coklat ini. Sangat menggemaskan.
BRUK... Satu lagi
orang utan meloncat, tapi kali ini ia langsung berlari kearahku dan sama ia pun
memeluk ku. Yaampun apa yang sebenarnya terjadi kenapa mereka ketakutan seperti
ini? Aku meniru apa yang dilakukan Brahma mengelus punggung makhluk
menggemaskan ini.
DORR... Suara tembakan
mulai terdengar lagi. Sepertinya ia sudah selesai mengisi pistol besarnya.
" Demitri orang
bertopi itu berusaha menembak mereka." Tutur Brahma kesal. " Kita
tidak boleh diam saja Dem, kita harus menghentikan aksi si pembunuh itu."
" Tentu aku juga
tak rela teman-teman ku mati begitu saja." Ambisi ku untuk menghancurkan
sang pria bertopi sangat kuat.
Sebelum kami
menghampiri si pembunuh kami memperingatkan kedua orang utan ini untuk tetap
bersembunyi dibalik semak menggunakan gerak tubuh dan gerak bibir kami. Dirasa
sudah siap aku dan Brahma langsung menghampiri lelaki itu dengan berani.
"Woo Pak apa yang
sedang anda lakukan?" Tanya Brahma sopan, padahal hatinya berteriak.
" Ah anak muda
sedang apa kau disini?" Jawabnya ketus.
" Kami kebetulan
sedang menyusuri hutan ini namun dari jauh kami mendengar suara tembakan, dan..
Jadi kami kemari." Ucap ku basa basi.
DORR..
BRUK.. Satu tembakan
itu menjatuhkan seekor orang utan. Tepat di depan mata, kami melihat bagaimana
makhluk berbulu ini bersimbah darah tak berdaya. Ia mati.
" Itu yang sedang
aku lakukan anak muda. Mau bergabung?" Ungkap pria bertopi ini sambil
menyeringai.
Sudah tak bisa menahan
amarah, Brahma berteriak kepada sang pembunuh dan menyerangnya. Brahma berusaha
mengambil senjata nya agar pria ini tak bisa menembak lagi.
" HENTIKANNN kau
pembunuh." Awalnya Brahma hanya ingin menjatuhkan pistol itu saja, tapi
lelaki ini bermain kasar dan memukul perut Brahma menggunakan pistol
berburunya. Brahma pun mulai memukul lelaki itu bertubi tubi.
Bughh.. Lelaki ini
menendang kaki Brahma sehingga ia terjatuh. Kesakitan yang dirasakan Brahma.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menodongkan mulut pistol nya
kearah Brahma yang tak berdaya. Yaampun ini berbahaya Brahma bisa mati. Dengan
gesit aku mengambil pisau yang ada di pinggang ku dan langsung menancapkan
pisau ke tangannya. Lelaki itu meringis kesakitan. Brahma bangun. Kami mau tak
mau harus melawan nya. Si pembunuh ini benar-benar keras kepala.
Lelah dan sakit kami
sudah tak tahan lagi melawannya. Darah dan memar sudah nampak di wajah dan
tangan kami, begitu juga dengan lelaki penembak itu. Disela pertarungan, kedua
orang utan yang bersembunyi tadi muncul ingin menyerang lelaki itu juga. Namun
dengan sigap nya pria ini menekan pelatuknya kearah salah satu orang utan.
Brukkk.... Terkulai
lemah orang utan yang tadi berada di pelukan ku. Warna merah pekat mulai keluar
dari tubuh mungilnya. Menangis aku menangis melihat makhluk tak berdosa itu
tertembak begitu saja. Aku benci ini. Aku benci pria ini. Kemudian ia mencoba
menodongkan lagi pistolnya kearah orang utan satunya, namun sebelum pelatuk
ditarik aku berlari menghalangi makhluk itu supaya tak tertembak.
DORR.... Namun naas
peluru itu tepat mengenai perutku. Aku diam sejenak merasakan rasa sakit. Tak
apa yang penting makhluk menggemaskan itu tak mati.
"
Demitriiiiii...." Teriak Brahma tak percaya. Ia menghampiri tubuhku yang
sudah terkulai di tanah. " Jangan tutup matamu oke. Kau harus menahannya
sebentar aku akan membawa mu ke tempat peristirahatan. Tetap buka matamu
Demitri!!" Isak Brahma tak tega melihat keadaan sahabat kesayangan nya
lemah tak berdaya.
" Tidak Brahma
kau juga kesakitan, jangan memaksakan dirimu. Sudah kubilang kan jika aku mati
hari ini aku akan merasa beruntung." Ucapku lemah tak kuat dengan rasa
sakit yang sedari tadi kucoba tahan.
" Seharusnya aku
tak pernah menanyakan pertanyaan itu." Sesal Brahma.
Sakit aku tak tahan
lagi menahan rasa sakit ini. Sebelum mataku tertutup untuk selamanya, orang
utan itu menghampiriku ia memeluk dan menaruh kepalanya di kepalaku. Yang bisa
kulakukan hanya menangis sambil tersenyum. Aku tak menyesal karena sudah
melindungi mu teman. Aku senang bisa mati karena melindungi makhluk hidup
lainnya. Lagi sebelum mataku benar-benar tertutup para sahabat yang kusayangi
datang, mereka menangis semuanya memelukku begitu erat.
" Kawan tolong
jaga makhluk berbulu coklat ini ia temanku. Aku juga sayang pada kalian jangan
pernah lupakan aku ya. Selamat tinggal kawan. Brahma, Gita, Zamzam, Tavon,
Tian. Kalian akan selalu menjadi sahabatku sampai kapanpun."
Perlahan aku menutup
mataku. Cahaya putih mulai terlihat, hingga nafas kehidupan ku benar-benar
hilang. Sampai akhirnya aku tiada.
Tamat
“ Melodi
Hati “
Gesekan
demi gesekan busur. Petikan demi petikan yang dibuat oleh jarinya seketika
membuat penonton terpukau. Alat dawai dimainkan begitu indah oleh remaja satu
ini. Arion. Violinis muda yang saat ini sedang berdiri di panggung megah dengan
jutaan pasang mata menyaksikan permainan biola nya.
Prokk.. Prokk..
Prokk..
Tepukan para penonton
menyerbu pendengaran Arion ketika permainan biola nya sudah berada di nada
terakhir. Suara tepukan riuh sudah menjadi makanan sehari-hari bagi remaja
lelaki ini. Inilah dunia nya, tanpa musik dan biola, mungkin ia akan rapuh.
Begitu pikir Arion.
" Permainan bagus
Rion, kau semakin hebat seperti Antonio Vivaldi." Puji sang kakak Carlos
disertai tepukan pelan dipunggung sang adik.
" Aku tahu..
Lihat aku kan penerus Antonio Vivaldi, apa abang mau minta tanda tangan
ku?" Tawar Arion berlagak hebat.
" Dasar adik
menyebalkan." Balas Carlos mengacak rambut Arion. Tawa pun lepas dari
keduanya. Disela candaan kedua kakak beradik ini, datang Pak Badi yang tak lain
adalah pelatihnya.
" Rion selamat ya
dan jangan lupa untuk pertunjukan besok. Pukul 7 saya tunggu di bundaran jangan
sampai telat." Pak Badi mengingatkan.
Keesokan harinya
sesuai jam yang telah di janjikan, Rion dan rombongan mulai pergi menuju tempat
manggung nya malam ini. Mereka sengaja berangkat pagi hari, supaya dapat
berlatih terlebih dahulu.
Mobil yang mengangkut
Arion mula nya aman mengarungi jalananan sesak, senda gurau pun masih merebak
di dalam mobil ini. Sampai sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Truk semen dari
arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi lalu mulai menerobos kendaraan
yang tepat berada di depannya. Tak hanya itu truk besar ini juga mulai masuk ke
jalur sebaliknya. Jalur yang saat ini kami lewati. Belum sempat banting setir,
raksasa itu menabrak mobil kami dengan sangat kecang. Tabrakan beruntun pun tak
terelakkan. Mobil mereka terbalik akibat dentuman keras dari truk semen itu.
Supir dan kakak Arion, Carlos sayangnya tak dapat terselamatkan. Pak Badi masih
ditangani oleh para ahli medis sedangkan Arion sendiri terluka parah dan harus
segera menjalani rangkaian operasi.
Carlos segera di
kebumikan di pemakaman keluarga. Arion masih belum sadar dari tidur panjang
nya. Hingga.. Seminggu kemudian Arion tersadar.
