Cerpen karya Bunga Ayu Amalia


Selamat Datang Cerita Baru!
                                  Karya : Bunga Ayu Amalia
Pagi ini aku bangun dengan muka riang. Bukan. Itu bukan karena saat tidur aku mimpi indah. Tapi karena aku sangat senang hari ini. Kemudian aku melangkahkan kaki menuju cermin persegi panjang yang terpasang di pintu lemari. Aku melihat seseorang di kaca itu. Benar, orang itu aku! Kemudian aku tersenyum penuh harapan di hadapan cermin itu. Senyumku ku akhiri, lalu aku membalikan badan dan melangkah menuju kalender yang tergantung di dinding tepat sebelah pintu. Kalender itu masih menunjukkan Bulan Desember Tahun 2017. Kemudian aku mengambil kalender yang baru dari laci meja belajarku. Lalu ku copot kalender tahun 2017 itu dan kupasangkan  kalender tahun 2018 di dinding sebelah pintu itu.
            Hemm, tidak terasa sekarang sudah tanggal 1 Januari 2018. Saking betahnya aku di dunia hingga lupa bahwa umur dunia sudah semakin tua. Aku mencari sesuatu ditumpukan buku-buku yang tersimpan rapih didalam lemari yang berada di atas meja belajar. Buku itu kemana? Aku kaget karena  buku itu memang tidak ada dalam tumpukan buku lainnya. Aku mulai khawatir. Khawatir  bila buku itu sekarang sedang ada di tangan orang lain. Aduh gawat! Karena dalam buku itu segala tentangku ada.  
            Jam menunjukkan baru pukul setengah tujuh. Tapi masa aku harus awali pagi pertama ku di 2018 ini dengan sebuah keresahan? Ah aku tak mau. Untuk kali ini aku hanya inginkan buku itu. Buku itu tak ada yang lain!  Harus aku cari kemana lagi? Semua tempat di kamarku telah aku geledah. Namun masih tetap tak ada. Buku engkau dimana? Aku putus asa mencari buku itu. Aku menangis karena buku itu. Ya buku itu bisa membuatku menangis. Bagaimana tidak, dalam buku itu cerita hidupku tersimpan. Segala kejadian ku tulis dalam dada buku itu. Kehilangan buku itu seperti kehilangan seseorang yang setia menjadi tempat untukku mencurahkan isi hati. Namun dipikir-pikir aku telah menyia-nyiakan waktu jika aku terus menerus menangisi buku itu. Aku seka air mataku  menggunakan tangan dan aku ambil handuk yang menggantung di belakang pintu. Kini aku akan mandi dan bersiap untuk mengahadiri acara kumpul-kumpul teman-temanku.
            Setelah berdandan cantik dan siap berangkat aku keluar kamar dengan penuh pengharapan. Harapan bahwa aku akan bisa memiliki buku itu lagi. Semoga saja! Kini aku sedang berada di ruang makan. Disana sudah terdapat adik yang sedang makan. Saking fokus pada makanannya adikku tak menghiraukan aku yang kini tengah duduk di sampingnya.
            Di sebelah piring adikku, nampak sebuah buku yang aku kenali. Aku ambil buku itu, dan ternyata didepan buku itu tertulis nama “Amalia Fazriansah”. Itu kan namaku dan itu bukuku yang tadi aku cari-cari. Ah kenapa ada di adikku? Nakal sekali adikku ini. Beraninya dia masuk kamarku tanpa sepengetahuanku.
            Saat kutanya mengapa bukuku ada padanya, dia menjawab bahwa buku itu ada di meja makan. Aduh Tuhan, mana mungkin aku bisa lupa begini? Terus kenapa tadi aku nangis-nangis gara-gara buku itu? Aku bodoh!
            Aku tak ingin ambil pusing tentang itu. Kini yang penting buku itu sudah ada di tanganku. Aku mengambil bolpoin di tempat pensil yang berada di meja belajarku. Lalu, ku mulai menulis.