" Rion kamu sudah
sadar nak? Alhamdulillah terimakasih Ya Tuhan." Isak sang ibu mencium
kening Arion. Perlahan isakan tangis beliau semakin kencang mengingat apa yang
dikatakan dokter mengenai kondisi anak lelaki nya. Benturan keras di kepala
Arion membuat kondisi nya cukup parah, sehingga membuat saraf pendengarannya
terganggu. Dengan begitu Arion saat ini tak bisa mendengar suara dengan baik
dan lagi keadaan ini bersifat permanen.
" Ibu bicara apa?
Kenapa tak jelas begini? Ibu kenapa telinga ku berdengung terus menerus? Apa
yang terjadi? Dimana bang Carlos? Apa dia baik-baik saja?" Tutur Arion
panik. Mendapat pertanyaan beruntun dari sang anak, ibu Arion mencoba menenangkan.
Ia mengelus lengan lalu kepala Arion lembut. Tak tega melihat kondisi lemah
anaknya saat ini. Ibu membiarkan Arion menangis mengeluarkan segala kesedihan
nya. Mungkin itu akan membuat Arion tak banyak bertanya dan juga tenang.
Sebulan kemudian
keadaan fisik Arion membaik, ia dapat beraktivitas seperti biasa. Fisik sudah
baik tapi mental yang sakit. Arion tau keadaannya saat ini bagaimana. Rapuh dan
frustasi dirasakan remaja 17 tahun ini. Alunan melodi, irama musik, gesekan
biola yang ia mainkan tak dapat ia dengar dengan baik, suara nya berubah
seperti kaset rusak. Rapuh, hilang sudah dunianya.
" Hiks.. Hikss..
Kenapa suaranya jelek begini!?" Teriak Arion membanting biolanya. Tangisan
keras keluar dari mulutnya. " Hancur sudah duniaku! Masa depanku semuanya
hancur!".
" Yaampun nak apa
yang kamu lakukan? Lihat biola mu jadi rusak begini, nanti kamu tak akan bisa
ber..." Belum sempat ibu menyelesaikan,
ucapan nya disela begitu saja.
" Memang bu aku
tak akan bisa bermain biola lagi. Mana ada bu pemain biola tak bisa mendengar
permainannya sendiri. Aku sudah tak punya masa depan. Hilang!" Isakan
Arion membuat sang ibu juga ingin menangis melihat keadaan anak nya begitu
menderita. Perlahan beliau mulai memberi pencerahan kepada Arion.
" Ada nak, ada
Violinis yang tak bisa mendengar." Ucap sang ibu.
" Siapa bu?
Siapa!? Tidak akan ada." Balas Arion.
" Tentu saja
dirimu." Jawab ibu menepuk dada anak nya pelan. " Selama ini ibu kira
kau hebat, tapi nyatanya tidak. Violinis hebat tak akan peduli bagaimana pun
kondisinya. Tak bisa mendengar, tak bisa melihat, tak punya tangan dan
kekurangan lainnya. Itu bukan menjadi penghalang untuk mereka, karena apa?
Karena musik bukan di dengarkan oleh telinga itu hanya pelengkap saja. Musik
sebenarnya di dengar oleh hati. Hati adalah kuncinya nak, semua yang diawali
dari hati pasti akan sempurna. Cukup dengarkan kata hati mu Rion. Irama,
melodi, alunan semuanya akan menuntun mu." Penuturan ibu membuat Arion
terdiam. " Jika kau masih ragu, coba kau mainkan biolanya. Ibu akan menjadi
pelengkap mu." Tawar ibu.
" Tak bisa bu,
biola ku sudah rusak tidak bisa dimainkan lagi." Sesal Arion. Ibu keluar
dari kamar Arion sejenak hendak mengambil sesuatu.
" Ini... Ibu
sudah siapkan biola terbagus untuk Violinis muda kebanggan ibu." Ibu
memberi biola yang selama ini Arion inginkan. Beliau sengaja menyiapkan ini
agar anaknya tak patah semangat walaupun kondisinya tak baik. " Ayo
mainkan."
Arion mulai
menggesekan busur nya mencoba menghayati. Satu dua kali ia masih ragu, hingga
yang ketiga kali ia mulai terbawa alunan merdu alat ini. Arion mengerti
sekarang bagaimana memainkan nya dengan hati. Ia mulai bangkit. Masa depan
masih menunggu nya.
Prokk.. Prokk..
Prokk..
Tepuk tangan penonton
terdengar bising di dalam aula megah ini. Namun Arion tak dapat mendengar nya,
ia hanya dapat melihat tangan para penonton bertepuk tandanya ia tampil
memukau. Pada kesempatan ini Arion membawakan lagu Song from secret garden
yang mampu membuat jutaan pasang mata berlinangan air mata. Berhasil penampilan
perdana nya berhasil.
Violinis sempurna
bagaikan matahari terik, ia bersinar di terangnya langit. Namun Arion berbeda
ia bagaikan bulan dan para pendengar itu bagaikan bintang kecil yang mengitari
nya. Semakin indah dan bersinar di gelapnya malam.
Tamat
“ Burung
Gagak dan Sebuah Kendi “
Disuatu
hari yang cerah tepat nya di sebuah hutan, hiduplah seekor burung gagak hitam
bernama Dex. Dia dikenal sebagai gagak yang dungu oleh para penghuni hutan,
sehingga ia sering dianggap remeh, terutama oleh sosok merpati bernama Faur.
Matahari siang ini
terasa begitu panas, membuat kerongkongan para hewan terasa kering.
Berbondong-bondong penghuni hutan menuju sungai untuk sekedar minum. Mereka
semua berkumpul disana, tapi tidak dengan Dex. Dex harus menahan rasa haus nya,
karena ia tidak boleh minum di sungai bersama hewan lainnya karena ia dinilai
dungu tak pantas bersanding dengan mereka. Itu perintah Faur burung yang
dinilai paling hebat di hutan belantara ini. Tak bisa diganggu gugat perintahnya,
Dex hanya dapat melihat para hewan lain minum dengan begitu nikmatnya.
" Heii lihat Dex,
kurasa kerongkongan nya sangat kering. Dia mati-matian menahan haus sepertinya,
hahaha." Kata Faur mengejek Dex yang sedari tadi diam di ranting melihat
mereka minum. Cuaca hari ini sudah cukup panas, ditambah lagi Faur terus
menerus memanas manasi Dex. Udara semakin panas saja, begitu pikir gagak ini.
" Hewan dungu tak boleh minum di sungai ini. Tak pantas kau tau Dex."
Teriak Faur.
Tak mempedulikan
ucapan Faur, Dex memilih pergi mencari mata air lain disekitaran sini yang
dapat dengan bebas ia minum.
" Dimana aku bisa
mendapatkan air? Sungai itu kan satu-satunya mata air yang ada di sekitaran
sini. Sungai lain ada di hutan seberang, tapi itu terlalu jauh, bisa-bisa sebelum
tiba disana aku sudah pingsan duluan." Begitu pikirnya.
Sudah sekitar 5 menit
ia terbang, namun mata nya belum menemukan tanda-tanda kehadiran mata air.
Sett.. Pandangannya tiba-tiba terfokus pada satu benda di bawah sana. Dex
melihat sebuah kendi berisi air. Tak perlu berlama-lama ia langsung mengepakkan
sayap nya menuju ke arah kendi itu.
" Akhirnya aku
dapat menemukan air." Kata Dex antusias. Paruh nya dengan cepat mendekat
ke mulut kendi itu untuk menyeruput air di dalamnya. Namun sangat disayangkan
air di dalam kendi itu terlalu rendah, paruhnya tak bisa mencapai air itu,
belum lagi leher kendi yang sempit semakin mempersulit Dex untuk meminum air
tersebut.
" Airnya hanya
setengah, paruh pendek ku tak bisa mencapainya. Aku harus mencari cara, akan
aku buktikan pada yang lain terutama Faur bahwa aku tak sebodoh yang ia
pikirkan." Kata Dex optimis, dan mulai memikirkan cara untuk mendapatkan
air itu.
Ditengah kegiatan
memikir Dex, ternyata Faur dan Ole si tupai memperhatikan Dex dari atas, mereka
bertengger di ranting pohon.
" Hahaha si gagak
itu pasti tidak akan bisa meminum air yang ada di dalam kendi. Mana mungkin hewan dungu seperti dia bisa
mencari caranya." Kata Faur meremehkan.
" Kita lihat
saja, jika Dex bisa penilaian mu terhadapnya selama ini salah." Ucap Ole
pada Faur. " Apa yang akan kau lakukan pada Dex jika dia dapat
melakukannya?" Tantang Ole.
" Oke jika dia
berhasil akan ku cabut kata-kata ku, ia boleh minum di sungai sepuasnya bersama
kita, dan aku akan melayani dia selama sebulan. Pegang ucapanku ini kau
saksinya Ole." Balas Faur.
" Oke aku ambil
ucapanmu." Kata Ole. Mereka berdua kembali mengamati Dex dari atas.
Sudah hampir tiga
menit Dex mencoba mencari cara dan akhirnya ia tahu apa yang harus
dilakukannya. Tepat disebelah kendi itu ada sebuah batu kerikil, Dex pun
mengambil dan memasukannya kedalam kendi. Tepat sekali jika ia memasukkan lebih
banyak batu kerikil otomatis air yang ada di dalam kendi itu akan terdorong
keatas, sehingga Dex dapat dengan bebas meminumnya.
" Tepat sekali.
Ahh aku harus mencari lebih banyak lagi batu. Air aku datang." Tutur Dex
semangat dan langsung meluncur mencari batu lainnya.
Batu kerikil pun mulai
terkumpul. Dirasa sudah cukup Dex langsung memasukkan batu berulang-ulang
hingga air nya bisa ia raih. Trik yang gagak hitam ini pakai berhasil air mulai
naik dan dengan cepat paruhnya menyeruput air segar itu dengan rakus. Dex
akhirnya bisa minum tanpa ada gangguan.
Melihat keberhasilan
Dex, Faur gelagapan ia tak percaya gagak yang di cap dungu ini berhasil dengan
mudah nya. Dex ternyata tak sebodoh yang Faur kira, dia begitu cerdik. Malu
satu kata yang terlintas dipikiran Faur saat ini.
" Lihat Faur dia
berhasil, selama ini kau salah telah menganggap Dex bodoh. Dan.. Jangan lupa
janji mu tadi apa ya." Kata Ole mengingatkan perjanjian yang dibuat mereka
beberapa menit lalu.
" Iya.. Iya.. Aku
tidak lupa." Balas Faur kesal. Tak bisa menerima kenyataan bahwa sebulan
kedepan ia harus melayani Dex.
Kenyang. Itu yang
dirasakan Dex setelah meminum air segar sepuasnya. Dia pun akhirnya pergi
menuju rumahnya dengan senang. Tak lama Dex telah tiba di rumahnya yang saat
ini ramai dikunjungi para hewan sekitar, termasuk Faur. Tumben sekali Faur mau
mengunjungi Dex.
" Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Apa aku
berbuat kesalahan?" Tanya Dex kebingungan. Tak biasanya mereka seperti
ini. Aneh.
" Jadi begini
tadi Aku dan Faur tak sengaja melihat bagaimana caranya kamu bisa minum air
yang ada di dalam kendi itu. Ternyata kau ini tidak sepenuhnya bodoh Dex, kau
ini ternyata cerdik." Kata Ole merasa kagum. " Dan kenapa kami
berkumpul karena Faur akan menepati janjinya terhadapmu." Tambah Ole.
" Janji apa? Aku
rasa tidak pernah membuat janji apapun dengan Faur." Kata Dex kebingungan.
" Iya tadi Aku
dan Ole membuat kesepakatan, jika kau berhasil mencari cara agar bisa meminum
air dalam kendi itu aku akan tarik semua ucapan terhadapmu. Kau boleh sepuasnya
minum di sungai bersama kami, dan aku juga berjanji akan melayani mu selama
sebulan kedepan." Kata Faur kepada Dex.
" Yeyy akhirnya
aku tak perlu susah lagi mencari air." Kata Dex senang.
" Aku juga minta
maaf atas semua perkataan dan perlakuan ku selama ini kepada mu Dex. Seharusnya
aku tak menganggap remeh dirimu, lagi kau juga tak sepenuhnya bodoh. Aku baru
sadar selama ini kau gagak yang cerdik. Untuk menebus kesalahan ku aku siap
melayani mu sebulan kedepan, jika kau perlu sesuatu kau bisa hubungi aku
Dex." Perminta maafan Faur diterima dengan baik oleh Dex.
" Aku terima maaf
mu Faur, tapi aku tak butuh layanan mu. Aku mau kau menebus kesalahan mu dengan
cara mengubah pandangan mu kepada siapa pun. Kau tidak bisa menilai orang
sesuka hati mu saja, jika kau terus seperti itu akan banyak hewan lain yang
diam-diam tak enak hati kepadamu. Lagi dan jangan menganggap remeh hewan lain.
Siapa tau yang kau anggap remeh itu lebih baik dan hebat daripada dirimu
kan." Kata Dex mecoba menasehati Faur sebisanya.
" Iya Dex aku
sadar apa yang sudah aku perbuat selama ini. Terimakasih Dex sudah mengingatkan
ku, tak hanya cerdik kau juga baik. Sekali lagi terimakasih. Mulai saat ini
kita resmi berteman baik." Sayap kanan Faur terbuka ingin mengajak Dex
bersalaman. Tanpa sungkan Dex menerima nya. Akhirnya sayap putih Faur dan sayap
hitam milik Dex bersatu, dan mereka mulai berteman baik.
Tamat
Si Kucing Jalanan.
Pagi
ini tak seperti pagi biasanya. Sudah seminggu ini setiap pagi hujan turun
membasahi aspal. Cuaca buruk tak hanya berdampak bagi manusia saja namun juga
berdampak bagi hewan sekitar. Seperti yang dialami Koko kucing jalanan yang
sulit mendapat makanan seminggu ini. Namun pagi ini langit begitu cerah,
matahari menampakkan sinarnya membuat semangat Koko bangkit.
" Akhirnya hari
ini aku bisa berjalan-jalan sembari mencari makan, berat badan ku mungkin turun
drastis seminggu berpuasa." Kata Kucing berbulu abu ini.
Koko sang kucing
jalanan ini mulai menyusuri komplek yang biasa ia dan kucing jalanan lainnya
berkumpul untuk mencari makan. Ia mulai mengecek satu persatu tempat sampah
yang ada, biasanya makanan enak dapat ditemukan dengan mudah di sekitar sini,
makanan yang belum habis, dibuang begitu saja oleh para manusia itu. Mubazir
sekali. Namun 10 menit berkeliling Koko tak menemukan makan sedikit pun, tak
biasanya.
" Kemana pergi
nya semua makanan itu? Ohh atau mungkin efek musim hujan kemarin? Katanya
manusia akan merasa lapar terus menerus jika cuaca dingin." Pikir Koko.
" Sebaiknya para manusia itu harus diberi cuaca dingin terus agar makanan
yang mereka beli habis di makan dan tak dibuang percuma. Eh tapi kalau begitu
populasi kucing jalanan seperti ku yang akan punah tak mendapat sisa makanan
mereka." Ucap Koko asal. Disela pemikirannya tentang manusia, datanglah
Nemo anjing rumahan di komplek ini. Biasa anjing seperti dia pagi begini suka
berolahraga dengan pemiliknya.
" Pagi Koko,
sudah seminggu ini aku tak melihat mu, kemana saja? Wooo kau terlihat kurusan
lagi." Sapa Nemo senang melihat teman jalanannya kembali.
" Ya kau tahu kan
hujan membuat ku tak bisa mencari makan, jadi kenapa badan ku kurus karena seminggu
kemarin aku berpuasa." Balas Koko. " Ngomong-ngomong nama mu masih si
ikan oren itu?" Tanya Koko menahan tawa.
" Dasar kau
menyebalkan, nama ini permanen sampai aku tua nanti. Andai saja majikan ku tahu
aku tak menyukai nama itu. Aku ini kan anjing gagah kenapa pula diberi nama
imut seperti ini. Aku kan lebih pantas diberi nama Steve Rogers yang gagah
itu." Balas Nemo tak terima.
" Terima saja kau
kan jadi lebih lucu dengan nama itu haha. Sudah tak usah dipikirkan sebaiknya
sekarang bantu aku mencari makan saja. Dari tadi aku tidak menemukan makanan
sisa sedikit pun." Ajak Koko pada Nemo.
" Ayo kebetulan
pemilik ku sedang sibuk berolahraga." Balas Nemo. Akhirnya mereka berdua
berjalan bersama menyusuri jalanan aspal ini. Deretan rumah satu persatu terlewati.