  Diary, sudah lama aku tak menceritakan pengalamanku pada dadamu ini. Maafkan aku diary, aku hanya malas menulis. Eh diary, sekarang udah masuk tahun 2018 lho. Diary, aku berjanji di tahun 2018 ini aku akan memperbaiki semua kesalahanku di tahun 2017 lalu. Aku akan rajin beribadah,rajin mengaji dan akan rajin belajar. Akan menghormat orang tua dan ah banyak sekali. Aku pun akan move on dari si dia yang pernah singgah di hati. Tak akan galau, tak akan sedih lagi. Hahaha, sebenarnya masih banyak keinginanku di tahun ini. Tapi dadamu tak akan cukup untuk menampungnya. Nanti aku tak bisa menceritakan kisah lainku di 2018 nanti deh hehe.”
        Rasanya hati sudah senang sudah bisa curhat kepada diary. Ya meski hanya buku. Kulihat jam yang menunjukan pukul 10.00.  Apa?  Pukul sepuluh? Mati aku, terlambat ini. Dengan tegesa-gesa kuraih tas dan langsung keluar kamar. Mencari kunci motor dan langsung bergegas ke Gasibu. Disana aku diundang untuk menghadiri acara kumpul-kumpul teman-temanku. Sebenarnya sih acaranya jam 09.30. Namun karena aku terlalu nikmat dengan diaryku, hingga aku lupa pada waktu. Ah sudahlah, tak ada waktu untuk menceritakan semua ini. Yang penting kini aku harus segera bergegas agar tak menambah malu.
            Huuuh akhirnya sampai. Ya meskipun telat tak apalah. Teman-temanku tak ada yang marah ini. Singkat cerita, kini acara telah selesai dan aku akan pulang. Namun, temanku tak ada transportasi untuk pulang. Yas udahlah aku bonceng saja. Melihat temanku dibonceng olehku. Temanku yang lainnya ikut naik. Kini motorku menanggung 3 orang deh. Semoga saja tak ada polisi.
            Sial, ternyata polisi sedang terjaga saat itu. Sudah membonceng dua orang, terus keduanya tak di helm pula. Nah kini ini kebodohanku, aku memutar balik motorku. Sudah jelas padahal terdapat rambu dilarang putar balik. Haduuh sudah jatuh tertimpa tangga pula. Resikonya aku harus bertanggung jawab atas semuanya. Malah lupa tak bawa SIM. Mati deh ah. Tapi untungnya polisi itu baik. Ia hanya menasehatiku tentang kesalahanku saja. 
            Aku tiba dirumah. Rasanya aku ingin merebahkan diri ke kasur mungil itu. Tanpa memikirkan apapun. Benar saja, sesampainya dikamar aku langsung melemparkan diri ke kasur dan terlelap diatas kasur itu. Aku terbangun saat seseorang membangunkanku.
            Hah? Apa? Tuhan kenapa harus aku lagi? Kamu tau kenapa aku bisa berkata seperti itu? Ibu menyuruhku untuk membersihkan halaman, mengepel teras rumah dan mencuci motor. Terpaksa  aku harus menuruti perintah ibu. Karena aku sudah berjanji akan menghormati orang tua. Aku ikhlas kok  Ma!
            Maghrib pun datang. Saat Adzan Maghrib berkumandang aku baru selesai mandi. Usai mandi aku shalat lalu mengaji. Setelah itu aku menonton televisi sebentar sembari menunggu Adzan Isya. Setelah Adzan Isya, aku shalat Isya dan setelah itu aku tidur karena kelelahan. Sampai-sampai aku lupa pada makan malam.
            Aku merebahkan diri dan aku bergumam. Awal 2018 ini aku sudah belajar tentang disiplin, taat aturan dan ikhlas dalam melakukan sesuatu. Semoga saja aku bisa menjadi betul-betul manusia di tahun ini. Tak lupa semoga saja Allah memberkahi tahun ini. Amiin.. Setelah membaca do’a sebelum tidur, aku pun perlahan terlelap. Aku siap untuk berpetualang di alam mimpi malam ini.










Komentar