Hingga Nemo anjing sejenis serigala itu melihat seekor burung keluar dari
sarangnya. Itukan bisa Koko makan.
" Koko.. Koko
liat itu ada burung ukurannya juga lumayan, kau makan saja dia, cepatt sebelum
dia terbang." Teriak Nemo mengagetkan Koko.
" Tidak, aku
tidak biasa makan makhluk hidup seperti itu." Tolak Koko atas penawaran
anjing bernama imut ini.
" Daripada kamu
cari terus menerus makanan yang belum tentu ada, ambil saja peluang yang sudah
ada. Cepat kali-kali kau harus mencobanya. Aku akan mendukung mu dari sini
ayoo." Paksa Nemo sekali lagi. Benar juga yang dikatakan Nemo, buat apa
menunggu yang belum pasti jika didepan mata sudah ada yang menunggu nya. Dengan
sigap Koko mulai berlari kearah burung itu. Meloncat dengan indah nya sembari
mengaung. Oke Koko terlihat seperti kakek dari kakek buyutnya yang besar itu
saat ini, harimau. Burung itu baru menyadari ketika Koko sudah berhasil meraih
sayapnya. Tak mau nyawanya diambil kucing jalanan burung itu melakukan
perlawanan, ia mengepakkan kedua sayapnya agar Koko terusik dengan kibasan
burung itu. Berhasil burung itu hampir saja terlepas dari genggaman Koko. Si
burung menguasai pertandingan ini, kaki kecilnya ia letakkan di wajah bringas
Koko, menghentakkan nya berkali-kali. Melihat keadaan temannya terjepit Nemo
menggonggong.
" Gunakan cakar
mu Koko, ayo kau pasti menang jangan memalukan aku dan para penonton
disini." Ucap Nemo dibantu sorak sorai kucing jalanan dan anjing rumahan
lainnya.
'Dasar Aku jadi bahan
tontonan gratis mereka, bukannya membantu ku menangkap makhluk bersayap ini.'
Batin Koko kesal. Cring.. Koko mengikuti instruksi yang di berikan Nemo, benar
juga kenapa ia tak menggunakan cakar nya dari tadi. Buang-buang waktu saja.
Berhasil burung itu sudah berada dalam cengkraman Koko. Kucing jalanan menang
telak.
Belum juga 1 menit
mencengkram burung ini, manusia berjenis kelamin pria keluar membawa sapu
dengan angkuh. Oh tidak ini buruk. Pukulan demi pukulan dari rambut sapu itu
menghantam wajah Koko. Oke manusia ini mungkin akan menyelamatkan makhluk
bersayapnya pikir Koko.
" Lepaskan kucing
nakal. Lepaskan.. Lepaskan.." Kata manusia itu berusaha melepaskan burung
tak berdosa ini. Oke Koko angkat tangan jika berlawanan dengan manusia, jika
tidak, bisa-bisa ia yang akan babak belur. Andai manusia ini tau bahwa kucing
malang ini begitu lapar.
" Dasar tak punya
hati." Teriak Koko sebelum pergi pada manusia yang sudah membawa burung
tersebut ke pelukkannya. Namun yang di dengar manusia itu sudah pasti hanya
meongan saja.
" Ternyata benar
kau memang tak sehebat kakek dari kakek buyutmu. Jika bertemu kakek dari kakek
buyutmu manusia pasti akan lari terbirit birit, berbanding terbalik dengan mu
yang malah lari jika ada manusia ganas seperti itu." Ejek Nemo.
" Itu sudah hukum
alam anjing Nemo." Ejek Koko tak mau kalah.
" Jangan panggil
aku seperti itu menyebalkan." Balas Nemo kesal sebelum majikannya datang
menjemput Nemo. Koko beristirahat di sekitaran situ. Tertidur sejenak.
Satu jam terlewati,
Koko bangun dari tidurnya karena mencium bau lezat tak jauh dari sana. Koko
mulai mengikuti aroma itu, perlahan bau nya semakin kuat dan lezat
membangkitkan selera makan Koko. Tiba di depan pintu rumah tersebut, Koko
melihat manusia yang memukul nya tadi membawa sepiring makanan lezat. Bau nya
seperti ayam goreng atau... Tunggu dulu apa itu burung yang tadi hampir ia
makan? Ingin memastikan Koko melihat kandang burung tersebut. Benar sekali,
kandang nya kosong tak berpenghuni, samar-samar ia juga mendengar percakapan
manusia itu.
" Ini dia ayam
goreng spesial." Kata manusia itu.
" Dari mana itu?
Kita kan tidak ada persediaan daging ayam di kulkas." Tanya manusia
lainnya.
" Sebenarnya ini
burung di kandang depan, aku sudah niat akan memasaknya, daripada kita
kelaparan kan lebih baik manfaatkan saja yang ada. Tapi tadi hampir saja burung
ini dimakan kucing jalanan itu, namun aku berhasil merebutnya. Sudahlah ayo
dimakan." Kata manusia itu menjelaskan.
" Yaampun dengan
hewan kecil seperti ku saja tak mau mengalah dan berbagi. Dasar manusia
terkadang serakah." Ucap Koko menggelengkan kepalanya heran.
Tamat
“ Kiki
si Owen “
Langit
panas sudah berganti menjadi sejuk, yang berarti rombongan anak sekolah sudah
selesai dari kegiatan menimba ilmu mereka. Begitupun dengan Kiki anak lelaki yang
berumur 14 ini dan juga grupya, yang sudah bersiap untuk pulang. Mereka mulai
menyusuri jalanan sambil menikmati eloknya langit senja ditambah obrolan ringan
mereka semakin menambah kehangatan sore ini.
" Heii Ki jika
disuruh memilih kau mau jadi tokoh siapa di film?" Kata Pio membuka
percakapan dengan bertanya kepada Kiki.
" Emm sudah pasti
aku ingin jadi Owen yang ada di film Jurassic World itu atau mungkin Spiderman."
Jawab Kiki sambil menirukan gaya menembak jaring ala pahlawan laba-laba itu.
" Kalau aku sih
ingin jadi Holmes sang detektif keren itu di film Sherlock
Holmes." Tambah Leo.
" Aku ingin jadi Black
widow saja dia gaya bertarungnya sangat keren dan rambut cepaknya itu loh
mantap." Ucap Dardo polos. Kiki, Pio dan Leo hanya bisa menepuk dahi
mendengar ucapan Dardo.
" Dardo kan sudah
ku bilang Black widow itu rambut nya tidak cepak, dia itu perempuan
bukan laki-laki." Ucap Leo frustasi. Pasalnya Dardo masih saja menganggap
pahlawan itu laki-laki. Mendengar penuturan Leo, Dardo hanya mengangkat bahunya
tanda tak peduli.
" Ahh... Aku
ingin sekali bisa masuk ke dunia film kesukaan ku, sepertinya akan keren sekali
apalagi saat aku berlarian dikejar para dinosaurus itu mantapp." Tutur
Kiki membayangkan bagaimana jika ia berada disana."
" Kau yakin? Jika
di film sih memang terlihat keren tapi jika kita benar-benar ada disana pasti
sangat mengerikan. Ihhh aku tak bisa bayangkan. Aku yakin kau akan
menyesal." Balas Leo.
" Tidak akan aku
pasti bisa menghadapinya aku kan hebat." Sombong Kiki. Di tengah obrolan,
tak terasa sudah waktunya mereka harus berpisah di persimpangan jalan. Mereka
pun pulang ke rumah nya masing-masing.
Sesampainya di rumah
Kiki langsung berganti pakaian dan mulai mengerjakan pr. Sejam sudah terlewati,
pr pun sudah selesai dikerjakan, dan sudah waktunya Kiki pergi ke alam bawah
sadar.
Kringggggg..... Jam
sudah menunjukkan pukul 06.30. Yang artinya Kiki harus segera bersiap-siap
untuk berangkat ke sekolah. Mandi sudah. Sarapan juga sudah, yaps waktunya
berangkat. Cekrek.. Engsel pintu dibuka, namun betapa terkejutnya Kiki melihat
pemandangan sekitarnya saat ini. Pohon-pohon besar, aliran sungai, dan tanaman
aneh masuk indra penglihatannya. Kemana perginya rumah yang lain? Pikir Kiki.
" Apa yang
terjadi? Kenapa semuanya berubah? Wow tapi ini keren sih seperti lagi dimana
gitu." Kata Kiki kagum melihat keadaan nya berubah drastis. Penasaran Kiki
mulai menyusuri hutan itu, mungkin saja ada sesuatu yang ia temukan mengenai
semua yang terjadi.
Sudah cukup jauh Kiki
mengitari tempat asing ini, namun belum menemukan apapun. Ia hanya melihat
tumbuhan aneh sejak tadi. Pegal yang dirasakan Kiki, lalu ia memilih istirahat
sejenak menetralkan pergelangan kakinya. Disela pejaman mata Kiki, ia merasa
tanah yang dipijaki bergetar. Kiki mulai panik.
Bertubuh besar,
pijakan yang kokoh, gigi-gigi tajam dimiliki hewan purba yang saat ini berada
tak jauh dari Kiki. Jantungnya berdegup kencang tak percaya apa yang dilihat.
Tanpa aba-aba Kiki mulai lari menjauh dari T-rex itu jika tidak bisa-bisa ia
jadi santapannya seketika.
" Yaampun aku tak
percaya ini." Kata Kiki di tengah lariannya. Sangat disayangkan gerakan
kaki Kiki tak secepat dari sang T-rex. Melihat pergerakan kecil Kiki makhluk
bergigi tajam itu mengejar, berusaha menyantap tubuh mungil lelaki berusia 14
tahun ini. Ketakutan yang dirasakan Kiki. Ini buruk.
" Buruk.. Buruk..
Buruk.." Ucap Kiki mulai menangis dirinya takut setengah mati. Tak jauh ia
melihat batang kayu besar yang cocok menjadi tempat persembunyian. Ia masuk
kedalamya. Helaan napas kasar keluar dari hidung dan mulut Kiki, berusaha
menetralkan napasnya yang sudah tak beraturan. Belum juga netral guncangan
terjadi pada batang ini. Diangkatnya keatas. Kiki terjatuh rasa sakit seketika
menjalari tubuh kecilnya. T-rex itu mendekat berlari kearah Kiki yang pasrah.
" Semoga ada
keajaiban, keajaiban datanglah pada anak malang ini." Begitu permohonan
Kiki melihat gigi-gigi tajam T-rex dari jauh.
Doa Kiki dengan cepat
terkabul, T-rex itu berhenti karena serangan tiba-tiba dari tiga raptor ke tubuh
besar makhluk itu. Pertarungan sengit pun terjadi diantara para pemangsa. Tiga
raptor itu terus menerus menggigit tubuh besar sang T-rex, tak mau kalah
makhluk itu juga berusaha mengalahkan ketiga raptor. Menggigitnya lalu melempar
ke sembarang arah. Kiki pun sedari tadi menonton pertarungan mereka bukannya
melarikan diri.
" Wow.. Ayo Blue,
Charlie, Echo hajar terus T-rex itu." Sorak sorai Kiki disela pertarungan
sengit. Kiki merasa melihat raptor itu seperti tiga raptor yang ada di Jurassic
world. "Mereka sudah menolongku, apa aku terlihat seperti Owen saat
ini? Makanya raptor itu menyelamatkan ku, wahh hebat sekali. Sayangnya disini
tidak ada cermin jadi tak bisa melihat betapa kerennya diriku saat ini."
Pikiran Kiki mulai tak tentu arah, bisa-bisanya dia memikirkan hal semacam itu
disituasi genting.
Pertarungan selesai.
Sang T-rex kalah dari para raptor. Keren-kerenan Kiki hilang saat raptor itu
mendekat. Rasa takut dan panik kembali menghingggapi tubuh Kiki. Teringat Owen,
kiki bangkit mulai menirukan gaya pawang raptor itu. Kedua tangan Kiki bergerak
menenangkan para raptor persis yang dilakukan Owen.
" Charlie
diam." Kata Kiki.
" Echo tetap
disitu." Lagi kata Kiki.
" Blue kau juga
teman tetap tenang." Kiki berlagak. Ketiga raptor juga seakan menuruti
perintah Kiki, diam mengawasi. Tangan Kiki mulai turun dan saat itu juga para
raptor ingin menyerang. Kiki langsung lari terbirit-birit. Yang penting ia
sudah tau rasanya jadi Owen bagaimana, begitu benak Kiki.
Lebih berbahaya dari
T-rex, raptor ini larinya lebih cepat dua kali lipat. Hewan ini mampu berlari
sekitar 64 km/jam. Dengan cepat para raptor mendekat kearah Kiki, ia meloncat
begitu lincah menerjang tubuhnya, hampir saja. Beruntung raptor itu mengenai
tas ransel yang di gendongnya, dengan cepat Kiki melepaskan tasnya. Keringat
dingin mengalir deras. Kiki tak bisa lari lagi, ia berada diujung tebing yang
dibawahnya sebuah laut mungkin tingginya sekitar 100 meter. Buntu.
" Benar kata Leo
ini mengerikan, aku tak mau disini aku mau pulang. Mamah tolong Kiki."
Tangis Kiki pecah, ia benar-benar ketakutan tak tahu harus berbuat apa. Mati
dalam usia muda sangat mengerikan.
Ketiga raptor muncul
lagi dan mendekat siap menyantap bocah malang ini. Kiki harus memilih, meloncat
ke laut dalam atau pasrah saja menjadi makanan raptor. Namun dengan cepat Kiki
memilih meloncat dari atas tebing menuju laut.
Byur.... Sangat dalam
dan gelap. Ayunan kaki dan tangan terus menerus dilakukan untuk mencapai
permukaan. Kiki berpikir pasti disini ada hewan yang lebih menyeramkan dari
T-rex dan raptor tadi. Benar saja, seketika dasar laut semakin gelap. Kiki
melihat makhluk yang luar biasa besar, lebih besar dari paus.
Megaldon, hiu raksasa
yang panjangnya sekitar 18 meter, makhluk ini menjadi predator terbesar dan
terkuat pada masanya. Oke ini super buruk, ia tak akan bisa mengindar dengan
cepat jika di dalam air begini, bernapas saja sulit. Kiki tetap berusaha
berenang dengan jantungnya yang berdegup tak karuan. Megaldon itu berenang
dengan cepat memangsa makhluk lain dibelakang sana. Giginya setajam mesin
pemotong, sangat ganas. Situasinya berbeda Kiki sedang tidak di daratan, ia tak
bisa berlari. Kiki menoleh memastikan jaraknya dengan Megaldon itu, namun
betapa terkejutnya hiu besar ini sudah siap menerkam, mulutnya terbuka lebar menampakkan gigi nya
yg tajam ditambah gerakan cepatnya.
"Tidak......"
Batin Kiki berteriak, gelembung keluar dari mulutnya. Happ... Kiki termakan,
masuk sudah kedalam sana mengenaskan.
"
Hahhhhhhh....." Teriak Kiki, keringat dingin menyelimuti tubuhnya. Napas
yang tak beraturan terdengar. Jantung berdetak kencang tak berirama. Kiki
terbangun.
Dan ternyata itu semua
hanya mimpi. Mimpi yang buruk...
Tamat
Uang Bukan Segalanya
Di era modern ini kehidupan sudah banyak berubah. Teknologi maju
dengan pesat. Manusia berlomba memborong alat paling canggih yang sedang nge-tren
saat itu juga. Entah itu smartphone, komputer, televisi, kendaraan atau
mesin cuci. Namun kekuasaan teknologi masih dikalalahkan oleh selembar kertas
bernominal, tak lain dan tak bukan adalah uang.
Uang sudah menjadi segalanya bagi manusia. Dengan uang
mereka merasa bahagia, bisa membeli dan melakukan apa saja yang mereka mau.
Bahkan lucunya kekuasaan, jabatan, dan nilai pun bisa dibeli dengan mudahnya.
Cukup dengan uang mungkin kau bisa menguasai dunia.
Toni lelaki remaja ini ingin sekali seperti orang-orang di
luar sana, dengan mudahnya membeli kendaraan dan peralatan canggih. Namun apa
daya, Toni berbeda dari para jutawan itu. Ia kalangan bawah, untuk makan enak
saja susah nya minta ampun. Menyedihkan.
" Kapan aku bisa bersanding dengan para jutawan itu ya?
Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Belajar sungguh-sungguh saja sekarang tidak
ada gunanya lagi. Huhh teman-temanku yang tak begitu pintar bisa mendapat nilai
tinggi hanya dengan uang. Memang dunia sudah berubah menjadi lebih kejam."
Toni pasrah dengan keadaannya saat ini. Harapan terakhirnya sudah pergi. Sudah
miskin tambah miskin.
" Jika saja ada keajaiban yang datang padaku, tiba-tiba
satu milyar jatuh dari langit gitu bisa tidak ya?" Lamunan Toni dibuyarkan
begitu saja oleh sahabatnya Efan.
" Ngaco kamu, siapa juga yang mau menjatuhkan uang sebegitu
banyak nya."
" Siapa tahu kan, aku hanya berkhayal saja apa salah?"
" Ya.. Ya terserah kau sajalah, aku sudah lelah melihat
tingkahmu yang begini." Efan berlalu meninggalkan Toni bersama lamunannya.
Sampai larut malam Toni memikirkan apa yang harus dilakukan
agar hidupnya berubah. Dan lamunannya terhenti begitu saja ketika melihat buku
sekolah nya bersinar terang. Toni terkejut bukan main melihat bukunya seperti
lampu pijar. Dengan hati was-was ia mendekati buku itu untuk melihat lebih
jelas apa yang ada didalam bukunya sampai bisa seterang itu?
" Aduhhh.. Bismillah deh semoga bukan alien yang
tiba-tiba muncul melewati dimensi buku ku." Perlahan Toni membuka buku
tersebut, matanya memicing sambil menjauhkan tubuhnya, karna jika itu alien ia
bisa kabur dengan mudah.
Tumpukkan kertas telah terbuka sempurna. Cahaya terangnya redup
seketika, kegelapan kembali datang. Toni mengedipkan matanya yang masih berkunang
akibat hilangnya cahaya secara tiba-tiba. Dirasa sudah membaik ia mendekat
melihat apa yang terjadi, begitu terpananya Toni ketika melihat pena berwarna silver
dengan ukiran unik di bagian tengah bukunya. Indah dan kuno.
" Wow pena ini bagus sekali, pasti harganya mahal. Sisinya
berkilauan seperti emas putih kerenn." Kekaguman lelaki ini berhenti
ketika melihat sebuah tulisan.
Gambarlah tiga hal yang anda inginkan dan keajaiban akan
terjadi.
Pikirkan dengan baik pilihanmu jangan sampai menyesal...
Peringatan :
Jika anda sudah menggambar tiga kali otomatis pena ini
akan menghilang.
" Pena ajaib ternyata. Hmmm okee apa ya yang aku
inginkan?" Toni berpikir sejenak.
" Oh ya tentu saja aku akan menggambar uang. Ehh tapi pena
ini hanya punya tiga kesempatan saja, jika aku hanya menggambar selembar uang disetiap
kesempatan berarti aku hanya mendapatkan tiga lembar saja dong, itu tidak cukup.
Padahal kan ini kesempatan langka, tak boleh disia siakan." Toni berpikir
bagaimana agar ia bisa mendapat banyak uang dari tiga kesempatan itu. Beberapa
menit kemudian ide pun muncul.
" Ah iya aku harus menggambar tumpukkan uang, dengan begitu
aku akan kaya. Ide bagus."
Remaja ini langsung mengeluarkan teknik menggambarnya yang brilliant.
Ia menggambar tumpukkan uang yang begitu tinggi. Tak lama lagi Toni si
miskin akan berganti nama menjadi Toni si jutawan muda.
Srekk.. Srekk..
Tumpukkan uang keluar dari kertas gambar menyembur tubuh
Toni. Limpahan uang seketika memenuhi lantai kamar. Berhamburan kemana-mana.
" Hhuuuu akhirnya aku jadi jutawan.. Akan aku kuasai dunia
ini. Hahaha." Tawa Toni menggema bersama
suara uang berserakan.
Hari demi hari Toni lewati menjadi jutawan baru, ia begitu
dermawan suka memberi orang-orang miskin makanan dan pakaian gratis. Sahabatnya
Efan pun bahagia dan tak menyangka keajaiban memang ada, Efan pun percaya tidak
ada yang tidak mungkin di dunia ini.
" Aku bangga melihatmu begitu dermawan kepada mereka, aku
kira setelah menjadi jutawan kamu akan bersikap sombong." Ucap Efan
menepuk bahu sahabatnya.
" Mana mungkin aku sombong, aku kan pernah merasakan
apa yang mereka rasakan." Efan tersenyum melihat sahabatnya bersikap
seperti ini.
Namun adegan itu hanya sesaat saja, sampai uangnya habis.
Toni mulai menggambar tumpukan uang kedua, dengan begitu kesempatannya hanya
tersisa satu. Sikap Toni berubah, ia tidak pernah lagi memberi makan orang
miskin. Perlakuannya jadi sombong, ia juga mulai berani menyogok guru supaya nilainya
bagus, padahal memang tanpa uang juga Toni sudah pintar. Efan bingung dengan sikap
Toni, ini bukan Toni, mata, hati dan pikirannya sudah dikotori oleh uang.Toni jadi
bersikap seenaknya pada semua orang bahkan pada Efan juga. Namun Efan hanya diam
saja, mungkin pikir Efan sikap ini juga hanya sesaat. Semoga.
" Ahhh kenapa uang ku jadi cepat habis begini sih? Aku
harus menggambar lagi tumpukkan uang yang lebih banyak dari sebelumnya." Sungut
Toni langsung menggambar tumpukkan uang yang lebih banyak.
Benar saja kesempatan terakhir Toni tak ia sia-sia kan, uang
nya meningkat 5 kali lipat dari sebelumnya. Toni saat ini sangat kaya raya. Dan
tak lupa juga, dirinya semakin sombong.
Sebulan setelah kelulusannya dari sekolah, Toni memikirkan
cara apa yang harus ia lakukan agar terus menjadi kaya. Cring.. Ide gila
muncul. Toni berencana membeli kekuasaan di pemerintahan kota. Ambisi nya
memang ingin menguasai dunia kan?
" Terima kasih pak sudah bekerja sama dengan saya. Akan
saya bantu memimpin pemerintahan kota agar selalu sejahtera."
" Tentu saja Toni, saya juga senang bermitra dengan
anak muda cerdas sepertimu."
Percakapan pun diakhiri dengan bersalam diantara keduanya.
Melihat tingkah laku sahabatnya itu Efan sudah tak kuat, ia
bingung harus berbuat apa. Pikiran dan hati Toni sudah keras, indra di tubuhnya
sudah ditutupi sempurna oleh kertas bernominal itu. Tak ingin sahabatnya tersesat
lebih jauh, Efan memberanikan diri untuk berbincang dengan Toni.
" Ton bagaimana kabarmu?"
" Oh kau tidak lihat setelan jas mahalku Fan? Tentu
saja aku sangat bahagia, hidupku sekarang sempurna." Sombong Toni sambil
memegang jas ber-merk nya.
" Aku senang jika kau bahagia Ton. Oiya kenapa kau tidak
mendatangi anak-anak di pinggir kota lagi? Mereka merindukan mu tahu."
" Untuk apa aku mendatangi mereka, tak pantas lah jas
mahalku ini harus bersanding dengan baju kotor mereka."
" Benar ternyata kau sudah berubah Ton, padahal kau
tahu kan mereka sangat menyayangi mu. Uang sudah mengontrol dirimu. Aku kecewa
sekali kau bukan sahabat ku yang dulu, aku tidak mengenali dirimu yang
sekarang."
" Haha lucu sekali ucapanmu, sudahlah toh aku juga
tidak membutuhkan kasih sayang dan cinta kalian sudah pergi saja sana, aku
sibuk." Ucap Toni bangkit dari duduknya.
" Tunggu kau ini egois sekali, aku ingatkan kau tak
akan bisa bahagia dengan dirimu yang sekarang. Kau seharusnya bersyukur ada yang
menyayangimu dengan tulus."
" Ahh aku bisa beli kebahagiaan sebanyak yang aku mau,
dan lagi kasih sayang juga bisa kubeli, kamu tidak usah khawatir. Sepertinya
kau meremehkan isi kantongku Fan. Ah sudah dah aku pergi." Toni bergegas
meninggalkan Efan.
Sekitar 6 bulan Toni putus hubungan dengan Efan dan anak-anak
di pinggir jalan itu. Ia punya teman baru sekarang di kantor pemerintahan. Anak
muda ini selalu dimanfaatkan oleh orang-orang disana. Bertopeng itulah sifat para
petinggi.
Perlahan namun pasti. Keadaan Toni memburuk, uangnya semakin
menipis saja di brankas pribadinya. Ia juga terancam di pecat di pemerintahan
kota karena kinerja nya yang menurun. Teman-teman petingginya menjauhi Toni,
dan beralasan jika Toni ingin meminjam uang padahal teman-temannya itu lah yang
dulu lebih suka meminjam uang pada Toni. Ia tidak bisa lagi menggambar tumpukkan
uang, penanya sudah menghilang saat ingin mencoba yang keempat kalinya. Ludes,
hilang, kosong. Ia sangat merindukan Efan dan para anak di pinggiran kota. Sudah
Toni mencari mereka tapi tak pernah terlihat sedikit pun batang hidungnya. Toni
kembali ke keadaanya semula, bahkan lebih parah, ia tak punya siapa-siapa saat
ini. Sendiri.
Layar besar menyala di tengah kota. Siaran dari berbagai
acara ditampilkan di layar itu. Sudah satu tahun setengah hidup Toni luntang-lantung
dijalanan mencari sahabatnya yang entah berada dimana. Toni menunduk menyesali
perbuatannya dulu.
" Aku sangat bodoh, aku sudah di kontrol oleh kertas
ituu." Tunduk Toni menangis di keramaian tengah kota.
Halo sahabat ...
Mata Toni membelalak lebar mendengar suara Efan. Sudut
matanya menjelajahi ke sekitar tapi tak menemukan sosok sahabatnya.
Kali ini aku akan menyampaikan hal apa saja yang tidak bisa
kita beli dengan uang..
Layar besar itu ternyata menampakkan sosok Efan, ada di
iklan.
Ada beberapa hal yang tidak bisa kita membelinya dengan
uang.
Satu. Harapan
Dua. Talenta
Tiga. Pengetahuan
Empat. Kenangan
Lima. Kebahagiaan
Enam. Cinta dan yang terakhir
Tujuh. Persahabatan
Jangan lupa akan hal itu, supaya kalian tidak menyesal
dikemudian hari..
Salam pagi...
Melihat iklan singkat itu Toni jadi menyadari tak semua bisa
dibeli begitu saja dengan uang. 7 hal tersebut hanya bisa kita beli dengan hati
kita masing-masing. Uang bukan segalanya. Seketika ia berpikir memang benar
uang bisa membuat seseorang bahagia namun tak dapat di pungkiri juga ia bisa
merenggut kebahagiaan seseorang secara tiba-tiba.
Karena dengan uang manusia juga bisa saling menyakiti. Uang adalah
senjata di era modern ini tanpa kita sadari.
Tamat..
Cerpen 12
Balon Kenangan
Taman tengah kota. Tempat penuh kehangatan yang selalu menjadi
destinasi kesukaan seorang pria paruh baya dan juga cucunya. Langit senja
seakan menjadi saksi bisu bagaimana erat hubungan antara si tua dan si muda
ini. Menikmati hamparan danau, duduk di luasnya rumput hijau disertai jilatan
es krim coklat menjadi penutup hari itu, dan juga menjadi awal terbukanya
kenangan lama bagi Kakek Gori.
" Yeyy Boni habis duluan, kakek kalah huhu." Boni
mengangkat kedua tangan tanda es krim sudah lenyap masuk kedalam perut gembul
nya.
" Boni curang kakek kan tidak suka es krim coklat, pertarungan
ini tidak sah."
" Kakek kan sudah sering menang, sekarang Boni yang
ingin menang habisnya dari kemarin kakek terus. Karena kakek kalah maka kakek
harus menceritakan sebuah kisah pada Boni. Kakek sudah janji kan?" Ucap Boni.
" Baiklah kakek kalah, sini dengarkan baik-baik cerita
ini ya." Sebelum bercerita kakek tak sengaja melihat tukang balon di sudut
kursi taman.
" Tapi syaratnya kamu harus beli balon itu untuk mendengar
cerita kakek." Kata kakek sambil menunjuk.
" Hah untuk apa kek? Aku tidak suka balon."
" Nanti juga kau akan tahu Bon, hitung-hitung sebagai
bayaran untuk cerita kakek."
Boni menuruti perintah sang kakek demi bisa mendengar sebuah
cerita, pasalnya Kakek Gori tak pernah sekali pun membagi sebuah kisah pada
sang cucu berbeda dengan nenek nya. Tak lama kakek mulai bercerita.
***
Suatu hari ada
seorang bocah lelaki berusia 10 tahun. Ia tidak mempunyai teman karena bocah
ini begitu sombong, selalu merasa dirinya paling pintar diantara teman
sebayanya. Sendirian bukan masalah besar, ia memang lebih suka di temani buku ilmiahnya
dibandingkan bermain atau berbincang dengan para bocah ingusan yang hanya tau
bermain saja. Dia bernama Giri, bocah yang dikenal dewasa terlalu cepat. Tapi
tenang saja walaupun ia bersikap dewasa, tetap saja ia masih bocah berusia 10
tahun. Giri sangat menyukai balon, entah apa alasannya, ia hanya menyukai bola
terbang itu apalagi jika berwarna warni. Menurutnya itu indah.
Pada tahun ajaran
baru, kelasnya dikejutkan dengan adanya murid baru. Para murid saling berbisik
saat murid baru itu masuk pertama kali kedalam kelas. Pasalnya murid ini berbeda
dari yang lain, bukan seperti Giri yang dewasa terlalu cepat, melainkan wujud
fisiknya yang kurang sempurna. Ia hanya memiliki satu kaki, kaki satunya
memakai kaki palsu plastik, tak hanya itu mata kanan nya juga tertutup entah
kenapa. Dia bernama Pati. Giri yang melihatnya pun ikut prihatin dengan kondisi
Pati, namun ia tak peduli.
Akhirnya Pati menjadi teman sebangku Giri. Giri menerimanya terpaksa.
Disinilah semuanya ber-awal.
" Hai aku Pati." Pati menyodorkan tangan kanan nya
bermaksud berkenalan. Namun Giri tak mempedulikannya.
" Aku tahu!" Ucap Giri acuh menghiraukan salaman
Pati.
" Emm kalau boleh tahu siapa namamu?"
" Giri!" Hening sejenak.
" Apa kau tak keberatan jika aku duduk sebangku dengan
mu?" Ucap Pati memastikan, jika Giri keberatan Pati akan pindah ke tempat
duduk yang lain.
" Kamu ini banyak tanya sekali! Keberatan atau tidak toh
kamu akan tetap duduk disini! Diamlah dan perhatikan saja bukumu." Pati
yang mendengarnya pun langsung terdiam tak ingin menganggu lagi.
Seminggu berlalu, Giri masih asyik dengan kesendiriannya
begitupun dengan Pati, ia juga tak mempunyai teman, padahal ia suka sekali
menyapa setiap orang, tersenyum, membuka obrolan, namun nihil para
teman-temannya malah menjauhi Pati, ejekan terus masuk indra pendengarnya.
" Kamu tidak usah berteman dengan kami, aku tak mau mempunyai
teman yang bisanya menyusahkan saja. Sana pergi!" Ucap Bob pada Pati yang
berusaha berteman.
Giri yang mendengar nya hanya diam saja, sudah ia duga pasti
Pati tidak diterima oleh teman-teman dengan kondisi fisik yang kurang sempurna.
Biasa anak-anak pikirannya masih kalang kabut.
Perlahan Pati mulai mendekati Giri, sering mengajaknya
berbincang walaupun tak didengar, selalu tersenyum walaupun tak di balas, selalu
membantu walaupun tidak bilang terima kasih. Lagi walaupun begitu Pati tetap
berusaha mengambil hati Giri untuk bisa berteman dengan nya. Namun hanya dari satu
ajakan dari Pati perlahan hati Giri mulai meleleh, mulai terbuka.
" Giri kau tahu besok di dekat rumah ku ada festival
loh, aku ingin sekali kesana tapi kalau aku pergi sendirian pasti membosankan
sekali kan... Wahhh pasti akan sangat seru jika ada yang menemaniku iya tidak Gir?"
Giri sudah tau apa maksud ucapan Pati, tentu saja ia
berharap Giri mau pergi ke festival dengan nya. " Hmm jadi?" Jawab
Giri cuek.
" Emmm mau tidak kamu menemaniku Gir? Mau yaa aku
mohon.."
" Aku tidak suka ke festival, buang-buang waktu!"
" Ah tentu saja kamu tidak akan mau, kamu pasti akan
merasa malu kan berjalan dengan teman cacat sepertiku. Hmmm padahal itu festival
balon yang kutunggu tunggu." Pati hanya pasrah, lagian Giri tidak akan mau
kan?
Mendengar festival balon, Giri berubah pikiran. Pasalnya ia belum
pernah pergi ke festival dan ingin sekali pergi kesana. Mungkin ini sebuah kesempatan.
" Untuk menghilangkan pikiran jelek tentang diriku,
baiklah aku akan menemanimu ke festival itu." Jawab Giri.
" Yeyyyy terima kasih Giri."
Festival itu menjadi pintu gerbang persahabatan Giri dan Pati.
Ternyata keduanya begitu menyukai balon. Giri juga bukan Giri yang biasa lagi,
ia Mulai terbuka secara perlahan, walau hanya kepada Pati. Tapi hey itu sebuah
kemajuan bukan?
Pati selalu di bully para siswa, namun sekarang Giri
lah yang melindungi Pati. Pernah sekali Giri melihat Pati sedang di jahili oleh
Bob dan para teman nakalnya, wajah Pati saat itu memar, matanya yg tertutup itu
bengkak, Si Bob melepaskan kaki palsu Pati lalu menyembunyikan nya di gudang sekolah.
Melihat keadaan sahabat barunya tertindas Giri meluncur menghentikan aksi bocah
ingusan itu. Belajar dari mana mereka menindas orang, umur masih 10 tahun sudah
berani melakukan tindakan hina.
" Pati kenapa kamu diam saja, lawan jika mereka melakukan
penindasan kepadamu! Kau buktikan pada mereka fisik seorang yang kurang sempurna
juga tak kalah! Jika kamu diam terus mereka tidak akan berhenti!" Giri
marah pada Pati karena diam saja saat ditindas Bob. Bukannya sedih Pati malah
tersenyum.
" Akhirnya kamu mengkhawatirkan aku."
" Ti..tidak aku hanya tak suka saja orang yang suka
menindas." Giri gelagapan, akan malu sekali kalau diam-diam ia
mengkhawatirkan Pati. " Ah sudahlah!"
Sudah satu tahun mereka bersama, dan akhirnya Dua bocah
lelaki berbeda ini meresmikan persahabatan mereka, balon menjadi saksi dan
simbolnya. Giri menyimpan balon biru yang bertuliskan si abnormal dan
Pati menyimpan balon biru juga bertuliskan si normal.
Hari ini festival balon akan ada lagi, tahun sekarang menjadi
tahun keempat. Kalau diingat tahun kemarin menjadi awal perasahabatan Giri
dengan Pati. Tapi kalau sekarang apa ya?
Mereka pergi membawa balon pertemanan menuju festival.
Setelah asyik berjalan, keduanya memilih berdiam di rooftop menikmati
keindahan balon berwarna warni yang beterbangan.
" Aku tak menyangka bisa punya sahabat sepertimu Pat.
Padahal aku ini orangnya individualis sekali." Kata Giri.
" Apalagi aku.. ku kira tidak ada yang mau berteman
dengan bocah cacat seperti aku ini. Kamu tahu aku sangat senang saat kau memarahi
ku waktu itu, aku bisa melihat dari kemarahanmu itu di dalam nya ada ke khawatiran.
Terima kasih sudah melihat ku selama ini sebagai bocah normal. Terima kasih
sudah menerima aku apa adanya, dan terima kasih lagi sudah mau menjadi sahabat
ku. Semoga persahabatan ini tak akan berakhir ya." Tak disangka bocah yang
sudah berumur 11 tahun ini menangis.
" Hey ayolah lelaki tidak boleh menangis hanya dengan
hal ini kan? Sudah hapus ingusmu itu." Giri terlihat tak suka tapi
perlahan mulutnya tersapu keatas. Giri tersenyum. " Hey berjanjilah jangan
tinggalkan si bocah dewasa ini oke!" Kata Giri.
" Haha tentu saja aku berjanji." Mereka bersalaman
dan berpelukkan seperti pria dewasa. Giri yang mengajarinya.
Angin kencang tiba-tiba saja datang membuat balon yang di
genggam Giri terlepas. Sial.
" Oh tidakk balonku." Giri berlari mengejar balonnya.
Gawat sekali jika balon persahabatannya hilang.
Pergerakkan Giri terhenti saat balon nya tersangkut di tiang
yang tak terlalu tinggi memang, tapi mengingat kondisinya sedang berada di rooftop
saat ini, sama saja sangat tinggi.
" Biar aku saja yang ambil Gir, ini aku sudah bawa
tangga. Kamu tunggu saja disini oke." Tawar Pati.
" Apa tidak itu berbahaya, sudah biarkan saja balon itu
toh kita kan bisa membelinya lagi dan menulis namanya lagi kan." Giri punya
firasat tak enak.
" Balon itu tidak bisa digantikan Gir, aku harus
mengambilnya, kau tenang saja tidak akan terjadi apa-apa kok." Pati mulia
menaruh tangga nya, dan bersiap naik.
" Kau nekat Pat jangan lakukan itu." Teriak Giri.
Perasaan nya semakin gelisah.
Pati mulai naik satu persatu pijakan, tak lama ia mulai meraih
balon itu. Dan dapat.
" Lihat Gir sudah ku bilang kan tak akan apa-apa."
Pati berteriak sambil memegangi balon bertuliskan si abnormal .
" Ya sudah cepat turun dari situ, pelan-pelan!" Teriak
Giri. Perasaan gelisah nya mulai menghilang ketika Pati mulai turun secara
perlahan.
Namun naas perasaan itu hanya bertahan sesaat. Di pijakan ke
6 Pati terpeleset, tangganya bergoyang tak seimbang. Pati tak bisa menahan tangga
itu. Perlahan tangga nya mulai jatuh kearah kanan yang langsung menghadap
kebawah sana.
" PATI TIDAKK.." Teriak Giri, melihat Pati perlahan
jatuh dari atas rooftop ini.
Pati jatuh dari ketinggian 70 meter, balon yang Pati ambil
terbang begitu saja. Naas nyawa Pati tak tertolong, ia meninggal saat di
perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan banyak darah.
Giri tak bisa apa-apa, hatinya sakit dan hancur. Deraian air
keluar dari kedua mata Giri. Baru saja ia mendapatkan teman terbaik namun tak bertahan
lama sahabatnya meninggalkan Giri begitu saja. Sendiri. Ia masih tak percaya
kemarin adalah hari terakhirnya bersama Pati, teman yang sudah merubah dirinya
perlahan.
" Pati padahal kau sudah berjanji akan menjaga
pertemanan ini kan, kau bohong Pat.. Kau bohong.. Hiks.. Hiks.." Giri tak
kuat menahan tangisannya di depan makam Pati. " Aku tak akan pernah melupakan
mu Pat, kau dengar ini, Kamu adalah sahabat terbaik ku. Kau sangat sempurna
Pat, kebaikan, ketulusan, dan ke ikhlasan hatimu membuat mu lebih sempurna di
bandingkan fisik ku Pat."
Ikhlas itu yang berusaha Giri tanamkan di dalam hatinya.
Sebelum pergi ia menaruh balon biru di batu nisan Pati sebagai tanda keabadian
persahabatan mereka.
***
" Hiks..hiks..hikss.. Cerita kakek sedih sekali, semoga
Pati bisa tenang di alam sana ya kek." Ucap Boni setelah selesai
mendengarkan cerita Kakek Gori.
" Apa kau mau menemui Pati, Boni?" Tawar kakek Gori
pada cucunya.
" Tentu saja kek aku mau, aku ingin mendoakan Pati, ayo
kita kesana sekarang."
Kakek Gori pergi ke makam Pati bersama cucunya Boni.
Sesampainya disana Kakek Gori melihat keadaan balon yang iya taruh puluhan
tahun lalu, sudah rusak hanya potongan-potongannya saja yang tersisa. Ya yang
diceritakan Kakek Gori pada Boni adalah kisahnya, ia tak kuasa mengingat kejadian
dulu. Namun sekarang Kakek Gori sudah ikhlas, iya yakin Pati pasti sudah tenang
di alam sana. Dan sebelum pergi Kakek Gori dan Boni menaruh dua buah balon
berwarna biru di sisi kanan dan kiri batu nisan Pati yang bertuliskan si
normal dan si abnormal pada masing-masing balon. Simbol tanda persahabatan
mereka.
Bagi kakek Gori balon sangatlah bermakna. Balon menjadi
pusat kebahagiaan sekaligus pusat kesedihan bagi kakek Gori. Kisah membahagiakan
dan mengharukan ada di dalamnya.
Tamat...
Komentar
Posting Komentar